Kamis, 27 Desember 2012
Dibaca: 83503
Pertanyaan :
Orang-orang yang Terhalang Mendapat Warisan Menurut Hukum Islam
Dalam KHI Pasal 171 butir (c) disebutkan: Ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris. Yang ingin saya tanyakan yaitu dari kata-kata “tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris.” Pertanyaannya, apa saja yang menjadi penghalang karena hukum tersebut? Apakah ada dasar hukumnya yang menyebutkan tentang penghalang tersebut? Kalau ada, apa dan diatur di mana? Terima kasih.
Jawaban :

Yang dimaksud “terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris” sebagaimana bunyi Pasal 171 huruf c Kompilasi Hukum Islam (“KHI”) yaitu:

-      ahli waris tidak beragama Islam. Hal ini sesuai ketentuan Pasal 171 huruf c KHI yang menyatakan bahwa yang dapat menjadi ahli waris adalah yang beragama Islam.

-      terdapat putusan Hakim yang berkekuatan hukum tetap yang menghukum ahli waris tersebut karena dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat pada pewaris (Pasal 173 huruf a KHI); dan

-      terdapat putusan Hakim yang berkekuatan hukum tetap yang menghukum ahli waris tersebut karena dipersalahkan memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewaris melakukan kejahatan yang diancam dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih berat (Pasal 173 huruf b KHI).

 

Pada sisi lain, di dalam artikel Bagaimana Hak Waris Anak Tunggal yang Pindah Agama? dijelaskan antara lain bahwa ahli waris yang berbeda agama dengan pewaris yang beragama Islam tetap mendapatkan warisan. Hal ini didasarkan dengan adanya Putusan Mahkamah Agung No. 368.K/AG/1995, tanggal 16 Juli 1998 yang telah memiliki kekuatan hukum tetap dan telah menjadi yurisprudensi mengenai harta warisan pewaris Islam bagi anak-anaknya yang beragama Islam dan bukan Islam.

 

Selain itu, terdapat juga Putusan Mahkamah Agung RI No: 51K/AG/1999, tanggal 29 September 1999 yang pada intinya menyatakan bahwa ahli waris yang beragama bukan Islam tetap bisa mendapat harta dari pewaris yang beragama Islam. Ahli waris yang tidak beragama Islam tetap mendapatkan warisan dari pewaris yang bergama Islam berdasarkan Wasiat Wajibah yang bagiannya sama dengan bagian anak perempuan sebagai ahli waris. Yang dimaksud wasiat wajibah adalah wasiat yang walaupun tidak dibuat secara tertulis atau lisan namun tetap wajib diberikan kepada yang berhak atas warisan dari pewaris.

 
Lebih lanjut, Anda dapat juga membaca beberapa artikel di bawah ini:

-      Isteri Beda Agama Berhak Dapat Warisan Suami; dan

-      Putusan MA: Saudara Beda Agama Boleh Mendapatkan Harta Warisan.

 

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 
Dasar Hukum:

Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
MITRA : Bung Pokrol
Letezia Tobing mendapatkan gelar sarjana hukum dari Universitas Indonesia pada 2011 dengan mengambil Program Kekhususan IV (Hukum tentang Kegiatan Ekonomi), dan gelar Magister Kenotariatan dari Universitas Indonesia pada 2015.