Logo hukumonline
KlinikBeritaHukumonline StreamData PribadiJurnal
Personalisasi
Halo,
Anda,

Segera Upgrade paket berlangganan Anda.
Dapatkan fitur lebih lengkap
Ada pertanyaan? Hubungi Kami
Bahasa
id-flag
en-flag
Kekayaan Intelektual

Perlindungan Hak Cipta atas Logo berupa Gambar

Perlindungan Hak Cipta atas Logo berupa Gambar
Perlindungan Hak Cipta atas Logo berupa Gambar

PERTANYAAN

Saya bekerja di sebuah biro desain, dan telah menciptakan sebuah logo perusahaan untuk klien. Yang ingin saya tanyakan yaitu bagaimana hukumnya bila klien saya mendaftarkan paten logo yang saya ciptakan tanpa persetujuan saya? Kemudian, bisakah saya meminta pertanggungjawaban atas perbuatan klien saya yang mematenkan terhadap karya saya tanpa sepengetahuan saya? Terima kasih.

Daftar Isi

    INTISARI JAWABAN

    ULASAN LENGKAP

    Terima kasih atas pertanyaan Anda.

    Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran kedua dari artikel dengan judul Hak Cipta Logo yang dibuat oleh Letezia Tobing, S.H., M.Kn. dan pertama kali dipublikasikan pada 14 Februari 2013, yang pertama kali dimutakhirkan pada 02 April 2018.

    KLINIK TERKAIT

    Seluruh informasi hukum dalam Klinik Hukumonline disediakan semata-mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum. Silakan mempelajari Pernyataan Penyangkalan untuk informasi selengkapnya. Untuk memperoleh nasihat hukum yang sesuai dengan kasus Anda, silakan berkonsultasi langsung dengan Konsultan Mitra Justika.

    Logo sebagai Objek Dilindungi Hak Cipta

    Kami mengasumsikan bahwa logo yang Anda maksud adalah berupa gambar. Perlu diketahui terlebih dahulu, perlindungan untuk logo berbentuk gambar tidak dilakukan melalui paten. Berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU 65/2024, paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada inventor atas invensinya di bidang teknologi untuk jangka waktu tertentu melaksanakan sendiri invensi tersebut atau memberikan persetujuan kepada pihak lain untuk melaksanakannya.

    Belajar Hukum Secara Online dari Pengajar Berkompeten Dengan Biaya Terjangkau

    Mulai DariRp. 149.000

    Sementara itu, logo berupa gambar mendapatkan perlindungan hukum melalui hak cipta, sebagaimana diatur dalam Pasal 40 ayat (1) UU Hak Cipta yang berbunyi sebagai berikut:

    Ciptaan yang dilindungi meliputi ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, terdiri atas:

    1. buku, pamflet, perwajahan karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lainnya;
    2. ceramah, kuliah, pidato, dan ciptaan sejenis lainnya;
    3. alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;
    4. lagu dan/atau musik dengan atau tanpa teks;
    5. drama, drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim;
    6. karya seni rupa dalam segala bentuk seperti lukisan, gambar, ukiran, kaligrafi, seni pahat, patung, atau kolase;
    7. karya seni terapan;
    8. karya arsitektur;
    9. peta;
    10. karya seni batik atau seni motif lain;
    11. karya fotografi;
    12. potret;
    13. karya sinematografi;
    14. terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, basis data, adaptasi, aransemen, modifikasi dan karya lain dari hasil transformasi;
    15. terjemahan, adaptasi, aransemen, transformasi, atau modifikasi ekspresi budaya tradisional;
    16. kompilasi ciptaan atau data, baik dalam format yang dapat dibaca dengan Program komputer maupun media lainnya;
    17. kompilasi ekspresi budaya tradisional selama kompilasi tersebut merupakan karya yang asli;
    18. permainan video; dan
    19. program komputer.

    Perjanjian Pemegang Hak Cipta Atas Logo

    Selanjutnya, karena logo tersebut diciptakan atas permintaan klien kepada biro tempat Anda bekerja, langkah pertama yang perlu Anda lakukan adalah memeriksa perjanjian antara biro tempat Anda bekerja dan klien Anda. Apakah dalam perjanjian tersebut diatur mengenai siapa yang akan menjadi pencipta dan pemegang hak cipta?

    Selain itu , Anda juga perlu meninjau perjanjian kerja antara Anda dan biro tempat Anda bekerja. Pastikan apakah ada klausul yang mengatur mengenai siapa yang akan menjadi pemegang hak cipta atas karya yang Anda hasilkan. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 36 UU Hak Cipta yang berbunyi:

    Kecuali diperjanjikan lain, Pencipta dan Pemegang Hak Cipta atas Ciptaan yang dibuat dalam hubungan kerja atau berdasarkan pesanan yaitu pihak yang membuat Ciptaan.

    Adapun yang dimaksud dengan "hubungan kerja atau berdasarkan pesanan" adalah ciptaan yang dibuat atas dasar hubungan kerja di lembaga swasta atau atas dasar pesanan pihak lain.[1]

    Dalam hal ini, Anda menciptakan karya tersebut atas dasar hubungan kerja dengan biro tempat Anda bekerja dan berdasarkan pesanan klien kepada biro tempat Anda bekerja. Apabila dalam perjanjian kerja antara Anda dan biro tercantum bahwa hak cipta atas karya Anda dimiliki oleh biro tempat Anda bekerja, maka biro tersebut menjadi pemegang hak cipta atas karya tersebut. Namun, apabila tidak ada ketentuan tersebut dalam perjanjian, maka hak cipta atas karya (logo) tersebut tetap menjadi milik Anda .

    Selanjutnya, Anda juga perlu meninjau perjanjian pesanan antara biro tempat Anda bekerja dengan klien Anda. Jika perjanjian tersebut tidak mencantumkan siapa yang menjadi pemegang hak cipta, maka hak cipta tetap berada pada Anda atau biro tempat Anda bekerja sepanjang hal tersebut telah diatur dalam perjanjian kerja Anda. Namun, jika dalam perjanjian disebutkan bahwa klien Anda adalah pemegang hak cipta, maka hak cipta atas karya tersebut adalah klien Anda.

    Jika dalam perjanjian antara biro tempat Anda bekerja dengan klien tidak diatur mengenai siapa yang akan memegang hak cipta, maka sesuai dengan Pasal 36 UU Hak Cipta, Anda atau biro tempat Anda bekerja adalah pemegang hak cipta atas logo tersebut sesuai kesepakatan dalam perjanjian kerja Anda.

    Oleh karena itu, apabila klien mendaftarkan logo tersebut atas namanya, Anda atau biro tempat Anda bekerja berhak untuk mengajukan permohonan pembatalan pendaftaran logo tersebut. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 97 jo. Pasal 69 ayat (1) UU Hak Cipta, yang menyatakan:

    Pasal 69 ayat (1) UU Hak Cipta

    Dalam hal Menteri menerima Permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (4), Menteri menerbitkan surat pencatatan Ciptaan dan mencatat dalam daftar umum Ciptaan.

    Pasal 97 UU Hak Cipta

    1. Dalam hal Ciptaan telah dicatat menurut ketentuan Pasal 69 ayat (1), pihak lain yang berkepentingan dapat mengajukan gugatan pembatalan pencatatan Ciptaan dalam daftar umum Ciptaan melalui Pengadilan Niaga.
    2. Gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan kepada Pencipta dan/atau Pemegang Hak Cipta terdaftar.

    Apabila dalam perjanjian antara biro tempat Anda bekerja dengan klien disepakati bahwa hak cipta atas logo dimiliki oleh klien, maka baik Anda maupun biro tempat Anda bekerja tidak memiliki hak untuk mengajukan permohonan pembatalan pencatatan ciptaan dalam daftar umum ciptaan (hak cipta) atas logo tersebut.

    Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

    Dasar hukum:

    1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta;
    2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2016 tentang Paten;
    3. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja;
    4. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang;
    5. Undang-Undang Nomor 65 Tahun 2024 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-undang Nomor 13 Tahun 2016 Tentang Paten.


    [1] Penjelasan Pasal 36 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta

    TAGS