Jumat, 22 Juli 2016

Bisakah Peristiwa Kecelakaan Tunggal Diproses Hukum?

Bisakah Peristiwa Kecelakaan Tunggal Diproses Hukum?

Pertanyaan

Apakah kecelakaan tunggal bisa diproses hukum?

Ulasan Lengkap

Intisari:

 

 

Kecelakaan tunggal merupakan kecelakaan yang hanya melibatkan satu kendaraan bermotor dan tidak melibatkan pengguna jalan lain. Kecelakaan tunggal mungkin saja diproses hukum dalam hal pengendaranya memenuhi unsur-unsur pidana dalam UU LLAJ.

 

Penjelasan lebih lanjut dan contoh kasusnya dapat Anda simak dalam ulasan di bawah ini.

 

 

Ulasan

Terima kasih atas pertanyaan Anda.             

 

Kecelakaan Tunggal dan Contohnya

Berdasarkan penelusuran kami, kecelakaan tunggal merupakan kecelakaan yang hanya melibatkan satu kendaraan bermotor dan tidak melibatkan pengguna jalan lain, contohnya: kendaraan menabrak pohon, kendaraan tergelincir, kendaraan terguling akibat ban pecah, dan sebagainya.

 

Seperti beberapa berita yang diinformasikan oleh laman blog Puskominfo Bid Humas Polda Metro Jaya, contoh kecelakaan tunggal antara lain: tergulingnya sebuah mobil di bahu kiri jalan akibat kelalaiannya sendiri atau sebuah mobil yang menabrak dan menancap di tiang beton pembatas jalan.

 

Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (“UU LLAJ”), kecelakaan tunggal termasuk sebagai kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan/atau kerugian harta benda.[1]

 

Bisakah Kecelakaan Tunggal Diproses Hukum?

Sebelumnya, kami asumsikan proses hukum yang Anda maksud di sini adalah proses peradilan pidana, dimana ada suatu peristiwa yang diduga tindak pidana sehingga ada proses hukum yang harus dilalui untuk menjatuhkan pidana terhadap pelaku. Suatu kecelakaan lalu lintas dapat diduga sebagai tindak pidana apabila memenuhi unsur-unsur pasal dalam UU LLAJ tentang kecelakaan lalu lintas, tergantung jenis kecelakaannya. Lebih lanjut simak: Pertanggungjawaban Hukum Dalam Kecelakaan yang Mengakibatkan Kerugian Materi.

 

Namun, bagaimana dengan kecelakaan tunggal? Pertama, bisa saja dalam kecelakaan tunggal tidak ada pelaku dan korban di sini karena kecelakaan itu terjadi murni karena pengendara itu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya -yang saat itu dijabat- Komisaris Besar Polisi Rikwanto dalam kasus kecelakaan tunggal yang dialami Hotman Paris. Dalam artikel Polisi Amankan Hotman Paris Usai Terlibat Tabrakan, Rikwanto mengatakan bahwa tidak ada tersangka dalam kasus kecelakaan ini yang mengakibatkan sopir mobil boks meninggal dunia. Menurutnya, itu kecelakaan tunggal sehingga tidak ada tersangka dalam kasus ini. Dengan begitu, tidak ada proses pidana yang harus dilalui atas peristiwa tersebut.

 

Kedua, meskipun tidak melibatkan kendaraan dan/atau pengguna jalan lain, kecelakaan tunggal dapat saja diproses hukum, yaitu jika mengakibatkan korban luka dan/atau meninggal dunia. Pengendaranya dapat dikenakan sanksi karena kelalaiannya menyebabkan orang lain meninggal dunia atau terluka.[2]

 

Sebagai contoh kasus dapat kita lihat dalam Putusan Pengadilan Negeri Purwodadi Nomor: 89/Pid.B/2013/PN.Pwi. Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan, kecelakaan tunggal tersebut terjadi pada saat bus yang dikemudikan oleh terdakwa dengan kecepatan rendah (pelan) berpapasan dengan KBM truk engkel yang berlawanan arah sehingga terdakwa yang sudah mengetahui kondisi jalan tidak akan muat jika berpapasan dengan truk engkel tersebut seharusnya menghentikan kendaraannya, namun terdakwa tetap menjalankan kenderaannya dengan mengambil jalan ke kiri yang tidak ada bahu jalannya. Sehingga posisi bus yang dikendarai terdakwa terlalu ke kiri yang mengakibatkan ban kiri depan belakang bus terdakwa ke luar dari bahu jalan hingga berjalan miring ke kiri dan masuk dalam parit, berguling sekali dengan posisi ban sebelah barat dan body samping kiri di bawah. Akibat kecelakaan tunggal tersebut seorang penumpang meninggal dunia serta kurang lebih 28 orang penumpang mengalami luka-luka ringan berupa lecet-lecet.

 

Hakim memutuskan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Mengemudikan Kendaraan Bermotor Karena Kelalaiannya Mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas Dengan Korban Meninggal Dunia dan Luka Ringan” sebagaimana Pasal 310 ayat (4) dan (2) UU LLAJ. Hakim menjatuhkan pidana kepada Terdakwa dengan pidana penjara selama 4 (empat) bulan.

 

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 

Dasar hukum:

1.    Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;

2.    Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

 

Referensi:

Puskominfo Bid Humas Polda Metro Jaya, diakses pada 19 Juli 2016 pukul 11.46 WIB.

 

Putusan:

Putusan Pengadilan Negeri Purwodadi Nomor: 89/Pid.B/2013/PN.Pwi.




[1] Pasal 1 angka 24 UU LLAJ

[2] Pasal 310 ayat (3) dan (4) UU LLAJ

 

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
MITRA : Si Pokrol
Tri Jata Ayu Pramesti mendapatkan gelar sarjana hukum dari Universitas Indonesia pada 2011 dengan mengambil Program Kekhususan IV (Hukum tentang Kegiatan Ekonomi). 
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua