Selasa, 05 Januari 2016

Baper Lawyer, Pengacara Ber-Stand Up Lewat Buku

Dari total sembilan bab, di luar kata pengantar yang diplesetkan menjadi ‘peringatan’ dan perkenalan serta profil penulis dan deskripsi tentang apa itu stand up comedy, terdapat dua bab yang eksplisit menggunakan istilah “pengacara”.
RZK
Foto: RES
Biasa tampil di panggung, stand up comedian atau biasa disebut komika, Arry Wibowo mencoba wahana lain untuk melawak. Arry menulis buku dengan judul Baper Lawyer: Berani Curcol Gak Berani Lapor.
 
Buku Baper Lawyer dengan tebal 130 halaman ditulis Arry yang kebetulan berprofesi sebagai lawyer, dengan misi untuk menunjukkan bahwa hukum itu tidak melulu identik dengan sesuatu yang kaku dan serius. Hukum itu (ternyata) juga bisa dikemas dengan santai dan jenaka, lho.
 
Upaya Arry bersama tim editor dan penerbit mewujudkan misi tersebut sudah nyata terlihat sejak sampul halaman muka. Pemilihan gambar karikatur penulis yang tengah berstand up di panggung adalah simbol jelas bahwa buku Baper Lawyer bukan buku serius. Ketidakseriusan itu semakin jelas ketika kita menegok ke dalam isi buku.
 
Di bagian dalam, tidak hanya semakin banyak dan beragam gambar yang muncul, pemilihan jenis huruf ‘santai’ yang lazim dipakai buku komik, hingga yang utama tentunya materi redaksional yang disajikan Arry seolah-olah ingin mengajak pembaca, yang belum tentu orang hukum, untuk menyelami dunia hukum dengan ‘kacamata bercanda’.
 
Senafas dengan latar belakang profesi penulis, mayoritas materi buku ini memang bercerita tentang kehidupan pengacara. Dari total sembilan bab, di luar kata pengantar yang diplesetkan menjadi ‘peringatan’ dan perkenalan serta profil penulis dan deskripsi tentang apa itu stand up comedy, terdapat dua bab yang eksplisit menggunakan istilah “pengacara”.
 
Pertama, bab “Pengacara Aneka Gaya” yang berisi lima sub bab. Kedua, bab “Pengacara Ngondek” yang berisi empat sub bab. Di luar dua bab ini, Arry tetap berupaya menyelipkan kisah pengacara. Misalnya, sub bab “Tahanan Kota” yang berkisah tentang pengalaman seorang pengacara ketika mengurus kliennya yang akan menjadi tahanan.
 
Berikutnya, sub bab “Tak Batak, Maka Tak Terkenal” dan “Tanya Pengacara Saya” pada bab “Salah Sambung” yang berkisah tentang stereotip pengacara yang kebanyakan dari suku batak dan begitu dominannya peran pengacara yang mendampingi klien dari kalangan selebritis atau pejabat.  
 
Menggeluti dunia pengacara litigasi dan korporasi selama puluhan tahun, Arry cukup fasih dalam menuturkan berbagai aspek kehidupan seorang pengacara. Bahkan, sebagian kisah dalam buku diakui Arry dengan tanda pagar #TrueStory berasal dari pengalaman nyata yang dilaluinya. Mulai dari persoalan tarif, suka duka mendampingi klien, hingga bagaimana serunya berhadapan dengan ragam karakter aparat penegak hukum.
 
Sesuai dengan judulnya Baper Lawyer – Baper adalah akronim dari ‘bawa perasaan’, istilah yang populer di kalangan anak muda zaman sekarang -, buku ini sejatinya memang tempat curahan hati Arry sebagai seorang pengacara yang resah melihat kondisi hukum Indonesia yang carut marut.
 
Apa yang dituturkan Arry dalam buku ini, sebagian atau seluruhnya, mungkin terdengar tidak asing bagi anda. Misalnya soal praktik suap menyuap dalam proses tilang yang sepertinya menjadi rahasia umum di masyarakat. Atau soal perilaku sebagian advokat yang senang mempertontonkan kemewahan. Ditambah lagi dengan tindak tanduk para pengacara artis yang kerap tampil di acara infotainment.
 
Terlepas dari isinya, keputusan Arry berani menulis buku mungkin bisa disebut sebagai ‘uji nyali’, karena sebagai komika, Arry tentunya lebih terbiasa melawak secara lisan, bukan tulisan. Keduanya jelas memiliki tantangan yang berbeda.
 
Sebagian kalangan mungkin berpendapat tampil di panggung berhadapan langsung dengan penonton lebih mudah ketimbang melawak melalui buku yang sulit diraba siapa pembacanya, dari latar belakang apa, laki-laki atau perempuan dan sebagainya.  
 
Jika tampil di panggung, seorang komika bisa secara langsung membaca situasi. Penonton ketawa berarti lawakan komika berhasil, dan jika sebaliknya alias tidak berhasil, komika bisa langsung atur strategi bagaimana caranya supaya penonton tertawa. Berbeda jika melalui buku, komika tidak mendapat respon langsung dari pembaca.
 
Sebagian kalangan lain mungkin berpendapat sebaliknya. Melawak melalui buku lebih mudah, karena komika setidaknya memiliki waktu yang panjang, bisa hitungan bulan atau tahun, untuk merumuskan materi lawakan yang terbaik agar pembaca tertawa. Berbeda, jika tampil di panggung, komika sangat mengandalkan spontanitas.
 
Sebagai catatan, Arry Wibowo bukan komika pertama yang menulis buku. Sebelumnya, Raditya Dika, Ernest Prakasa, dan Soleh Solihun juga menulis buku. Sejauh ini, jika merujuk pada website penilaian buku yang cukup terkenal www.goodreads.com, ketiga komika yang disebut tadi mendapat penilaian cukup bagus. Rata-rata mendapat nilai lebih dari 3, dengan skala penilaian tertinggi 5.
 
Pertanyaannya, apakah buku Baper Lawyer karya Arry Wibowo akan mengikuti jejak Raditya Dika dkk? Kita tunggu saja. Sambil menunggu, silakan anda ke toko buku terdekat untuk mendapatkan buku perdana lawyer comic yang sudah bergelar haji ini.

 
Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua