Haruskah Bukti Penyetoran Modal PT Diperlihatkan ke Notaris?
Bacaan 8 Menit

Pro

Pusat Data
Koleksi peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan yang sistematis serta terintegrasi
Solusi
Wawasan Hukum
Klinik
Tanya jawab gratis tentang berbagai isu hukum
Berita
Informasi dan berita terkini seputar perkembangan hukum di Indonesia
Jurnal
Koleksi artikel dan jurnal hukum yang kredibel untuk referensi penelitian Anda
Event
Informasi mengenai seminar, diskusi, dan pelatihan tentang berbagai isu hukum terkini
Klinik
Berita
Login
Pro
Layanan premium berupa analisis hukum dwibahasa, pusat data peraturan dan putusan pengadilan, serta artikel premium.
Solusi
Solusi kebutuhan dan permasalahan hukum Anda melalui pemanfaatan teknologi.
Wawasan Hukum
Layanan edukasi dan informasi hukum tepercaya sesuai dengan perkembangan hukum di Indonesia.
Catalog Product
Ada Pertanyaan? Hubungi Kami


Bacaan 8 Menit

Terima kasih atas pertanyaan Anda.
Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran kedua dari artikel dengan judul sama yang dibuat Irma Devita Purnamasari, S.H., M.Kn. dan pertama kali dipublikasikan pada Rabu, 15 Oktober 2014, yang dimutakhirkan pertama kali oleh Erizka Permatasari, S.H. pada tanggal 03 Desember 2020.
Seluruh informasi hukum yang ada di Klinik hukumonline.com disiapkan semata – mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum (lihat Pernyataan Penyangkalan selengkapnya). Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Konsultan Mitra Justika.
Berdasarkan Pasal 109 angka 1 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 1 angka 1 UU PT, Perseroan Terbatas (“PT”) adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham atau badan hukum perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro dan kecil.
Sebelumnya, kami asumsikan bahwa PT yang Anda maksud adalah PT persekutuan modal bukan PT perorangan. Dalam definisi diterangkan bahwa PT melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar. Sebagaimana pernah dijelaskan dalam Perbedaan Modal Dasar, Modal Ditempatkan, dan Modal Disetor PT, selain modal dasar, terdapat juga modal ditempatkan dan modal disetor dalam pendirian PT.
Menurut, M. Yahya Harahap dalam bukunya Hukum Perseroan Terbatas (hal. 233) menjelaskan modal dasar adalah seluruh nilai nominal saham PT yang disebut dalam Anggaran Dasar (“AD”), yang pada prinsipnya merupakan total jumlah saham yang dapat diterbitkan oleh PT. Hal ini selaras dengan ketentuan Pasal 31 ayat (1) UU PT yang menyebutkan bahwa modal dasar perseroan terdiri atas seluruh nominal saham.
Pada dasarnya, PT wajib memiliki modal dasar perseroan.[1] Sebelum berlakunya UU Cipta Kerja, Pasal 32 ayat (1) UU PT mengatur bahwa modal dasar PT paling sedikit Rp50 juta. Namun, saat ini ketentuan tersebut sudah diubah, besaran modal dasar PT saat ini ditentukan berdasarkan keputusan pendiri PT.[2]
Perlu diingat, bahwa nominal modal dasar yang ditentukan tersebut tidak harus disetor sepenuhnya pada masa awal pendirian PT. Kewajiban menempatkan dan menyetor penuh adalah paling sedikit 25% dari modal dasar.[3] Frasa ‘penuh’ ini berarti tidak boleh diangsur.[4] Misalnya, apabila modal dasar Rp50 juta, maka modal ditempatkan dan disetornya sebesar Rp12,5 juta.
Sebagai informasi, penyetoran atas modal saham dapat dilakukan dalam bentuk uang dan/atau dalam bentuk lainnya.[5] Dalam hal penyetoran modal saham dalam bentuk lain, penilai setoran modal saham ditentukan berdasarkan nilai wajar yang ditetapkan sesuai dengan harga pasar atau oleh ahli yang tidak terafiliasi dengan PT.[6]
Kemudian, modal yang ditempatkan dan disetor penuh tersebut dibuktikan dengan bukti penyetoran yang sah, antara lain berupa bukti setoran pemegang saham ke dalam rekening bank atas nama PT, data dari laporan keuangan yang telah diaudit oleh akuntan, atau neraca PT yang ditandatangani oleh direksi dan dewan komisaris.[7]
Bukti penyetoran yang sah ini wajib disampaikan secara elektronik kepada menteri dalam waktu paling lama 60 hari terhitung sejak tanggal:[8]
Oleh karena itu, bukti penyetoran yang sah wajib disampaikan secara elektronik kepada menteri, dalam hal ini menteri yang menyelenggarakan pemerintahan di bidang hukum dan hak asasi manusia.[9]
Lantas, apakah apakah bukti penyetoran harus diperlihatkan pada notaris?
Berkenaan dengan pertanyaan Anda, perlu diketahui bahwa pendirian PT persekutuan modal dilakukan oleh pemohon melalui notaris dengan mengisi format isian pendirian secara elektronik melalui Sistem Administrasi Badan Hukum (“SABH”).[10]
Pengisian format di atas harus dilengkapi dengan dokumen pendukung, yang terdiri atas:[11]
Berdasarkan Pasal 6 ayat (2) Permenkumham 21/2021, dokumen pendukung pendirian PT pada poin 3 sampai 8 disimpan oleh notaris.
Dari penjelasan di atas, meskipun tidak disebutkan secara tegas, namun notaris di sini berperan sebagai sarana bagi pemohon untuk pendirian PT persekutuan modal. Kemudian, notaris juga berperan untuk menyimpan dokumen pendukung yang salah satunya adalah bukti setor modal PT. Jadi, secara tidak langsung bukti penyetoran modal PT akan diperlihatkan kepada notaris.
Perkaya riset hukum Anda dengan analisis hukum terbaru dwibahasa, serta koleksi terjemahan peraturan yang terintegrasi dalam Hukumonline Pro, pelajari lebih lanjut di sini.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
Dasar Hukum:
Referensi:
Yahya Harahap. Hukum Perseroan Terbatas. Jakarta: Sinar Grafika, 2016.
[1] Pasal 109 angka 3 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja (“Perppu Cipta Kerja”) yang mengubah Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (“UU PT”)
[2] Pasal 109 angka 3 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 32 ayat (2) UU PT
[3] Pasal 33 ayat (1) UU PT
[4] Penjelasan Pasal 33 ayat (3) UU PT
[5] Pasal 34 ayat (1) UU PT
[6] Pasal 34 ayat (2) UU PT
[7] Pasal 33 ayat (2) UU PT dan penjelasannya
[8] Pasal 4 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2021 tentang Modal Dasar Perseroan serta Pendaftaran Pendirian, Perubahan, dan Pembubaran Perseroan yang Memenuhi Kriteria untuk Usaha Mikro dan Kecil (“PP 8/2021”)
[9] Pasal 1 angka 5 PP 8/2021
[10] Pasal 5 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 21 Tahun 2021 tentang Syarat dan Tata Cara Pendaftaran Pendirian, Perubahan, dan Pembubaran Badan Hukum Perseroan Terbatas (“Permenkumham 21/2021”)
[11] Pasal 6 ayat (1) Permenkumham 21/2021