Senin, 19 November 2018

Hukumnya Pengendara Menyalakan Lampu Sein Kiri, Tapi Belok ke Kanan

Hukumnya Pengendara Menyalakan Lampu Sein Kiri, Tapi Belok ke Kanan

Pertanyaan

Pada saat berkendara, saya sedang ada di jalur kanan. Tiba-tiba ada ibu-ibu mengendarai motor berbelok ke kanan, tapi lampu sein nya ke kiri. Pernah juga ibu-ibu berbelok ke kiri tapi lampu seinnya tidak digunakan. Apa hukumnya? Adakah sanksinya?  

Ingin Masalah Anda Segera Tuntas?

Hubungi konsultan hukum profesional dengan biaya terjangkau, pilih durasi dan biaya konsultasi sesuai kebutuhan Anda di sini.

Ulasan Lengkap

 
Kompetensi Pengemudi Sepeda Motor
Menurut Pasal 1 angka 20 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (“UU LLAJ”), sepeda motor termasuk jenis kendaraan bermotor. Sepeda Motor adalah Kendaraan Bermotor beroda dua dengan atau tanpa rumah-rumah dan dengan atau tanpa kereta samping atau Kendaraan Bermotor beroda tiga tanpa rumah-rumah.
 
Kendaraan Bermotor adalah setiap kendaraan yang digerakkan oleh peralatan mekanik berupa mesin selain kendaraan yang berjalan di atas rel.[1] Setiap orang (pengemudi) yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan, wajib memiliki Surat Izin Mengemudi (“SIM”) sesuai dengn jenis kendaraan bermotor yang dikemudikan.[2] Untuk pengemudi sepeda motor wajib memiliku SIM C. [3]
 
Jika seseorang sudah memiliki SIM, berarti ia telah lulus:[4]
  1. ujian teori;
  2. ujian praktik; dan/atau
  3. ujian keterampilan melalui simulator.
 
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa seseorang yang telah memiliki SIM (atau dalam hal ini pengemudi sepeda motor), berarti telah memiliki kompetensi mengemudi (mengetahui teori aturan berlalu-lintas) karena telah lulus ujian.
 
Dasar Hukum Kendaraan Berbelok Arah
Pengemudi kendaraan yang akan berbelok atau berbalik arah wajib mengamati situasi lalu lintas di depan, di samping, dan di belakang kendaraan, serta memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah atau isyarat tangan.[5]
 
Meskipun tidak berbelok, pengemudi yang akan berpindah jalur atau bergerak ke samping, wajib pula mengamati situasi lalu lintas di depan, di samping, dan di belakang kendaraan dan memberikan isyarat.[6]
 
Pada persimpangan jalan yang dilengkapi alat pemberi isyarat lalu lintas, pengemudi kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh rambu lalu lintas atau alat pemberi isyarat lalu lintas.[7]
 
Jadi berdasakan hal tersebut, kendaraan yang akan berbelok, berpindah jalur, atau bergerak ke samping harus memperhatikan situasi lalu lintas di depan, di samping, dan di belakang kendaraan, serta memberikan isyarat, salah satunya dengan menggunakan lampu penunjuk arah. Lampu sein yang Anda sebutkan, dalam UU LLAJ disebut dengan lampu penunjuk arah.[8]
 
Dalam Pasal 112 ayat (1) dan (2) UU LLAJ memang tidak disebutkan secara eksplisit bahwa dalam memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah pada saat pengemudi akan berbelok atau berbalik arah, pindah jalur atau bergerak ke samping harus sesuai dengan arah kemana si pengemudi akan bergerak.
 
Kemudian jika kita merujuk pada Pasal 106 ayat (1) UU LLAJ, yang menyebutkan:
 
Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.
 
Tidak ada penjelasan mengenai arti wajar dalam UU LLAJ. Namun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, wajar adalah:
 
  1. biasa sebagaimana adanya tanpa tambahan apa pun;
  2. menurut keadaan yang ada; sebagaimana mestinya.
 
Jika dikaitkan dengan kewajiban mengemudikan kendaraan dengan wajar, dapat kita simpulkan bahwa pengemudi yang akan berbelok harus menggunakan lampu petunjuk sesuai dengan arah kemana akan berbelok atau bergerak. Jika berbelok atau bergerak ke kanan, maka lampu penunjuk arah yang menyala harus lampu sebelah kanan juga, karena itu yang sewajarnya dilakukan oleh pengemudi.
 
Selain itu juga perlu diperhatikan, bagi pengemudi akan berbelok atau berbalik arah, berpindah jalur atau bergerak ke samping maka harus mengamati situasi lalu lintas di depan, di samping, dan di belakang kendaraan.
 
Dalam kasus yang Anda ceritakan tersebut harusnya ibu-ibu yang akan berbelok ke kanan memberikan isyarat lampu petunjuk arah sesuai dengan arah belokannya (kanan) bukan pada arah sebaliknya (kiri). Karena hal ini merupakan sesuatu yang tidak wajar dan dapat membuat pengemudi lain menjadi ragu sehingga dapat membahayakan keamanan dan keselamatan lalu lintas.
 
Hal tersebut sesuai dengan Pasal 105 UU LLAJ, yang menyatakan setiap orang yang menggunakan jalan wajib:
  1. berperilaku tertib; dan/atau
  2. mencegah hal-hal yang dapat merintangi, membahayakan keamanan dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan, atau yang dapat menimbulkan kerusakan Jalan.
 
Berdasarkan penjelasan tersebut, tindakan ibu-ibu yang akan berbelok ke kanan tetapi malah memberikan lampu isyarat kearah yang sebaliknya (kiri) dapat dikatakan telah membahayakan keamanan dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan.
 
Sanksi
Terhadap pengemudi yang menyalakan lampu penunjuk arah yang tidak sesuai dengan arah kendaraan berbelok atau berbalik arah, berpindah jalur atau bergerak ke samping (tidak wajar) sehingga membuat ragu pengemudi lain serta membahayakan keamanan dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan, bisa dikenakan pidana sebagai berikut:
 
Pasal 283 UU LLAJ
Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah).
 
Selain itu sanksi pidana bagi kendaraan bermotor yang akan membelok atau berbalik arah tanpa memberikan isyarat adalah sebai berikut:
 
Pasal 294 UU LLAJ
Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang akan membelok atau berbalik arah, tanpa memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah atau isyarat tangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 112 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).
 
Pasal 295 UU LLAJ
Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang akan berpindah lajur atau bergerak ke samping tanpa memberikan isyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 112 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).
 
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
 
Dasar Hukum:
 
Referensi:
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dikunjungi pada hari Rabu tanggal 14 November 2018, Pukul 13:30 WIB.
 

[1] Pasal 1 angka 8 UU LLAJ
[2] Pasal 1 angka 23 jo. Pasal 77 ayat (1) UU LLAJ
[3] Pasal 80 huruf d UU LLAJ
[4] Pasal 81 ayat (1) jo Pasal 87 ayat (1) UU LLAJ
[5] Pasal 112 ayat (1) UU LLAJ
[6] Pasal 112 ayat (2) UU LLAJ
[7] Pasal 112 ayat (3) UU LLAJ
[8] Penjelasan Pasal 48 ayat (2) UU LLAJ

 

Kembali ke Intisari


Perjuangan Anda Jangan Berhenti di Artikel Ini

Konsultan hukum profesional dengan biaya terjangkau siap membantu Anda. Pilih durasi dan biaya konsultasi sesuai kebutuhan Anda di sini.

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
PENJAWAB : Dimas Hutomo, S.H.
MITRA : Bung Pokrol
Dimas Hutomo mendapatkan gelar sarjana hukum dari Universitas Airlangga pada 2014 dengan mengambil Peminatan Sistem Peradilan.
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua