Aspek Hukum Kepemilikan Rumah Berstatus ‘Magersari’

Bacaan 5 Menit
Aspek Hukum Kepemilikan Rumah Berstatus ‘Magersari’
Pertanyaan

Saya ada kasus terkait Magersari antara A (sudah meninggal) dan B (masih hidup tetapi hilang akal). A punya rumah yang kemudian rumah itu ditempati oleh B sejak 1995. Berdasarkan kesepakatan lisan, B diperbolehkan untuk membangun dan mengelola rumah itu seperti rumahnya sendiri. Sebelum hilang akal, B ini hendak menjual rumah yang ia tempati, padahal sertifikatnya atas nama A (belum dibagi waris), sayangnya anak-anak dari A tidak mau memberikan rumah ini. Setelah B kena sakit hilang akal, anak-anaknya B lalu menawarkan diri untuk membeli rumah tersebut, namun anak-anak A tetap tidak mau. Apa yang bisa dilakukan B?

Intisari Jawaban

Magersari didefinisikan sebagai orang yang rumahnya menumpang di pekarangan orang lain. Dalam praktik, magersari tidak dikenakan uang sewa tanah.

Meski demikian, untuk membuktikan kepemilikan, pemegang hak harus mempunyai sertifikat hak atas tanah. Sehingga dalam kasus Anda, pemilik atas rumah magersari tersebut tetaplah milik A yang sudah meninggal dunia atau milik para ahli warisnya. Lantas, apa yang bisa dilakukan B dan keluarganya jika akan membeli rumah magersari itu?

Penjelasan lebih lanjut dapat Anda klik ulasan di bawah ini.

Punya Masalah Hukum Yang Sedang Dihadapi?
Mulai dari Rp 30.000
Powered By Justika