Hukumonline’s NeXGen Lawyers 2019

Peran Lawyer dalam Pembentukan Holding BUMN

Paula Aprijanto sebelumnya tak pernah berpikir untuk menjalani profesi sebagai seorang lawyer.

Oleh:
CT-CAT
Bacaan 2 Menit
Paula Aprijanto. Foto: Istimewa.
Paula Aprijanto. Foto: Istimewa.

Ketertarikan Paula dengan bidang hukum bisnis mulai bersemi pada tahun 2009 ketika mengikuti Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study, program pertukaran pelajar yang diselengarakan oleh US Department of State. Program ini memberikan kesempatan bagi pelajar SMA yang berasal negara dengan mayoritas penduduk Muslim untuk bersekolah di Amerika Serikat. Melalui kesempatan ini, Paula mengenyam pendidikan di William B. Travis High School, Houston, Texas.

 

Dari kesempatan itu, Paula melihat ada perbedaan sistem akademik dengan Indonesia. Di sana, siswa diberikan keleluasaan untuk menentukan sendiri mata pelajaran yang akan diambil sesuai dengan bakat dan minat. Paula pun memilih mengambil beberapa mata pelajaran yang tidak dapat ia temukan di Indonesia, termasuk kelas business law.

 

“Tidak mudah memang, tapi ending-nya justru lebih manis,” tutur Paula.

 

Paula menilai, kali pertama mengikuti kelas tersebut sebagai pengalaman unik dan tidak terlupakan. Ia harus membiasakan diri membaca literatur-literatur dalam Bahasa Inggris dan beberapa putusan kasus sehubungan dengan defamation, torts, dan lain sebagainya. Sebagai seorang pelajar SMA, ranah ini tentu terasa asing. Selain itu, kelas ini juga memberikan pengalaman bagi Paula untuk menghadiri sidang kasus aktual di county court serta ikut serta dalam ­mock-court simulation guna memberikan gambaran lebih lanjut atas sistem peradilan di Amerika Serikat.

 

Awalnya Paula bermaksud untuk melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat. Namun, keterbatasan biaya membuat ia harus mengurungkan niat dan melanjutkan pendidikan di Indonesia.

 

“Ibu saya sebenarnya ingin saya menjadi dokter. Namun, tak pernah tebersit di hati saya untuk mendalami profesi tersebut,” Paula melanjutkan.

 

Maklum, sebagai anak jurusan ilmu pengetahuan alam (IPA) di SMA, orang tuanya merasa bahwa jalan hidup Paula adalah menjadi dokter atau insinyur. Setelah mengalami perdebatan panjang dan memperoleh restu dari kedua orang tua, ia mantap untuk mendaftar pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia sebagai pilihan pertama.

 

Selama masa perkuliahan, Paula juga terlibat aktif dalam berbagai organisasi, yakni Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan International Law Moot Court Society. Dengan ketekunan belajar, Paula berhasil meraih cita-citanya: lulus dalam waktu 3,5 tahun dengan predikat cumlaude pada tahun 2015, dengan spesialisasi Hukum Bisnis.

Tags:

Berita Terkait