Syarat dan Cara Menjadi Kurator
Bacaan 7 Menit

PERTANYAAN
Saya memiliki pertanyaan seputar kurator:
- Apa yang dimaksud dengan kurator?
- Apa saja syarat menjadi kurator? Bagaimana cara menjadi kurator kepailitan?
- Berapa gaji kurator?


Bacaan 7 Menit

Saya memiliki pertanyaan seputar kurator:
Terima kasih atas pertanyaan Anda.
Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran ketiga dari artikel dengan judul Syarat dan Prosedur Menjadi Kurator yang dibuat oleh Shanti Rachmadsyah, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada 14 Mei 2010, dimutakhirkan pertama kali oleh Tri Jata Ayu Pramesti, S.H., pada 23 Maret 2018, dan dimutakhirkan kedua kali pada 03 Juni 2020.
Seluruh informasi hukum yang ada di Klinik hukumonline.com disiapkan semata – mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum (lihat Pernyataan Penyangkalan selengkapnya). Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Konsultan Mitra Justika.
Menurut Pasal 1 angka 5 UU 37/2004, kurator adalah balai harta peninggalan atau orang perseorangan yang diangkat oleh pengadilan untuk mengurus dan membereskan harta debitor pailit di bawah pengawasan hakim pengawas sesuai dengan UU 37/2004.
Soal kurator yang Anda tanyakan, kami asumsikan adalah kurator orang perseorangan, yakni:[1]
Lantas, apa syarat menjadi kurator?
Menjawab pertanyaan Anda mengenai syarat menjadi kurator, kami akan berpedoman pada ketentuan Permenkumham 37/2018. Berdasarkan Pasal 3 Permenkumham 37/2018, untuk dapat terdaftar sebagai kurator, pemohon harus memenuhi syarat sebagai berikut:
Lantas, bagaimana cara menjadi kurator?
Setelah memenuhi persyaratan di atas, cara menjadi kurator kepailitan adalah pemohon dapat melakukan permohonan pendaftaran kurator yang diajukan kepada Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum (“Dirjen AHU”), melalui laman resmi Ditjen AHU Online dengan mengunggah kelengkapan dokumen persyaratan berupa:[2]
Setelah itu, Dirjen AHU melakukan verifikasi administrasi secara elektronik setiap permohonan dalam jangka waktu paling lama 3 hari kerja terhitung sejak tanggal permohonan diterima.[3]
Jika dalam hal berdasarkan hasil verifikasi terdapat kekurangan kelengkapan dokumen persyaratan, Dirjen AHU memberitahukan secara elektronik kepada pemohon untuk melengkapi dokumen dalam jangka waktu paling lama 14 hari kerja terhitung sejak tanggal pemberitahuan disampaikan.[4] Jika melebihi tenggat waktu tersebut, permohonan dinyatakan ditolak.[5]
Terhadap permohonan yang telah dinyatakan ditolak, pemohon tetap dapat mengajukan kembali permohonan pendaftaran sebagai kurator.[6]
Namun, jika dalam hasil verifikasi kelengkapan dokumen persyaratan dinyatakan lengkap, Dirjen AHU menerbitkan surat bukti pendaftaran kurator yang disampaikan kepada pemohon secara elektronik melalui laman resmi Dirjen AHU.[7]
Surat bukti pendaftaran kurator ini dapat langsung dicetak oleh pemohon menggunakan kertas berwarna putih ukuran F4/folio dengan berat 80 gram.[8]
Masa berlaku surat bukti pendaftaran kurator berdasarkan Pasal 8 ayat (4) Permenkumham 37/2018 adalah 5 tahun sejak tanggal diterbitkan dan dapat diperpanjang.
Selain syarat dan cara menjadi kurator, Anda juga bertanya perihal berapa gaji kurator? Berkaitan dengan hal tersebut dapat Anda temukan pada artikel Intip Besaran Imbalan Jasa Kurator di Aturan Ini. Berdasarkan artikel tersebut, pada intinya gaji kurator atau imbalan jasa kurator ditentukan setelah kepailitan berakhir dan persentase besarannya ditentukan berdasarkan bagaimana cara kepailitan berakhir.
Perkaya riset hukum Anda dengan analisis hukum terbaru dwibahasa, serta koleksi terjemahan peraturan yang terintegrasi dalam Hukumonline Pro, pelajari lebih lanjut di sini.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
Dasar Hukum:
Referensi:
Ditjen AHU Online, yang diakses pada 12 September 2025, pukul 14.00 WIB.
[1] Pasal 70 ayat (1) huruf b dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang jo. Pasal 1 angka 1 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 37 Tahun 2018 tentang Syarat dan Tata Cara Pendaftaran Serta Penyampaian Laporan Kurator dan Pengurus (“Permenkumham 37/2018”)
[2] Pasal 4 ayat (1) dan (2) Permenkumham 37/2018
[3] Pasal 6 ayat (1) Permenkumham 37/2018
[4] Pasal 6 ayat (2) dan (3) Permenkumham 37/2018
[5] Pasal 6 ayat (4) Permenkumham 37/2018
[6] Pasal 7 Permenkumham 37/2018
[7] Pasal 8 ayat (1) dan (2) Permenkumham 37/2018
[8] Pasal 8 ayat (3) Permenkumham 37/2018