KetenagakerjaanKetenagakerjaan
Hak Pekerja dalam Membentuk Serikat Pekerja
Bacaan 6 Menit

PERTANYAAN
Mohon penjelasannya apakah jika sebuah perusahaan melarang karyawannya membentuk serikat pekerja apakah itu melanggar hukum? Terima kasih.
Pro

Pusat Data
Koleksi peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan yang sistematis serta terintegrasi
Solusi
Wawasan Hukum
Klinik
Tanya jawab gratis tentang berbagai isu hukum
Berita
Informasi dan berita terkini seputar perkembangan hukum di Indonesia
Jurnal
Koleksi artikel dan jurnal hukum yang kredibel untuk referensi penelitian Anda
Event
Informasi mengenai seminar, diskusi, dan pelatihan tentang berbagai isu hukum terkini
Klinik
Berita
Login
Pro
Layanan premium berupa analisis hukum dwibahasa, pusat data peraturan dan putusan pengadilan, serta artikel premium.
Solusi
Solusi kebutuhan dan permasalahan hukum Anda melalui pemanfaatan teknologi.
Wawasan Hukum
Layanan edukasi dan informasi hukum tepercaya sesuai dengan perkembangan hukum di Indonesia.
Catalog Product
Ada Pertanyaan? Hubungi Kami


Bacaan 6 Menit

Mohon penjelasannya apakah jika sebuah perusahaan melarang karyawannya membentuk serikat pekerja apakah itu melanggar hukum? Terima kasih.
Terima kasih atas pertanyaan Anda.
Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Serikat Pekerja yang dibuat oleh Shanti Rachmadsyah, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada 17 September 2010.
Seluruh informasi hukum dalam Klinik Hukumonline disediakan semata-mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum. Silakan mempelajari Pernyataan Penyangkalan untuk informasi selengkapnya. Untuk memperoleh nasihat hukum yang sesuai dengan kasus Anda, silakan berkonsultasi langsung dengan Konsultan Mitra Justika.
Serikat pekerja adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk pekerja, baik di dalam maupun di luar perusahaan, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 1 UU 21/2000. Organisasi ini bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab.
Serikat pekerja juga diatur dalam Pasal 1 angka 17 UU Ketenagakerjaan, yang menjelaskan bahwa serikat pekerja berfungsi sebagai perwakilan suara pekerja dalam memperjuangkan hak dan kepentingan mereka. Dengan demikian, serikat pekerja menjadi alat penting bagi pekerja untuk mencapai kesejahteraan bersama.
Adapun menurut Pasal 3 Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional 87/1948, pada intinya serikat pekerja dapat didefinisikan sebagai organisasi yang dibentuk oleh pekerja dan pengusaha untuk memperjuangkan hak dan kepentingan anggotanya. Lebih lanjut, pekerja dan pengusaha memiliki hak untuk membentuk organisasi tanpa perlu izin dari pemerintah, serta berhak untuk bergabung dengan organisasi yang mereka pilih. Sebagai informasi tambahan, konvensi yang disebutkan telah diratifikasi melalui Keppres 83/1998.
Fungsi dari serikat pekerja tertuang dalam Pasal 4 ayat (2) UU 21/2000 sebagai berikut:
Serikat pekerja di berbagai negara memiliki setidaknya tiga fungsi utama, yaitu:[1]
Serikat pekerja berperan sebagai lembaga yang melakukan perundingan dengan pengusaha mengenai upah dan kondisi kerja.
Serikat pekerja merupakan bagian dari gerakan sosial yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi kehidupan para pekerja.
Serikat pekerja berfungsi sebagai kelompok penekan yang mempengaruhi parlemen, pemerintah, dan administrasi publik.
Baca juga: Syarat dan Prosedur Pembentukan Serikat Pekerja/Serikat Buruh
Menjawab inti dari pertanyaan Anda, pada dasarnya, membentuk serikat pekerja merupakan hak dari semua buruh/pekerja. Hal ini juga ditegaskan dalam Pasal 28 UUD 1945 yang menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Dengan demikian, hak untuk membentuk serikat pekerja dilindungi oleh konstitusi sebagai bagian dari hak berserikat.
Selain itu, Pasal 104 ayat (1) UU Ketenagakerjaan juga menegaskan bahwa setiap pekerja/buruh memiliki kebebasan untuk membentuk, bergabung, atau tidak bergabung menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh. Sepanjang penelusuran kami, hak untuk membentuk serikat pekerja adalah salah satu hak dasar yang dimiliki oleh pekerja/buruh, sehingga memberikan landasan hukum yang kuat bagi upaya mereka dalam memperjuangkan hak dan kepentingan melalui organisasi tersebut.
Hak pekerja/buruh untuk membentuk serikat pekerja juga diperkuat dalam Pasal 5 ayat (1) UU 21/2000 yang menegaskan bahwa setiap pekerja/buruh berhak membentuk dan menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh.
Dikarenakan membentuk serikat pekerja merupakan hak pekerja/buruh, lantas bagaimana hukumnya jika ada pengusaha yang melarang pekerjanya membentuk serikat pekerja?
Jika sebuah perusahaan melarang karyawannya untuk membentuk serikat pekerja, tindakan ini tentu melanggar hukum. Menurut Pasal 28 UU 21/2000, setiap orang atau badan hukum dilarang menghalangi pembentukan serikat pekerja atau melakukan tindakan diskriminasi terhadap anggota serikat pekerja.
Jika dilanggar, yang bersangkutan dapat dijerat Pasal 43 ayat (1) UU 21/2000 jo. Pasal II angka 5 UU 1/2026 dengan sanksi pidana penjara paling lama 5 tahun
dan/atau denda paling banyak kategori IV, yaitu sebesar Rp200 juta.[2]
Perlu diingat bahwa setiap pekerja berhak untuk membentuk dan bergabung dengan serikat pekerja, yang berfungsi sebagai wadah untuk memperjuangkan hak dan kepentingan mereka. Jika ada upaya untuk menghalangi pembentukan serikat pekerja, hal ini merupakan pelanggaran hukum yang dapat dikenakan sanksi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
Dasar hukum:
Referensi:
[1] Zulkarnain Ibrahim. Eksistensi Serikat Pekerja/Serikat Buruh dalam Upaya Mensejahterakan Pekerja. Jurnal Media Hukum, Vol. 23, No. 2, 2016, hal. 154
[2] Pasal 79 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana