Selasa, 31 January 2017

Jerat Pidana Bagi Penjual Obat Aborsi

Jerat Pidana Bagi Penjual Obat Aborsi

Pertanyaan

Saya ingin bertanya tentang masalah kawan saya. Beliau membeli obat aborsi di onlineshop setelah itu beliau ditipu karena barang tidak kunjung datang atau lepas tanggung jawab. Apakah nanti kalau beliau lapor polisi beliau bisa kena pidana juga karena membeli obat aborsi? Terima kasih.

Ulasan Lengkap

Intisari:

 

 

Mengenai menjual obat aborsi, pada dasarnya tidak ada ketentuan yang secara eksplisit mengatur hal tersebut dalam UU Kesehatan. Akan tetapi jika obat tersebut dijual secara ilegal, penjualnya dapat dikenai pidana.

 

Selain itu jika seorang tabib, bidan atau ahli obat membantu kejahatan aborsi, maka dapat dipidana.

 

Kemudian mengenai penipuan yang dilakukan oleh si penjual, jika tindakan si penjual tersebut memenuhi unsur-unsur tindak pidana penipuan maka diancam pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun.  

 

Berdasarkan pertanyaan Anda apakah teman Anda dapat dipidana juga apabila melaporkan perbuatan penjual obat aborsi yang mana berarti teman Anda ketahuan membeli obat aborsi, UU Kesehatan dan KUHP tidak mengatur mengenai membeli obat aborsi. Yang dapat dipidana berdasarkan UU Kesehatan dan KUHP adalah jika teman Anda melakukan aborsi.

 

Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak dalam ulasan di bawah ini.

 

 

 

Ulasan:

 

Terima kasih atas pertanyaan Anda.

 

Mengenai aborsi dapat dlihat pengaturannya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (“UU Kesehatan”).

 

Ketentuan Mengenai Aborsi Dalam KUHP

Dalam KUHP, mengenai aborsi diatur dalam Pasal 346 KUHP yang berbunyi:

 

“Perempuan yang dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, dihukum penjara paling lama empat tahun.”

 

Menurut R. Soesilo dalam bukunya yang berjudul Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 243) yang dapat dihukum oleh pasal ini adalah:

1.    Perempuan yang sengaja mengugurkan atau membunuh kandungannya atau suruhan orang untuk itu.

2.    Orang yang sengaja mengugurkan atau membunuh kadungan seseorang perempuan dengan tidak izin perempuan atau seizing perempuan tersebut.

 

Lebih lanjut dijelaskan oleh R.Soesilo cara mengugurkan atau membunuh kandungan itu bermacam-macam, baik dengan obat yang diminum maupun dengan alat-alat yang dimasukkan melalui anggota kemaluan. Menggugurkan kandungan yang sudah mati, tidak dihukum, demikian pula tidak dihukum orang yang untuk membatasi kelahiran anak mencegah terjadinya hamil.

 

Jika seorang tabib, bidan atau ahli obat membantu kejahatan aborsi, berbuat atau membantu salah satu kejahatan, maka bagi mereka hukumannya ditambah dengan sepertiga dan dapat dipecat dari jabatannya, sebagaimana diatur dalam Pasal 349 KUHP:

 

“Jika seorang tabib, dukun beranak atau tukang obat membantu dalam aborsi, atau bersalah atau membantu salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka hukuman yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiganya dan dapat ia dipecat dari jabatannya yang digunakan untuk melakukan kejahatan itu.”

 

R. Soesilo menjelaskan jika dokter, tabib, dukun beranak atau tukang obat itu mengugurkan atau membunuh kandungan untuk menolong jiwa perempuan, atau menjaga kesehatannya maka tidak dihukum.

 

Sehubungan dengan pertanyaan Anda dan berdasarkan penjelasan tersebut, meminum obat termasuk salah satu cara aborsi dan tukang obat atau ahli obat tidak boleh membantu dalam melakukan aborsi.

 

Ketentuan Mengenai Aborsi Dalam UU Kesehatan

Mengenai aborsi juga diatur dalam Pasal 75 UU Kesehatan, bahwa setiap orang dilarang melakukan aborsi.

 

Pengecualian terhadap larangan melakukan aborsi diberikan hanya dalam 2 kondisi berikut:[1]

1.    indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau

2.    kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.

 

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar.[2]

 

Mengenai menjual obat aborsi, pada dasarnya tidak ada ketentuan yang secara eksplisit mengatur hal tersebut dalam UU Kesehatan. Akan tetapi jika obat tersebut dijual secara ilegal, penjualnya dapat dikenai pidana berdasarkan Pasal 196 jo. Pasal 98 ayat (2) dan (3) UU Kesehatan serta Pasal 197 jo. Pasal 106 ayat (1) UU Kesehatan, sebagai berikut:

 

Pasal 196 UU Kesehatan:

Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standar dan/atau persyaratan keamanan, khasiat atau kemanfaatan, dan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

 

Pasal 98 UU Kesehatan:

(1)  ….

(2)  Setiap orang yang tidak memiliki keahlian dan kewenangan dilarang mengadakan, menyimpan, mengolah, mempromosikan, dan mengedarkan obat dan bahan yang berkhasiat obat.

(3)  Ketentuan mengenai pengadaan, penyimpanan, pengolahan, promosi, pengedaran sediaan farmasi dan alat kesehatan harus memenuhi standar mutu pelayanan farmasi yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

(4)  ….

 

Pasal 197 UU Kesehatan:

Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).

 

Pasal 106 ayat (1) UU Kesehatan:

Sediaan farmasi dan alat kesehatan hanya dapat diedarkan setelah mendapat izin edar.

 

Dalam praktiknya, sebagaimana terdapat dalam artikel Polisi Ungkap Sindikat Penjual Obat Aborsi yang kami akses dari okezone.com, Kapolres Sleman AKBP Faried Zulkarnaen menangkap anggota sindikat pengedar ilegal obat aborsi atau penggugur kandungan. Menurut AKBP Faried Para pelaku aborsi dan penjual obat dijerat dengan Pasal 196 UU Kesehatan.

 

Penipuan Dalam Jual Beli Online

Kemudian, mengenai penipuan yang dilakukan oleh penjual obat tersebut, dapat diancam dengan tindak pidana penipuan.

 

Tindak pidana penipuan sendiri diatur dalam Pasal 378 KUHP, dengan rumusan pasal sebagai berikut:

 

Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lainsecara melawan hukum dengan menggunakan nama palsu atau martabat (hoedaningheid) palsu; dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya,atau supaya memberi utang maupun menghapuskan piutang, diancam, karena penipuan,

dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

 

Jadi penjual obat tersebut yang menurut pernyataan Anda melakukan penipuan, jika memenuhi unsur-unsur tindak pidana penipuan maka diancam pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun. Selengkapnya mengenai penipuan dapat Anda simak dalam Pasal untuk Menjerat Pelaku Penipuan dalam Jual Beli Online dan Korban Penipuan Barang Kebutuhan Seksual Bisa Terjerat Pidana?.

 

Menjawab pertanyaan Anda apakah teman Anda dapat dipidana apabila melaporkan perbuatan penjual obat aborsi yang mana berarti teman Anda ketahuan membeli obat aborsi, berdasarkan UU Kesehatan dan KUHP tidak diatur mengenai membeli obat aborsi. Yang dapat dipidana berdasarkan UU Kesehatan dan KUHP adalah jika teman Anda melakukan aborsi. Jika teman Anda melakukan aborsi maka menurut UU Kesehatan teman Anda dapat dipidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar.

 

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 

Dasar hukum:

1.    Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;

2.    Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

 



[1] Pasal 75 ayat (2) UU Kesehatan

[2] Pasal 194 UU Kesehatan

 

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
PENJAWAB : Sovia Hasanah, S.H.
MITRA : Si Pokrol
Saat ini sudah tidak bekerja di Hukumonline. Namun dulu pernah bergabung di Divisi Klinik.
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua