Rabu, 09 Januari 2013
Dibaca: 84745
Pertanyaan :
Bolehkah Menggunakan Foto Orang Lain Tanpa Izin?
Saya memiliki sebuah studio foto digital kecil. Saya ingin menanyakan mengenai seberapa banyak hak saya atas foto berikut olahannya yang dibuat di studio saya? Apakah saya berhak menggunakan foto-foto tersebut untuk keperluan promosi (display, sampel, dimasukkan ke web site kami) tanpa konfirmasi kepada orang yang ada di foto tersebut?
Jawaban :

Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (“UUHC”) pengertian hak cipta adalah

“…hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.”

 

Menurut Pasal 13 ayat (1) huruf j UUHC, fotografi termasuk ciptaan yang dilindungi. Selanjutnya, pengaturan hak cipta untuk potret/fotografi diatur dalam Pasal 19 s.d. Pasal 23 UUHC. Oleh karena Saudara adalah pemilik studio foto, maka Saudara adalah Pencipta atau Pemegang Hak Cipta dari foto yang dihasilkan dari studio foto Saudara. Akan tetapi, terhadap fotografi terdapat pembatasan atas penggunaan hak cipta sebagaimana diatur dalam Pasal 19 UUHC yang berbunyi:

(1)    Untuk memperbanyak atau mengumumkan Ciptaannya, Pemegang Hak Cipta atas Potret seseorang harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari orang yang dipotret, atau izin ahli warisnya dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun setelah orang yang dipotret meninggal dunia.

(2)    Jika suatu Potret memuat gambar 2 (dua) orang atau lebih, untuk Perbanyakan atau Pengumuman setiap orang yang dipotret, apabila Pengumuman atau Perbanyakan itu memuat juga orang lain dalam Potret itu, Pemegang Hak Cipta harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari setiap orang dalam Potret itu, atau izin ahli waris masing-masing dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun setelah yang dipotret meninggal dunia.

(3)    Ketentuan dalam Pasal ini hanya berlaku terhadap Potret yang dibuat:

a.    atas permintaan sendiri dari orang yang dipotret;

b.    atas permintaan yang dilakukan atas nama orang yang dipotret; atau

c.    untuk kepentingan orang yang dipotret.

 

Keharusan untuk meminta persetujuan orang yang dipotret karena tidak selalu orang yang dipotret akan setuju bahwa potretnya diumumkan tanpa diminta persetujuannya. Oleh karena itu, ditentukan bahwa harus dimintakan persetujuan yang bersangkutan atau ahli warisnya. Demikian bunyi penjelasan Pasal 19 ayat (1) UUHC.

 

Jika Saudara tidak meminta persetujuan dari orang yang dipotret, maka Saudara dapat dijerat dengan ancaman pidana menurut Pasal 72 ayat (5) UUHC berupa pidana penjara paling lama 2 tahun dan/atau denda paling banyak Rp150 juta.

 

Jadi, Saudara sebagai pemilik studio foto memang adalah pencipta atau pemegang hak cipta dari potret yang Saudara buat. Akan tetapi, jika Saudara ingin menggunakan potret orang-orang yang pernah Saudara potret di studio, maka hukum mengharuskan Saudara untuk meminta persetujuan mereka terlebih dahulu.

 
Demikian jawaban dari kami semoga bermanfaat.
 
Dasar hukum:

Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Justika.com adalah terknologi terbaru hukumonline yang bekerja sebagai pusat informasi yang mempertemukan antara pencari bantuan hukum dan para profesional hukum dibidangnya masing-masing.

Temukan profesional hukum sesuai dengan permasalahan anda didalam jaringan justika.com
PENJAWAB : Ilman Hadi, S.H.
MITRA : Bung Pokrol
Saat ini sudah tidak bekerja di Hukumonline. Namun dulu pernah bergabung di Divisi Klinik.