Jumat, 27 September 2013
Dibaca: 30119
Pertanyaan :
Pasal untuk Menjerat Ibu yang Membunuh Bayinya Karena Malu
Bung, dalam Pasal 341 KUHP ada yang disebutkan " ...tidak lama kemudian...". Apakah ada batasan waktu/batasan lainnya yang menjadi tolak ukur dalam menentukan rumusan tersebut (apakah dalam waktu 24 jam mulai anak itu lahir atau yang lainnya)? Dan yang lainnya disebutkan "...diancam membunuh anak sendiri...". Yang saya tanyakan, apabila ada wanita yang melahirkan itu sebenarnya hanya dititipi zygot (benih) oleh pasangan lain (karena istri dari pasangan itu rahimnya rusak), apakah wanita yang melahirkan tersebut bisa dikenai Pasal 341? Atau jika tidak maka dikenai pasal berapa dari KUHP? Terima kasih atas penjelasannya.
Jawaban :

Sebelumnya, kami akan menjabarkan terlebih dahulu bunyi selengkapnya Pasal 341 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) sebagai berikut:

 

“Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.”

 

Menurut R. Soesilo dalam bukunya yang berjudul Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, terkait pasal ini, yang dihukum di sini adalah seorang ibu, baik kawin maupun tidak, yang dengan sengaja (tidak direncanakan terlebih dahulu), membunuh anaknya pada waktu dilahirkan atau tidak beberapa sesudah dilahirkan, karena takut ketahuan, bahwa ia sudah melahirkan anak. Kejahatan ini dinamakan “makar mati anak” atau “membunuh biasa anak”. Apabila pembunuhan tersebut dilakukan dengan direncanakan terlebih dahulu, dikenakan Pasal 342 KUHP.

 

Lebih lanjut, R. Soesilo menjelaskan bahwa syarat terpenting dari pembunuhan tersebut adalah pembunuhan anak itu dilakukan oleh ibunya dan harus terdorong oleh rasa ketakutan akan diketahui kelahiran anak itu. Biasanya anak yang didapat karena berzina atau hubungan kelamin yang tidak sah. Apabila syarat ini tidak ada, maka perbuatan ini dikenakan sebagai pembunuhan biasa pada Pasal 338 atau Pasal 340 KUHP.

 

Mengenai waktu yang menjadi tolak ukur dari kalimat “… pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian … dalam Pasal 341 KUHP, tidak ada penjelasan khusus mengenai hal ini. Sejak anak tersebut lahir ke dunia, seberapa lama atau sebentarnya pun waktu anak itu lahir, maka sejak saat itulah pasal ini dapat diterapkan.

 

Berdasarkan penjelasan di atas dapat juga kita lihat bahwa Pasal 341 KUHP tidak melihat apakah bayi yang dikandungnya merupakan benih sendiri atau benih dari pasangan lain. Yang dicermati dari pasal ini adalah perasaan ketakutan atau malu dari si ibu yang telah melahirkan anak tersebut.

 

Terkait pasal ini, S.R. Sianturi, S.H., dalam bukunya yang berjudul Tindak Pidana di KUHP Berikut Uraiannya (hal. 493), sebagaimana kami sarikan, mengatakan bahwa unsur kesengajaan hanya meliputi tindakannya dan objek tindakannya yaitu anak dari kandungannya sendiri. Dia harus menyadari bahwa dengan tindakan itu jiwa anak itu dirampas. Tindakan yang dilarang adalah merampas jiwa anak (kandung/sendiri) pada saat ia dilahirkan atau tidak lama setelah itu dan karena subjeknya dipengaruhi oleh perasaan takut akan ketahuan bahwa ia melahirkan. Bagaimana caranya melakukan tindakannya yang merupakan perampasan jiwa itu tidak ditentukan.

 

Ini berarti yang ditekankan dalam pasal ini adalah bahwa anak tersebut lahir dari kandungannya sendiri. Tidak dijelaskan apakah memang anak yang secara biologis adalah anaknya atau anak yang dititipkan di rahimnya.

 

Dalam kasus yang Anda ceritakan, perlu ditelaah apakah wanita itu memang malu telah melahirkan bayi tersebut atau memang ada motivasi lain di balik dibunuhnya bayi yang ia kandung. Jika memang dibunuhnya bayi tersebut oleh karena didorong oleh perasaan ketakutan atau malu, maka wanita tersebut dapat dipidana sesuai ketentuan Pasal 341 KUHP.

 

Mengenai status bayi tersebut yang bukan berasal dari sel telur wanita yang mengandung dan melahirkannnya, wanita yang melahirkannya tetap adalah ibu dari bayi yang dalam hal ini dikenal istilah ibu pengganti (surrogate mother) dan anak itu adalah anaknya. Penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini, dapat Anda baca dalam artikel yang berjudul Surrogate Mother (Ibu Pengganti) dan Status Hukum Anak Hasil Sewa Rahim.

 

Jadi, pada dasarnya wanita yang dititipi benih tersebut dapat dipidana dengan Pasal 341 KUHP jika ia membunuh bayi yang ada dalam kandungannya. Ini karena sebagaimana telah dijelaskan di atas, status dari wanita itu adalah ibu dari bayi tersebut.

 

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 

Dasar hukum:

1.    Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Wetboek van Strafrecht) Staatsblad Nomor 732 Tahun 1915

2.    Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) Staatsblad Nomor Nomor 23 Tahun 1847

 
Referensi:

1.    R. Soesilo. 1991. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal. Politeia: Bogor.

2.    S.R. Sianturi, S.H. 1996. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. Alumni Ahaem-Petehaem: Jakarta.

 

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Justika.com adalah terknologi terbaru hukumonline yang bekerja sebagai pusat informasi yang mempertemukan antara pencari bantuan hukum dan para profesional hukum dibidangnya masing-masing.

Temukan profesional hukum sesuai dengan permasalahan anda didalam jaringan justika.com
MITRA : Bung Pokrol
Tri Jata Ayu Pramesti mendapatkan gelar sarjana hukum dari Universitas Indonesia pada 2011 dengan mengambil Program Kekhususan IV (Hukum tentang Kegiatan Ekonomi).