Tarif Pajak untuk Tunjangan Hari Raya
Bacaan 6 Menit

PERTANYAAN
Apakah THR dipotong pajak 15% dari upah/gaji? Adakah undang-undangnya? Terima kasih atas bantuannya.
Pro

Pusat Data
Koleksi peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan yang sistematis serta terintegrasi
Solusi
Wawasan Hukum
Klinik
Tanya jawab gratis tentang berbagai isu hukum
Berita
Informasi dan berita terkini seputar perkembangan hukum di Indonesia
Jurnal
Koleksi artikel dan jurnal hukum yang kredibel untuk referensi penelitian Anda
Event
Informasi mengenai seminar, diskusi, dan pelatihan tentang berbagai isu hukum terkini
Klinik
Berita
Login
Pro
Layanan premium berupa analisis hukum dwibahasa, pusat data peraturan dan putusan pengadilan, serta artikel premium.
Solusi
Solusi kebutuhan dan permasalahan hukum Anda melalui pemanfaatan teknologi.
Wawasan Hukum
Layanan edukasi dan informasi hukum tepercaya sesuai dengan perkembangan hukum di Indonesia.
Catalog Product
Ada Pertanyaan? Hubungi Kami


Bacaan 6 Menit

Apakah THR dipotong pajak 15% dari upah/gaji? Adakah undang-undangnya? Terima kasih atas bantuannya.
Terima kasih atas pertanyaan Anda.
Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul sama yang dibuat oleh Diana Kusumasari, S.H., M.H. dan pertama kali dipublikasikan pada 09 Agustus 2012.
Seluruh informasi hukum dalam Klinik Hukumonline disediakan semata-mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum. Silakan mempelajari Pernyataan Penyangkalan untuk informasi selengkapnya. Untuk memperoleh nasihat hukum yang sesuai dengan kasus Anda, silakan berkonsultasi langsung dengan Konsultan Mitra Justika.
Pertama-tama, perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan tunjangan hari raya (“THR”) adalah pendapatan non upah yang wajib dibayarkan oleh pengusaha kepada pekerja/buruh atau keluarganya menjelang hari raya keagamaan.[1]
Kemudian, perihal dengan objek pajak penghasilan (“PPh”) bisa ditemukan pada ketentuan UU PPh dan perubahannya. Menurut Pasal 3 angka 1 UU Harmonisasi Perpajakan yang mengubah Pasal 4 ayat (1) ayat (1) huruf a UU PPh, yang menjadi objek pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa pun, termasuk penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya termasuk natura dan/atau kenikmatan, kecuali ditentukan lain.
Sebagaimana dilihat di atas, tunjangan termasuk objek PPh. Perihal ini dipertegas pada ketentuan Peraturan Dirjen Pajak 16/2016, yang menyatakan bahwa THR sebagai penghasilan pegawai tetap yang bersifat tidak teratur dipotong PPh Pasal 21.[2]
Karena THR termasuk dalam penghasilan yang dikenakan pajak penghasilan Pasal 21 (PPh 21) seperti halnya gaji/upah, maka besar tarif pajak yang dikenakan terhadap THR adalah sama dengan tarif pajak yang dikenakan terhadap upah pekerja sebagai wajib pajak.
Merujuk pada Penjelasan Pasal 3 angka 3 UU Harmonisasi Perpajakan yang mengubah Penjelasan Pasal 7 ayat (1) UU PPh, untuk menghitung besarnya penghasilan kena pajak dari wajib pajak orang pribadi dalam negeri, penghasilan netonya dikurangi dengan jumlah penghasilan tidak kena pajak.
Perlu diingat bahwa besarnya penghasilan neto bagi pegawai tetap yang dipotong PPh Pasal 21 adalah jumlah seluruh penghasilan bruto dikurangi dengan:[3]
Adapun penghasilan tidak kena pajak per tahun diberikan paling sedikit:[4]
Dari Penghasilan Kena Pajak yang diperoleh, kemudian dikenakan tarif pajak sebagaimana diatur dalam Pasal 3 angka 7 UU Harmonisasi Perpajakan yang mengubah Pasal 17 UU PPh, yakni:
| Lapisan Penghasilan Kena Pajak | Tarif Pajak |
| s.d. Rp60 juta | 5% |
| di atas Rp60 juta s.d Rp250 juta | 15% |
| di atas Rp250 juta s.d Rp500 juta | 25% |
| di atas Rp500 juta s.d Rp5 miliar | 30% |
| di atas Rp5 miliar | 35% |
Dengan demikian, menjawab pertanyaan Anda, tarif pajak yang dikenakan terhadap pekerja sebagai wajib pajak adalah bergantung pada penghasilan dari wajib pajak. Jadi tidak serta merta THR dipotong pajak sebesar 15%.
Mengenai contoh cara menghitung PPh bisa Anda temukan pada artikel Cara Menghitung Pajak Penghasilan untuk Pegawai Lajang dan Menikah.
Perkaya riset hukum Anda dengan analisis hukum terbaru dwi bahasa, serta koleksi terjemahan peraturan yang terintegrasi dalam Hukumonline Pro, pelajari lebih lanjut di sini.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
Dasar Hukum:
[1] Pasal 1 angka 1 Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan
[2] Pasal 1 angka 16 jo. Pasal 5 ayat (1) Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-16/PJ/2016 Tahun 2016 tentang Pedoman Teknis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pajak Penghasilan Pasal 26 Sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan Orang Pribadi (“Peraturan Dirjen Pajak 16/2016”)
[3] Pasal 10 ayat (3) Peraturan Dirjen Pajak 16/2016
[4] Pasal 3 angka 3 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan yang mengubah Pasal 7 ayat (1) undang-Undnag Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan