Selasa, 12 July 2016

Wow, Demam Pokemon Go Merambat ke Dunia Lawyer

Semua dilatarbelakangi kesukaan pada Pokemon saat masih kecil.
HAG
Ilustrasi permainan Pokemon Go. Foto: YOZ
Meski belum dirilis di Indonesia, demam game Pokemon Go ternyata sudah merambah dunia lawyer. Lihat saja Fenny Marlinda dari lawfirm Kadar and Partners. Dia mengaku megunduh Pokemon Go lantaran sejak kecil menyukai kartun Pokemon, sampai-sampai mengoleksi boneka Pokemon. Adanya game Pokemon Go membuat kesukaannya terhadap kartun Pokemon terobati.

“Saya memang penggemar pokemon. Ingin tahu dan kangen aja. Dulu suka Pokemon sampai punya DVD, kartu, dan boneka. Sehingga saat tahu ada gamesnya penasaran banget. Baru download dua hari lalu dan itu pun juga tahu dari orang. Di sini (Indonesia, red) belum rilis. Baru dirilis di US dan Australia,” tutur perempuan yang akrab disapa Linda, Selasa (12/7).

Walau ketagihan dengan game Pokemon, Linda mengaku tidak memiliki waktu khusus untuk berburu Pokemon. Sampai saat ini, dia baru mendapatkan tiga Pokemon. Satu Pokemon dia dapat di toilet kos-an, sedangkan di kantor mendapat dua pokemon. Sehingga Pokemon Go tersebut tidak mengganggu kerjanya di kantor.

“Kalau di kantor ya tak main, karena memang tak seniat itu untuk main. Cuma tadi saja, tidak sengaja ada pokemon di atas foto copy-an. Sayangnya, lumayan boros baterai karena kan menggunakan GPS dan butuh signal yang bagus. Saya belum sempet jalan jauh. Baru nemu di toilet kosan dan di kantor. Sebenernya, inti mainnya pokemon itu kan banyak monster. Nanti kita keluarin bola, lempar bola kemudian masuk ke situ. Sejauh ini sih baru dapat tiga pokemon,” tutur Linda.

Berbeda dengan Linda, Setyaning Kartika, lawyer dari AYMP Atelier of Law menuturkan mengunduh game tersebut lantaran sama dengan kartun aslinya. Tingkat keseruan Pokemon Go membuatnya sudah sampai level 5, padahal baru Senin kemarin mendownload.

“Nge-download karena seru aja, addictive banget gamesnya. Dia kan ceritanya sama dengan kaya kartunnya. Sama mencari pokemon. Seru karena konsep games dan aslinya sama. Sekarang sudah level lima padahal download baru kemarin. Kalau mau battle ya di level lima. Pokemon battle untuk melatih pokemon supaya kuat,” ujarnya.

Setyaning mengaku bahwa demam Pokemon juga dirasakan oleh teman- teman sekantornya. Namun, hal itu tidak mengganggu ritme kerja di kantornya. “Di kantor banyak yang main. Jadi karena ini games baru jadi suka diomongin bareng teman-teman di kantor. Suka dibahas dapet pokemonnya di mana, akhirnya ngobrolin common knowledge. Ya, intinya tidak ganggu kerjaan karena kalau lawyer kan deadline. Juga tidak punya waktu khusus untuk berburu pokemon. Kemarin saja kan baru download, saat pulang kantor sampai kos-an kalau ketemu ya ditangkap. Akhirnya dapat sepuluh pokemon dari keluar kantor sampai kosan,” tuturnya.

Pengacara Publik LBH Jakarta, Aldo Felix, mengaku sudah mendowload Pokemon Go sejak hari pertama dirilis. Dia mengunduh game tersebut dikarenakan memang menyukai pokemon sejak tahun 1996. Sejak tahun tersebut dirinya suka mengikuti game Pokemon, bahkan sampai sekarang. Kesukaanya tersebut akhirnya membuat dirinya memiliki waktu khusus untuk berburu Pokemon.

“Emang suka banget sama pokemon, cukup addictive. Kemana-mana saya nyalain games. Karena kan augmented reality. Belum ada dua minggu. Saya dari hari pertama luncur sudah download. Udah ikutan battle juga dan sekarang sudah level 12. Sekarang juga ada waktu khusus, apalagi kemarin memang bertepatan dengan libur lebaran. Jadi pacaran sambil cari pokemon, nongkrong sambil cari pokemon, dan jogging sambil cari pokemon,” ujarnya.

Pokemon Go pada dasarnya merupakan permainan video augmented reality, sehingga yang menggunakan seperti merasakan petualangan di dunia nyata. Ketika bermain, pengguna akan diminta untuk berbutu dan melatih pokemon yang dimiliki.

 
Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua