Jumat, 27 June 2014

Hukumnya Menggigit Pipi Pacar Hingga Memar

Hukumnya Menggigit Pipi Pacar Hingga Memar

Pertanyaan

Mohon bantuannya. Salah satu anggota keluarga saya melakukan penganiayaan terhadap pacar/kekasihnya dengan cara mengigit pipi sang kekasih namun tanpa luka dan cacat, hanya memar saja. Anggota keluarga saya itu sudah dilaporkan oleh kekasihnya ke polisi, hukuman jenis dan pasal apakah yang akan diterima oleh anggota keluarga saya? Terima kasih.

Ulasan Lengkap

Terima kasih atas pertanyaan Anda.

 

Sebelumnya, perlu kami tekankan bahwa upaya penyelesaian hukum pidana merupakan "ultimum remidium" yakni sebagai upaya terakhir. Untuk itu, menurut hemat kami, hendaknya pacar salah satu anggota keluarga Anda terlebih dahulu menempuh upaya perdamaian dengan keluarga Anda dengan membicarakan masalah ini secara baik-baik.

 

Mengenai perbuatan menggigit pipi yang dilakukan oleh salah satu anggota keluarga Anda terhadap pacarnya meski hanya mengakibatkan memar. Atas perbuatannya ini, ia dapat diancam pidana atas dasar penganiayaan yang terdapat dalam Pasal 351 ayat (1) KUHP:

 

(1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.

(3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

(4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.
(5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
 

Mengenai penganiayaan dalam Pasal 351 KUHP, S.R. Sianturi dalam bukunya Tindak Pidana di KUHP Berikut Uraiannya (hal. 503-504) mengatakan bahwa unsur kesalahan di sini harus dengan sengaja. Bahkan dapat juga dikatakan bahwa tujuan dari si petindak/subjek melakukan suatu tindakan adalah untuk membuat sakit/luka seseorang. Unsur tindakan yang dilarang adalah menyakiti atau melukai seseorang. Bagaimana caranya tidak ditentukan. Bentuk-bentuk tersebut antara lain adalah: pemukulan, penembakan kaki/tangan, penusukan, pemotongan, penabrakan, penyetruman, penendangan, menggigit, memuntir tangan, dan sebagainya. Cara apapun yang dilakukan harus dengan akibat terjadinya sakit atau halangan untuk melaksanakan kegiatan jabatan atau pekerjaan.

 

Dari sini, kita bisa ketahui bahwa menggigit merupakan salah satu cara yang dikategorikan sebagai penganiayaan. Dalam kasus anggota keluarga Anda, perlu dilihat kembali apakah digigitnya pipi pacar salah satu anggota keluarga Anda itu hingga mengakibatkan pacarnya berhalangan melakukan pekerjaannya sehari-hari atau tidak. Apabila sampai menyebabkan si korban terhalang melakukan pekerjaannya, maka anggota keluarga Anda dapat diancam dengan Pasal 351 ayat (1) KUHP di atas. Penjelasan lebih jauh, simak artikel Perbuatan-perbuatan yang Termasuk Penganiayaan dan Pasal untuk Menjerat Pacar yang Suka Menganiaya Pasangannya.

 

Jika gigitan tersebut tidak menimbulkan penyakit pada korban dan korban tetap dapat menjalankan pekerjaannya, maka hal tersebut merupakan penganiayaan ringan yang diatur dalam Pasal 352 KUHP:

 

(1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian, diancam, sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya, atau menjadi bawahannya.

(2) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

 

R. Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 246), mengatakan bahwa peristiwa pidana ini disebut “penganiayaan ringan” dan masuk “kejahatan ringan”. Yang termasuk dalam pasal ini adalah penganiayaan yang tidak:

a.    menjadikan sakit; atau

b.    terhalang untuk melakukan pekerjaan atau pekerjaannya sehari-hari

 

Misalnya A menempeleng B tiga kali di kepalanya, B merasa sakit, tetapi tidak jatuh sakit dan masih bisa melakukan pekerjaannya sehari-hari, maka A berbuat penganiayaan ringan.

 

Kami akan memberikan contoh kasus jika perbuatan anggota keluarga Anda yang menggigit pacarnya berakibat pada pacarnya tersebut terhalang melakukan pekerjaan. Contohnya dapat dilihat dalam Putusan Pengadilan Negeri Sibolga No. 538/PID.B/2012/PN-SBG, yang mana terdakwa adalah pacar dari saksi korban. Suatu hari dikarenakan cemburu, terdakwa menganiaya saksi korban antara lain dengan cara menjambak rambut, menyeret saksi, menggigit tangan, menonjok atau menampar wajah, bagian dada, lengan kiri dan kanan, meremas atau menarik payudara saksi korban dan juga mencekik leher saksi korban serta menendang perut saksi korban. Akibat penganiayaan tersebut, saksi korban terhalang mengerjakan pekerjaan serta susah berbicara. Karena penganiayaan tersebut berakibat saksi korban terhalang dalam melakukan pekerjaannya, maka Terdakwa didakwa dengan Pasal 351 ayat (1) KUHP. Majelis Hakim memutuskan menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 10 (sepuluh) bulan.

 
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
 
Dasar hukum:

1.    Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;

 
Referensi:

1.    R. Soesilo. 1991. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal. Politeia.

2.    S.R. Sianturi, S.H. 1983. Tindak Pidana di KUHP Berikut Uraiannya. Alumni AHM-PTHM: Jakarta.

 
Putusan:
Putusan Pengadilan Negeri Sibolga No. 538/PID.B/2012/PN-SBG.

  

 

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
MITRA : Bung Pokrol
Tri Jata Ayu Pramesti mendapatkan gelar sarjana hukum dari Universitas Indonesia pada 2011 dengan mengambil Program Kekhususan IV (Hukum tentang Kegiatan Ekonomi). 
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua