Rabu, 29 April 2020

Hukumnya Menyimpangi Pemanfaatan Tanah Wakaf

Hukumnya Menyimpangi Pemanfaatan Tanah Wakaf

Pertanyaan

Ayah saya mewakafkan sebuah tanah dan bangunan untuk tempat tinggal pengurus masjid. Ternyata setelah beberapa lama, rumah tersebut tidak lagi ditinggali oleh pengurus masjid dan keluarganya saja, namun juga menjadi tempat berjualan (warung) dan dengan mendirikan bangunan lain untuk warung dan tempat tinggal saudara pengurus masjid yang berjualan di situ. Bagaimana hukumnya? Apakah diperbolehkan penggunaannya selain yang diperuntukan ketika akad? Dan apakah ayah saya boleh meminta sebagian keuntungan warung tersebut?

Intisari Jawaban

Agar wakaf di Indonesia memiliki kedudukan hukum yang sah, harus dilaksanakan sesuai dengan syarat-syarat pelaksanaan dan ketentuan wakaf sebagaimana diterangkan dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, Peraturan Pemerintah Nomor 42 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf dan perubahannya serta Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.
 
Peruntukan dan pemanfaatan wakaf haruslah sesuai dengan peruntukan pada waktu pernyataan ikrar wakaf. Perubahan peruntukan hanya mungkin dilakukan oleh nazhir dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dan wakif pun tidak diperbolehkan mengambil kembali harta benda tersebut dan tidak pula diperbolehkan mengambil hasil dari pemanfaatan atau pengelolaan harta benda tersebut tanpa kecuali.
 
Penjelasan lebih lanjut dapat Anda klik ulasan di bawah ini.

 

Lihat Ulasan Lengkap

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua