Pidana

Bisakah Dipidana Apabila Sengaja Merusak Mobil Suami?

Bacaan 17 Menit
Bisakah Dipidana Apabila Sengaja Merusak Mobil Suami?

Pertanyaan

Suami tidak pernah mengizinkan istri untuk memakai mobil yang dibeli ketika mereka sudah berumah tangga, lalu si istri dengan sengaja merusak mobil tersebut, kemudian suami melaporkan hal pengrusakan tersebut ke polisi, apakah si istri bisa dipidanakan?

Ulasan Lengkap

Intisari:

 

 

Pengrusakan yang dilakukan oleh suami atau istri yang terikat hubungan perkawinan tidak dapat dipidana. Dipidana apabila hubungan perkawinan tersebut sudah putus atau bercerai.

 

Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak dalam ulasan di bawah ini.

 

 

 

Ulasan:

 

Terima kasih atas pertanyaan Anda.

 

Perbuatan Merusakkan Barang

Perbuatan merusak barang seperti permasalahan Anda dapat diancam pidana dengan Pasal 406 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”).

 

Pasal 406 KUHP:

1.    Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, merusakkan, membikin tak dapat dipakai atau menghilangkan barang sesuatu yang seluruhnya atau, sebagian milik orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

2.    dijatuhkan pidana yang sama terhadap orang dengan sengaja dengan melawan hukum membunuh, merusakkan, membikin tak dapat digunakan atau menghilangkan hewan, yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain.

 

Unsur-unsur dari Pasal 406 ayat (1) KUHP, yaitu:

1.    Barang siapa;

2.    Dengan sengaja dan melawan hukum;

3.    Melakukan perbuatan menghancurkan, merusakkan, membuat tidak dapat dipakai atau menghilangkan barang sesuatu;

4.    Barang tersebut seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain.

 

R. Soesilo dalam buku Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 279) terkait Pasal 406 KUHP menjelaskan bahwa supaya dapat dihukum harus dibuktikan:

1.    Bahwa terdakwa telah membinasakan, merusakkan, membuat sehingga tidak dapat dipakai lagi atau menghilangkan sesuatu barang;

2.    Bahwa pembinasaan dan sebagainya itu harus dilakukan dengan sengaja dan dengan melawan hak;

3.    Bahwa barang itu harus sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain.

 

Kemudian dijelaskan juga lebih lanjut, yang dimaksud dengan:

a.    Membinasakan adalah menghancurkan atau merusak, misalnya membanting gelas, cangkir, tempat bunga, sehingga hancur.

b.    Merusakkan adalah kurang dari membinasakan, misalnya memukul gelas, piring, cangkir dan sebagainya, tidak sampai hancur, akan tetapi hanya pecah sedikit dan retak atau hanya putus pegangannya.

c.    Membuat sehingga tidak bisa dipakai lagi adalah tindakan itu harus sedemikian rupa, sehingga barang itu tidak dapat diperbaiki lagi. Melepaskan roda kendaraan dengan mengulir sekrupnya, belum berarti tidak bisa dipakai lagi, karena dengan cara memasang kembali roda itu masih bisa di pakai.

d.    Menghilangkan yaitu membuat sehingga barang itu tidak ada lagi, misalnya dibakar sampai habis, dibuang di laut sehingga hilang.

e.    Barang adalah barang terangkat, maupun barang yang tidak terangkat; binatang tidak termasuk di sini, karena diatur tersendiri pada ayat 2.

 

Untuk dapat dipidana dengan Pasal 406 KUHP di atas, maka harus dipenuhi semua unsur-unsur pasal tersebut.

 

Lebih lanjut mengenai pengrusakan dapat Anda simak dalam artikel Pasal untuk Menjerat Pelaku Perusakan Barang Milik Orang Lain.

 

Perbuatan Merusakkan Barang di Kalangan Keluarga

Mengenai pengrusakan di kalangan keluarga, dalam buku tersebut, R. Soesilo mengatakan bahwa merusak dalam kalangan kekeluargaan tunduk pada Pasal 367 jo 411 KUHP dan merupakan delik aduan.

 

Pasal 411 KUHP:

“Ketentuan dalam Pasal 367 berlaku bagi kejahatan yang diterangkan dalam bab ini. (Pengrusakan)”.

 

Pasal 367 KUHP:

1.    Jika pembuat atau pembantu salah satu kejahatan yang diterangkan dalam bab ini adalah suami (istri) orang yang kena kejahatan itu, yang tidak bercerai meja makan dan tempat tidur atau bercerai harta benda, maka pembuat atau pembantu itu tidak dapat tuntutan hukuman.

2.    Jika ia suaminya ( istrinya) yang sudah diceraikan meja makan, tempat tidur atau harta benda, atau sanak keluarga orang itu karena kawin, baik dalam keterunan yang lururs, maupun keturunan yang menyimpang dalam derajat yang kedua, maka bagi ia sendiri hanya dapat dilakukan penuntutan, kalau ada pengaduan dari orang yang dikenakan kejahatan itu.

3.    Jika menurut adat istiadat keturunan ibu, kekuasaan bapa dilakukan oleh orang lain dari bapak kandung, maka ketentuan dalam ayat kedua berlaku juga bagi orang itu.

 

R.Soesilo, dalam menjelaskan Pasal 367 KUHP (hal. 255), mengatakan bahwa perbuatan kejahatan yang dilakukan terhadap suami atau istri tidak dihukum, karena kedua orang itu sama-sama memiliki harta benda suami-istri. Hal ini didasarkan pula atas alasan tata susila. Tidak pantas apabila dua orang yang telah terikat dalam suatu hubungan suami istri, dalam suatu pertalian perkawinan diadu oleh penuntut umum satu sama lainnya di muka sidang pengadilan. Baik mereka yang tunduk pada Kitab Undang-Undang Hukum Sipil (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata – “KUH Perdata”), maupun yang tunduk pada hukum Adat, dan hukum Islam selama tali perkawinan itu belum putus maka pencurian (dalam hal ini pengrusakan) antara suami istri tidak dituntut.

 

Jadi berdasakan keterangan Anda, sebagai istri yang dengan sengaja merusak mobil suami tidak dapat dipidana selama perkawinan Anda tidak putus meskipun perbuatan tersebut dilakukan dengan sengaja.

 

Contoh kasus

Sebagai contoh kasus pengrusakan barang milik suami atau istri terdapat pada Putusan Pengadilan Negeri Bangko Nomor: 54/Pid.B/2013/PN.BK. Terdakwa telah melakukan perbuatan pencurian tabung gas LPG 12 Kg, merusak gelas, piring milik mertuanya dan membakar baju-baju milik istrinya. Mengenai perbuatan terdakwa yang membakar baju milik istrinya menurut majelis hakim tidak dapat dipidana karena mereka masih terikat perkawinan. Hakim menyatakan perbuatan tersebut bukan merupakan tidak pidana. Tetapi, terdakwa dipidana karena terbuti bersalah telah melakukan pencurian tabung gas LPG 12 Kg serta membanting gelas dan piring milik mertuanya. Karena perbuatannya tersebut, terdakwa dijatuhi pidana penjara selama 1 (satu) tahun.

 

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat

 

Dasar Hukum:

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

 

Referensi:

R.Soesilo. 1996. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal. Politeia: Bogor.

 

Putusan :

Putusan Pengadilan Negeri Bangko Nomor: 54/Pid.B/2013/PN.BK.

 

 

 

Tags: