hukumonline
Rabu, 28 November 2012
Legalitas Naturalisasi Pemain Timnas Sepakbola
Oleh: M. Vareno*)
Kemudahan pemain asing mendapat kewarganegaraan Indonesia patut dipertanyakan.
Dibaca: 9717 Tanggapan: 1

Proses naturalisasi pemain sepakbola demi kepentingan tim nasional Indonesia belakangan menjadi sorotan. Kualitas yang ditunjukkan para pemain hasil naturalisasi ternyata tak sesuai harapan dan gencarnya pemberitaan media. Selain itu, penting pula menilik proses naturalisasinya yang terjadi begitu cepat dan mudah. Sebagian di antara mereka seharusnya tidak memenuhi syarat untuk mendapat status warga negara Indonesia (WNI) saat ini.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia (UU Kewarganegaraan) memberikan kewenangan kepada Presiden untuk melakukan naturalisasi. Naturalisasi dalam UU Kewarganegaraan diperkenalkan dengan nama pewarganegaraan, yaitu tata cara bagi orang asing untuk memperoleh kewarganegaraan Indonesia melalui permohonan. Si orang asing tentu saja harus menanggalkan kewarganegaraan asalnya setelah mendapat status WNI.

UU Kewarganegaraan mengatur secara ketat syarat dan prosedur mendapatkan status WNI. Ada proses yang beragam dan jangka waktu yang cukup panjang bagi seorang warga negara asing agar permohonannya sebagai WNI diterima Presiden. Sayangnya, sejak program naturalisasi pemain tim nasional sepakbola Indonesia ramai dibicarakan pada tahun 2010, pemerintah tampak semakin mudah memberikan status WNI kepada pemain asing. Beberapa masih sesuai peraturan, sebagian lain tak berdasar.

Dua Prosedur
Dalam UU Kewarganegaraan, ada dua cara bagi warga negara asing dewasa agar dapat menyandang status WNI melalui pewarganegaraan. Untuk memudahkan, tulisan ini mengategorikan dalam sebutan prosedur normal dan prosedur istimewa, karena UU Kewarganegaraan tak memberikan kategorisasi.

Prosedur normal diatur melalui Pasal 9, yaitu pemohon status WNI telah berusia 18 tahun atau pernah menikah, lancar berbahasa Indonesia, sehat jasmani dan rohani, serta tidak pernah dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 1 tahun atau lebih. Pemohon kewarganegaraan juga harus bertempat tinggal di wilayah Indonesia minimal 5 tahun berturut-turut atau 10 tahun berturut-turut pada saat mengajukan permohonan.

Dengan prosedur inilah Cristian ‘el Loco’ Gonzales mendapatkan kewarganegaraan Indonesia lalu bergabung ke tim nasional. Penyerang asal Uruguay ini mulai bermain di Indonesia saat dibeli klub PSM Makassar pada tahun 2003. Sejak itu, Gonzales terus menetap di Indonesia dengan berpindah-pindah klub. Ketajamannya mencetak gol meski usia semakin uzur menarik minat pengurus asosiasi sepakbola negeri ini untuk meng-Indonesia-kan Gonzales, terutama menjelang perhelatan Piala AFF 2010 yang digelar di Jakarta.

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) menganggap Indonesia saat itu membutuhkan penyerang tajam berkualitas dalam waktu yang singkat, sementara stok pemain asli Indonesia dianggap belum mumpuni. Gayung bersambut, Gonzales ternyata juga menginginkan kewarganegaraan Indonesia, terutama karena ia telah menikahi seorang wanita asal Medan beberapa tahun sebelumnya. Tak lama, pemerintah mengabulkan permohonannya untuk menjadi WNI. Gonzales pun melepas kewarganegaraan Uruguay dan berhak memakai paspor Indonesia sejak 1 November 2010.

Di luar prosedur normal, ada jalan pintas bagi seorang warga asing untuk mendapatkan status WNI. Pasal 20 UU Kewarganegaraan menyebutkan, syaratnya adalah si orang asing harus berjasa kepada negara Indonesia, salah satunya di bidang keolahragaan. Jika memenuhi syarat ini, maka syarat-syarat prosedur normal tidak perlu dijalani.

Selain berjasa, Pasal 20 juga memberi peluang naturalisasi dengan alasan demi kepentingan negara. Satu dari dua alasan itulah yangdijadikan PSSI era Nurdin Halid maupun Djohar Arifin Husin mengundang banyak pemain keturunan Indonesia untuk bermain di timnas dengan status WNI hasil naturalisasi dengan prosedur istimewa.

Eksodus pemain keturunan Indonesia terutama yang tinggal Eropa, dengan beberapa nama populer seperti Irfan Bachdim, Kim Jeffrey Kurniawan, dan Diego Michiels, pun semakin gencar meski keterampilan sepakbola mereka tak begitu istimewa. Jumlah pemain yang dinaturalisasi pun semakin banyak, sebutlah nama Tonnie Crussel dan Jhon van Beukering yang bergabung dengan skuad timnas di Piala AFF 2012. Nama lain yang tak bergabung dengan timnas Indonesia meski telah mendapat status WNI di antaranya Ruben Wuarbanaran, Serginho van Dijk, dan Stefano Lilipaly.

Tidak Berdasar
Berdasarkan UU Kewarganegaraan, pemberian status WNI kepada para pemain asing dengan jalur istimewa ini dapat dikatakan tidak memiliki dasar legalitas yang kuat. Pasal 20 dan penjelasannya menegaskan, pemberian status WNI di luar prosedur normal hanya untuk mereka yang berjasa luar biasa dari sisi prestasi keolahragaan kepada Indonesia sehingga memberikan kemajuan dan keharuman nama bangsa.

Perhatikan pula penjelasan Pasal 20 yang membatasi alasan kepentingan negara untuk menyematkan status WNI dengan prosedur istimewa, yaitu hanya kepada orang asing yang berjasa meningkatkan kedaulatan negara khususnya di bidang perekonomian.

Kita tentu patut mempertanyakan, sejauh mana kontribusi mereka secara luar biasa membawa kemajuan dan keharuman prestasi tim nasional Indonesia. Prestasi timnas di Piala AFF 2010 tidak cemerlang, di Piala AFF 2012 kali ini juga masih jauh dari harapan. Beberapa pemain bahkan tidak jadi dipanggil timnas setelah mendapatkan kewarganegaraan Indonesia. Mereka yang bergabung pun ternyata tidak lebih baik dibanding pemain asli Indonesia yang bergabung di tim nasional.

Karena itu, penting kiranya untuk mengingatkan pemerintah dan DPR bahwa pemberian status WNI secara istimewa haruslah dipandang sebagai sesuatu yang sakral dan eksklusif. Hanya kepada mereka yang benar-benar memiliki jasa besar kepada bangsa ini saja status WNI patut disematkan melalui prosedur istimewa, sebagai penghargaan dan balas jasa.

Jangan lupakan pula persoalan pembinaan pemain muda yang seharusnya diperhatikan secara serius oleh pemerintah dan otoritas sepakbola nasional dibanding sibuk mencari pemain-pemain tak terpakai dari Benua Biru yang ‘berkebetulan’ memiliki garis darah Indonesia.

*) Sarjana hukum pecinta sepakbola Indonesia.

Share:
tanggapan
naturalisasi tanpa balas jasa & penghargaanketut 28.11.12 10:36
Seharusnya PSSI dan pemerintah RI tidak dengan gampang memberikan hak istimewa "naturalisasi" kepada warga negara asing keturunan Indonesia hanya dgn alasan untuk meningkatkan prestasi olahraga RI di mata dunia tanpa hasil dan prestasi yang jelas yang akan diberikan kepada RI. Pemerintah RI seharusnya meninjau kembali "naturalisasi" yg telah diberikan tsb.

Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.