Orang Tua Punya Banyak Utang, Perlukah Membuat Surat Putus Waris?

Bacaan 3 Menit
Orang Tua Punya Banyak Utang, Perlukah Membuat Surat Putus Waris?
Pertanyaan

Saya beragama Islam, ingin menanyakan perihal mengurus pembuatan surat putus waris. Tujuan saya membuat surat putus waris adalah kedua orang tua saya tidak bertanggung jawab dan saya baru tahu mereka mempunyai hutang dimana-mana yang jumlahnya cukup besar yang saya sudah pasti tidak bisa membayar hutang tersebut apabila hutang tersebut dilimpahkan kepada saya. Saat ini kondisi mereka masih hidup. Saya mempunyai 2 adik kandung. Apa saja langkah-langkah yang harus ditempuh untuk bisa mengurus surat putus waris ini? Terima kasih.

Ulasan Lengkap

Jawaban ini dibuat dengan asumsi bahwa kedua orang tua Anda juga beragama Islam sehingga hukum waris yang berlaku yakni hukum waris Islam.

Penolakan waris tidak dikenal dalam hukum Islam karena asas hukum waris dalam Islam bersifat memaksa atau dikenal dengan istilah ijbari. Oleh karena itu, hubungan antara pewaris dan ahli waris tetap adanya sepanjang tidak ada yang menyebabkan ahli waris menjadi terhalang, seperti dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat para pewaris atau dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman 5 (lima) tahun penjara atau hukuman yang lebih berat.[1]

Selain itu, Prof. H. Mohammad Daud Ali, S.H. dalam bukunya Hukum Islam yang mengutip Amir Syarifuddin memberikan penjelasan bahwa asas ijbari merupakan peralihan harta dari seorang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya berlaku dengan sendirinya menurut ketetapan Allah SWT tanpa digantungkan kepada kehendak pewaris atau ahli warisnya. Unsur “memaksa” dalam hukum kewarisan Islam itu terlihat, terutama, dari kewajiban ahli waris untuk menerima perpindahan harta peninggalan pewaris kepadanya sesuai dengan jumlah yang ditentukan Allah SWT di luar kehendaknya sendiri (hal. 301).

Atas penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa Anda tidak dapat membuat surat putus waris karena berdasarkan hukum waris Islam yang sifatnya memaksa, Anda merupakan ahli waris sepanjang Anda memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris.[2]

Akan tetapi, mengingat pokok permasalahan dalam kasus ini adalah kekhawatiran Anda tentang utang orang tua Anda semasa hidup yang akan diwariskan kepada Anda di kemudian harinya, dalam KHI hal tersebut telah dibatasi. Dalam hal ini, tanggung jawab ahli waris terhadap utang hanya terbatas pada jumlah atau nilai harta peninggalannya. Hal tersebut ditegaskan dalam Pasal 175 KHI yang berbunyi:

  1. Kewajiban ahli waris terhadap pewaris adalah:
    1. mengurus dan menyelesaikan sampai pemakaman jenazah selesai;
    2. menyelesaikan baik hutang-hutang berupa pengobatan, perawatan, termasuk kewajiban pewaris maupun penagih piutang;
    3. menyelesaikan wasiat pewaris;
    4. membagi harta warisan di antara wahli waris yang berhak.
  2. Tanggung jawab ahli waris terhadap hutang atau kewajiban pewaris hanya terbatas pada jumlah atau nilai harta peninggalannya.

Maka dari itu, Anda tidak akan bertanggung jawab terhadap utang-utang orang tua Anda kepada pihak ketiga (penagih utang) kecuali sebatas jumlah atau nilai harta yang ditinggalkan saja.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

Dasar Hukum:

Referensi:

Prof. H. Mohammad Daud Ali, S.H., Hukum Islam, (PT Raja Grafindo Persada: Jakarta), 2006.

[1] Pasal 173 Kompilasi Hukum Islam (“KHI”)

[2]Pasal 171 huruf c KHI 

Punya Masalah Hukum Yang Sedang Dihadapi?
Mulai dari Rp 30.000
Powered By Justika