Rabu, 09 Januari 2019
Hukumnya Mengancam Akan Menyantet
Pertanyaan :

Hukumnya Mengancam Akan Menyantet

Pasal berapa yang membahas masalah pengancaman (contohnya: mengancam akan menyantet) tapi cuma gertak saja dalam artian tidak sungguh-sungguh akan dilakukan, hanya menakut-nakuti saja.
Punya pertanyaan lain ?
Silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
Butuh Jawaban Langsung ?
Segera dapatkan langkah terbaik, langsung dari ahlinya.
Konsultasi Justika.com
Jawaban :
Intisari :
 
 
Sepanjang penelusuran kami, tidak ada aturan khusus mengenai tindakan mengancam untuk menyantet. Tetapi mengenai tindakan mengancam yang dapat dipidana berdasarkan Pasal 335 ayat (1) butir 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidanak (“KUHP”) adalah mengancam dengan menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan.
 
Bagaimana dengan tindakan mengancam untuk menyantet? Apakah tindakan orang yang mengancam (menakut-nakuti akan menyantet) termasuk tindakan mengancam dengan menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan berdasarkan Pasal 335 ayat (1) butir 1 KUHP?
 
Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak dalam ulasan di bawah ini.
 
 
Ulasan :
 
Terima kasih atas pertanyaan Anda.
 
Menyantet
Arti menyantet menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang kami akses dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah menyihir.
 
Sebagaimana yang pernah dijelaskan dalam artikel Santet, Isu Lama yang Terus Mengusik Ranah Hukum, dalam bukunya Teori, Konsep dan Kasus Sihir Tenung di Indonesia, Prof. Nitibaskara menguraikan bahwa santet dalam kajian antropologi termasuk ilmu hitam. Sebutan tukang santet dapat dipakai sebagai legitimasi seseorang untuk menyingkirkan orang yang tidak disukai karena dianggap mengancam ketenteraman penduduk atau alasan terselubung lainnya. 
 
Penjelasan lebih lanjut tentang santet juga dapat Anda simak dalam artikel Pembuktian Santet.
 
Ancaman Kekerasan
Sepanjang penelusuran kami, tidak ada aturan khusus mengenai tindakan mengancam untuk menyantet. Tetapi tindakan mengancam (menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan) dapat dipidana berdasarkan Pasal 335 ayat (1) butir 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”):
 
Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain.
 
Perlu kami luruskan bahwa frasa “perbuatan tidak menyenangkan” dalam Pasal 335 ayat (1) butir 1 KUHP telah dihapuskan oleh Mahkamah Konstitusi (“MK”) melalui putusannya nomor 1/PUU-XI/2013. MK menyatakan bahwa frasa, “sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan” dalam pasal tersebut bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 (“UUD 1945”) dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
 
Sehingga, Pasal 335 ayat (1) butir 1 KUHP selengkapnya berbunyi:
 
Barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain.
 
Dalam artikel MK Cabut Aturan Delik Perbuatan Tidak Menyenangkan, Mahkamah menilai frasa “sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan” dalam Pasal 335 ayat (1) butir 1 KUHP telah menimbulkan ketidakpastian hukum dan ketidakadilan. Sebab, implementasi ketentuan itu memberi peluang terjadinya kesewenang-wenangan penyidik dan penuntut umum terutama bagi pihak yang dilaporkan.
 
Apakah tindakan orang yang mengancam (menakut-nakuti akan mentantet) tersebut dapat dipidana karena mengancam dengan menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan berdasarkan Pasal 335 ayat (1) butir 1 KUHP? Semisal mengancam akan melakukan santet terhadap seseorang jika orang tersebut tidak memberikan barangnya.
 
Sebagaimana telah dibahas dalam artikel Makna “Intimidasi” Menurut Hukum Pidana, R. Soesilo dalam buku Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 239 dan 98) definisi kekerasan dalam Pasal 335 KUHP merujuk pada Pasal 89 KUHP, dimana definisi melakukan kekerasan yakni menggunakan tenaga atau kekuatan jasmani tidak kecil dan tidak sah, misalnya: memukul dengan tangan atau dengan segala macam senjata, menyepak, menendang, dan sebagainya. Yang disamakan dengan “melakukan kekerasan” ialah membuat orang jadi pingsan atau tidak berdaya lagi (lemah).
 
Melihat definisi tersebut, menurut hemat kami mengancam akan melakukan santet (menakut-nakuti saja tidak sungguh-sungguh) tidak dapat dikatakan sebagai kekerasan. Meskipun demikian, dapat atau tidaknya suatu peristiwa dikatakan sebagai tindak pidana ditentukan oleh pihak kepolisian saat melakukan penyelidikan.[1]
 
Menurut hemat kami, perkara seperti ini hendaknya tidak disikapi secara berlebihan hingga membawanya ke ranah hukum. Jalan musyawarah dan penyelesaian secara kekeluargaan penting diutamakan.
 
Contoh Kasus
Sebagai contoh kasus pengancaman kekerasan, dapat kita lihat dalam Putusan Pengadilan Tinggi Medan Nomor 169/PID/2015/PDT MDN, dimana majelis hakim menguatkan putusan sebelumnya terkait tindak pidana ancaman kekerasan terhadap orang lain sebagaimana diatur dalam Pasal 335 ayat (1) ke- 1 dan menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 1 (satu) bulan. Tindakan terdakwa dilakukan dengan cara mengancam seseorang dengan menggunakan kayu kepada korban sambil mengatakan kata-kata kasar akibatnya korban merasa takut dan terancam jiwanya.
 
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
 
Dasar Hukum:
 
Putusan:
 
Referensi:
  1. Kamus Besar Bahasa Indonesia, diakses pada 9 Januari 2019 pukul 11.34 WIB.
  2. R. Soesilo. 1994. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal. Bogor: Politeia.
 



Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.


Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
PENJAWAB : Dimas Hutomo, S.H.
MITRA : Bung Pokrol
Dimas Hutomo mendapatkan gelar sarjana hukum dari Universitas Airlangga pada 2014 dengan mengambil Peminatan Sistem Peradilan.
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua