BisnisBisnis
Saham dan Obligasi: Dari Pengertian Hingga Perbedaannya

PERTANYAAN
Apa yang dimaksud dengan saham dan obligasi? Apa saja perbedaannya?
Pro

Pusat Data
Koleksi peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan yang sistematis serta terintegrasi
Solusi
Wawasan Hukum
Klinik
Tanya jawab gratis tentang berbagai isu hukum
Berita
Informasi dan berita terkini seputar perkembangan hukum di Indonesia
Jurnal
Koleksi artikel dan jurnal hukum yang kredibel untuk referensi penelitian Anda
Event
Informasi mengenai seminar, diskusi, dan pelatihan tentang berbagai isu hukum terkini
Klinik
Berita
Login
Pro
Layanan premium berupa analisis hukum dwibahasa, pusat data peraturan dan putusan pengadilan, serta artikel premium.
Solusi
Solusi kebutuhan dan permasalahan hukum Anda melalui pemanfaatan teknologi.
Wawasan Hukum
Layanan edukasi dan informasi hukum tepercaya sesuai dengan perkembangan hukum di Indonesia.
Catalog Product
Ada Pertanyaan? Hubungi Kami



Apa yang dimaksud dengan saham dan obligasi? Apa saja perbedaannya?
Terima kasih atas pertanyaan Anda.
Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Definisi Saham dan Obligasi yang dibuat oleh Letezia Tobing, S.H., M.Kn., dan dipublikasikan pertama kali pada Senin, 18 Februari 2013.
Seluruh informasi hukum yang ada di Klinik hukumonline.com disiapkan semata – mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum (lihat Pernyataan Penyangkalan selengkapnya). Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Konsultan Mitra Justika.
Saham merupakan salah satu surat berharga yang di dalamnya mencantumkan kata “saham” sebagai tanda bukti kepemilikan sebagian dari modal perseroan.
Istilah saham dalam peraturan perundang-undangan dapat ditemui di Pasal 109 angka 1 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 1 angka 1 UU PT dan Pasal 31 ayat (1) UU PT. Dalam ketentuan tersebut, meskipun tidak ada pengertian saham secara definitif, namun dapat diketahui bahwa saham adalah bagian dari modal perseroan.
Dalam Pasal 109 angka 1 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 1 angka 1 UU PT disebutkan bahwa perseroan terbatas adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham, dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam UU PT dan peraturan pelaksanaannya. Sementara, Pasal 31 ayat (1) UU PT menjelaskan bahwa modal dasar perseroan terdiri atas seluruh nominal saham.
Berdasarkan ketentuan di atas, maka menurut UU PT saham dapat diartikan sebagai penyertaan modal dalam suatu perseroan terbatas.
Seseorang atau badan usaha yang menyertakan modal dalam perseroan terbatas disebut dengan pemegang saham, yang memiliki hak sebagai berikut.[1]
Selain hak tersebut di atas, pemegang saham juga berhak atas pembatasan tanggung jawab berupa tidak bertanggung jawab secara pribadi melebihi jumlah saham yang dimilikinya di dalam suatu perseroan perbatas.[2]
Saham merupakan benda bergerak dan memberikan hak sebagaimana dijelaskan di atas, juga dapat diagunkan dengan gadai atau jaminan fidusia sepanjang tidak ditentukan lain dalam anggaran dasar.[3]
Baca juga: Seputar Saham: Jenis, Aturan Kepemilikan, dan Keuntungannya
Sementara, pengertian obligasi dalam beberapa peraturan perundang-undangan adalah sebagai berikut.
Secara lebih sederhana, pengertian obligasi adalah surat bukti pengakuan utang, yang dapat dikeluarkan oleh pemerintah atau oleh perusahaan, dengan jangka waktu sekurang-kurangnya satu tahun.[4]
Obligasi juga dapat diartikan sebagai surat utang yang diterbitkan oleh penerbit obligasi kepada pemegang obligasi, beserta perjanjian untuk membayar kembali pokok utang beserta kupon bunganya pada waktu yang ditentukan.[5]
Jadi, dapat dikatakan bahwa obligasi adalah surat pengakuan utang sepihak. Dengan kata lain, obligasi berisi janji dari pihak yang menerbitkan obligasi untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada akhir waktu yang telah ditentukan, kepada pihak pembeli obligasi tersebut.
Obligasi merupakan instrumen pilihan investor karena relatif aman dan stabil. Alasan dari penerbitan obligasi salah satunya adalah untuk mendapatkan dana segar dan biaya untuk mencetak obligasi lebih murah dibandingkan menerbitkan saham.
Saham | Obligasi |
Tanda bukti kepemilikan perusahaan. | Merupakan bukti pengakuan utang. |
Jangka waktu tidak terbatas. | Jangka waktu terbatas, hari jatuh tempo ditentukan. |
Pemegang saham memperoleh penghasilan disebut dividen dengan frekuensi tidak menentu. Dividen dibayar dari laba perusahaan. Potensi laba perusahaan sulit ditaksir sehingga penerimaan dividen tidak dapat dipastikan. | Baik perusahaan untung maupun rugi, bunga dan pokok pinjaman wajib dibayar.
|
Dividen merupakan bagian laba perusahaan setelah dikenai pajak. | Bunga obligasi terlebih dahulu dikeluarkan sebagai biaya sebelum pajak diperhitungkan. |
Harga saham sangat fluktuatif dan sangat sensitif terhadap kondisi makro dan mikro. | Harga obligasi relatif stabil namun sensitif terhadap tingkat bunga dan inflasi. |
Pemegang saham memiliki hak suara pada perusahaan (“RUPS”). | Pemegang obligasi tidak memiliki hak suara pada perusahaan. |
Jika terjadi likuidasi (pembubaran perusahaan) maka pemegang saham memiliki klaim yang inferior (mendapatkan bagian sisa-sisa hasil pembubaran). | Jika terjadi likuidasi (pembubaran perusahaan) pemegang obligasi memiliki klaim terlebih dahulu terhadap aset perusahaan.
|
Perkaya riset hukum Anda dengan analisis hukum terbaru dwibahasa, serta koleksi terjemahan peraturan yang terintegrasi dalam Hukumonline Pro, pelajari lebih lanjut di sini.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
Dasar Hukum:
Referensi:
[1] Pasal 52 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (“UU PT”)
[2] Pasal 3 ayat (1) UU PT
[3] Pasal 60 ayat (1) dan (2) UU PT
[4] H.M.N Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia: Hukum Surat Berharga, Jakarta Djambatan, 2002, hal. 203.
[5] Irham Fahmi, Rahasia Saham dan Obligasi: Strategi Meraih Keuntungan tak Terbatas dalam Bermain Saham dan Obligasi, Bandung: Alfabeta, 2013, hal. 180.