Jumat, 05 Mei 2006
Dibaca: 5182
Pertanyaan :
Perbuatan Pidana Dalam CYBERSPACE
Pada umumnya, hukum pidana konvensional (dalam KUHP) mengatur obyek yang berwujud, selain juga mengatur "perbuatan pidana" melalui organ tubuh manusia. Di sisi lain, pada dunia cyber, nilai ekonomi sering berbentuk immateriil, contohnya transfer / transaksi uang secara elektronik. Komputer juga digunakan sebagai peralatan untuk mengatur obyek yang bersifat data dan informasi melalui penggunaan perangkat keras maupun lunak (hardware dan software). Yang menjadi pertanyaan adalah apakah dapat pasal-pasal dalam KUHP (ps. 263, 362, 372, 378 dan 406) digunakan dalam kasus-kasus kejahatan dalam dunia cyber? Terimakasih.  
Jawaban :

Sebelum menjawab pertanyaan anda, sebaiknya kita lihat dulu fenomena yang ada, tentang bagaimana para ahli hukum melihat hubungan antara kejahatan komputer dan cyber dengan KUHP (hukum pidana konvensional).

 

Ada dua kelompok ahli yang saling bertentangan untuk melihat apakah perlu untuk membuat/ merumuskan perbuatan /tindak pidana atas kejahatan komputer dan cyber. Yang tidak setuju akan perumusan baru terhadap kejahatan komputer dan cyber ini berpendapat bahwa perkembangan teknologi yang ada dan sedemikian cepatnya akan selalu berada didepan perumusan kejahatan itu sendiri. Peraturan yang ada (hukum pidana konvensional) masih dapat dipergunakan untuk mengatur tentang kejahatan komputer dan cyber ini. Para ahli yang berpendapat seperti ini, diantaranya adalah Prof.Dr.Muladi, SH, Himawan, SH.

 

Sedangkan, kelompok yang beranggapan sebaliknya, mempunyai alasan bahwa hukum pidana yang ada tidak siap dalam menghadapi kejahatan komputer dan cyber. Sehingga diperlukan pengaturan yang lebih khusus dalam hukum pidana yang mengatur tentang kejahatan ini. Pendapat ini didukung oleh, diantaranya Teuku M. Radhie, SH, Prof. Dr. J.E. Sahetapy, SH, Dr. Mulya Lubis, SH, J. Sudama Sastroandjojo.

 

Salah satu ahli hukum, Prof.Dr.H.Heru Soepraptomo, SH, SE, dalam salah satu makalahnya Kejahatan Komputer dan Siber serta Antisipasi Pengaturan Pencegahannya di Indonesia mencoba memberikan pembagian yang cukup menarik terhadap kejahatan jenis ini. Pembagiannya sebagai berikut:

1. Penipuan komputer (computer fraud) yang mencakup:

a. Bentuk dan jenis penipuan adalah berupa pencurian uang atau harta benda dengan menggunakan sarana komputer/siber dengan melawan hukum, ialah dalam bentuk penipuan data dan penipuan program, dengan cara:

i.        Memasukkan instruksi yang tidak sah, yang dilakukan oleh seorang yang berwenang (atau tidak), yang dapat mengakses suatu sistem dan memasukkan instruksi untuk keuntungan sendiri dengan melawan hukum (misalnya melakukan transfer sejumlah uang).

ii.       Mengubah data input; yang dilakukan dengan cara memasukkan data untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan cara melawan hukum (misalnya memasukkan data gaji pegawai melebihi yang seharusnya).

iii.       Merusak data; dilakukan seseorang dengan merusak print out atau out put dengan maksud untuk mengaburkan, menyembunyikan data atau informasi untuk maksud yang tidak baik.

iv.      Penggunaan komputer untuk sarana melakukan perbuatan pidana, misalnya dalam pemecahan informasi /kode lewat komputer yang hasilnya digunakan untuk melakukan kejahatan, atau mengubah program.

b. Perbuatan pidana penipuan, yang didalamnya termasuk unsur perbuatan lain,seperti menghindarkan diri dari kewajiban (misalnya pajak) atau untuk memperoleh sesuatu yang bukan hak/miliknya melalui sarana komputer.

c. Perbuatan curang untuk memperoleh secara tidak sah harta benda milik orang lain, misalnya seseorang dapat mengakses komputer mentransfer rekening orang ke rekeningnya sendiri.

d. Konspirasi penipuan, ialah perbuatan pidana yang dilakukan beberapa orang bersama-sama untuk melakukan penipuan dengan sarana komputer.

 

2. Perbuatan pidana penggelapan, pemalsuan pemberian informasi melalui komputer yang merugikan pihak lain dan menguntungkan diri sendiri.

 

3. Perbuatan pidana komunikasi, ialah hacking yang dapat membobol sistem on-line komputer yang menggunakan sistem komunikasi. Hacking, ialah melakukan akses terhadap sistem komputer tanpa seizin atau dengan melawan hukum sehingga dapat menembus sistem pengamanan komputer yang dapat mengancam berbagai kepentingan.

 

4. Perbuatan pidana perusakan sistem komputer, baik merusak data atau menghapus kode-kode yang menimbulkan kerusakan dan kerugian. Contohnya adalah berupa penambahan atau perubahan program, informasi, media, sehingga merusak sistem; atau dengan sengaja menyebarkan virus yang dapat merusak program dan sistem komputer; atau pemerasan dengan menggunakan sarana komputer/ telekomunikasi.

 

5. Perbuatan pidana yang berkaitan dengan hak milik intelektual, hak cipta, dan hak paten, ialah berupa pembajakan dengan memproduksi barang-barang tiruan untuk mendapatkan keuntungan melalui perdagangan.

 

Bila kita lihat pembagian yang dipakai oleh Prof.Dr.H.Heru Soepraptomo, SH, SE, untuk menelaah pertanyaan anda, maka bisa saja pasal-pasal (tentang penipuan, kecurangan, pencurian dan perusakan) yang anda sebutkan dalam KUHP di atas dapat dipakai.

 

Menurut kami, sambil kita menunggu pengaturan yang lebih jelas tentang kejahatan komputer dan cyber ini, kita masih dapat menggunakan ketentuan-ketentuan yang ada dalam KUHP ditambah dengan beberapa peraturan perundang-undangan yang mempunyai kaitan dengan dengan dunia cyber, seperti Undang-undang Telekomunikasi (Undang-undang No.36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi, Undang-undang yang mengatur persoalan HAKI, dst. Sehingga tidak terjadi kekosongan hukum. Ini merupakan pekerjaan rumah yang mesti dikerjakan oleh para hakim kita dan jaksa untuk lebih memahami dan mendalami persoalan cyber dan kejahatan yang menyangkut didalamnya.

 

Demikianlah semoga bermanfaat.

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
PENJAWAB : Bung Pokrol