Kamis, 09 November 2017
Sejarah Kantor Advokat Indonesia:
Kisah Firma Hukum Korporasi Awal '80-an
Mulai mengelola kantor hukum secara modern sejak awal pendirian hingga terus membangun jaringan dan kerja sama dengan firma hukum negara lain.
Rofiq Hidayat
Dibaca: 4522 Tanggapan: 0
Kisah Firma Hukum Korporasi Awal '80-an
Ilustrasi: HGW

Pasca berdirinya kantor hukum generasi pertama yakni Ali Budiarjo Nugroho Reksodiputro (ABNR-1967), Adnan Buyung Nasution & Assosiates (ABNA-1969), dan Mochtar, Karuwin, Komar (MKK-1971), muncul firma hukum generasi berikutnya. Beberapa firma hukum yang disebut sebagai generasi kedua ini lahir di era 1980-1990an yang meneruskan estafet perkembangan dunia kantor advokat, yang fokus pada corporate law firm.

 

Uraian pengelompokan kantor advokat generasi pertama dan kedua itu termuat dalam artikel berjudul “Besar Itu Perlu: Perkembangan Kantor Advokat di Indonesia dan Tantangannya” (Ahmad Fikri Assegaf. Jakarta : Jurnal Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal. Volume VII/Edisi, 10 Juli-Desember 2015). Tercatat pada tahun 1980, diantaranya berdiri kantor hukum Kusnandar & Co (KC) dan Tumbuan & Partners (TP) pada 1981.

 

(Baca Juga: Menelusuri Jejak Kantor Advokat Modern Generasi Pertama)

 

Mengawali berdirinya Kusnandar & Co misalnya, tak lepas dari peran besar pendiri tunggal, Winita E Kusnandar. Jauh sebelum mendirikan KC, Winita mendalami dunia hukum sejak lama. Sebut saja, saat masih mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Parahiyangan, Winita pernah magang di Kantor Hukum Delma Yuzar Advocate & Solicitor, Legal Consultant, Jakarta. Melalui magang, ilmu di bidang production sharing contract pun semakin menambah pengetahuan Winita. Pasca merampungkan kuliahnya, Winita bergabung dengan kantor notaris Kartini Muljadi untuk memperdalam ilmu hukum kontrak dan pekerjaan sebagai notaris. 

 

Tak lama kemudian, Winita bergabung di kantor hukum ABNA pada 1977. Keinginan bergabung dengan kantor Buyung, lantaran ingin terjun di bidang litigasi dalam menangani perkara pidana dan perdata. Di ABNA, Winita terbiasa menangani perkara sendiri. Aktualisasi dan naluri sebagai advokat pun mulai terasah lantaran terbiasa berkomunikasi dengan klien terkait persoalan hukum termasuk memberi bantuan hukum. Buyung pun merasa puas dengan kinerja Winita.

 

“Saya dipanggil Bang Buyung diberitahu bahwa dia puas dengan kinerja saya, tetapi tidak bisa menaikkan gaji saya,” ujarnya melalui keterangan tertulis kepada Hukumonline.

 

Gaji Winita pun ingin ditambah Buyung dari account pribadi pendiri Lembaga Bantuan Hukum (LBH) itu. Namun hal itu ditolak Winita. Ia tak ingin dipusingkan dengan persoalan ini. Bagi Winita, diberi kepercayaan oleh Buyung dalam menangani klien secara mandiri sudah lebih dari cukup. “Bukankah saya diberi kesempatan untuk belajar, jadi tentu ada cost-nya. Begitu prinsip saya dalam bekerja,” kata dia.

 

Tentu banyak pengalaman dan pengetahuan yang ia peroleh saat bekerja di ABNA selama tiga tahun. Baik dari sisi aspek hukum hingga etika menjadi advokat profesional. Kepercayaan Buyung terhadap dirinya pun terus membesar, hingga akhirnya Winita pernah ditawarkan menjadi partner di kantor Buyung. Rasa senang menyelimuti Winita. Apalagi, ia merasa nyaman bekerja di ABNA yang saat itu ditempati para seniornya di dunia hukum, seperti Abdurrahman Saleh (mantan Jaksa Agung), M. Assegaf, Prof Erman Rajagukguk, Timbul Thomas Lubis dan lainnya.

 

(Baca Juga: ABNA, Cikal Bakal Lahirnya Kantor Advokat Modern Generasi Kedua)

 

Namun, jalan hidup wanita kelahiran dan besar di Solo, Jawa Tengah itu berkata lain. Ia sebenarnya punya mimpi untuk membuka kantor hukum sendiri. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Secara kebetulan Winita mendapat tawaran bantuan dana sebesar Rp50 juta untuk membuka kantor hukum dari seorang pengusaha. Dikutip dari buku berjudul 10 Pengusaha Yang Sukses Membangun Bisnis Dari 0 (Sudarmadi. Penerbit Gramedia : Jakarta, 2007), Winita memutuskan untuk mengambil kesempatan itu dan hasilnya kantor hukum Kusnandar & Associates resmi berdiri.

 

Awalnya, Winita dibantu oleh seorang asisten pengacara, sekretaris, seorang yang mengurus keuangan, dan seorang office boy. Kusnandar & Associates pertama kali berkantor di Setiabudi Building, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan. Winita mengira kantor hukum miliknya itu baru bisa mandiri dalam waktu satu tahun. Namun, perkiraannya itu meleset. Hanya dalam waktu tiga bulan sejak berdiri, Kusnandar & Associates sudah mandiri. Seiring berjalannya waktu, kata “Associates” di akhir nama kantor hukum Winita berubah menjadi “Co”.

 

 

Membangun Jaringan

Menghadapi tantangan ke depan, Winita berpikir perlu membangun jaringan internasional bagi kantor hukumnya. Saat itu, berafiliasi dan kemitraan dengan sesama kantor hukum di banyak negara menjadi pilihan bagi Winita, khususnya dalam mengembangkan pasar dan sumber daya manusia.

 

Cara ini juga membuka peluang terjadinya pertukaran klien dengan mekanisme rekomendasi. Misalnya, kantor hukum di Amerika Serikat sebagai mitra Kusnandar & Co, merekomendasikan klien yang bakal berinvestasi sektor pertambangan di Indonesia. “Pola seperti itu menjadi salah satu cara memasarkan jasa kantor hukum,” ujar Winita.

 

Ia mengaku kliennya mayoritas dari Amerika Serikat karena telah membangun jaringan dengan kantor hukum di negeri Paman Sam itu. Beberapa kantor hukum di Amerika Serikat yang pernah bekerja sama dengannya antara lain kantor hukum Coudert Brothers (New York) dan Morgan, Lewis & Bockius LLP (Washington). Bahkan, kepercayaan kedua firma hukum asal Amerika Serikat itu besar kepada Winita dengan menawarkan jabatan partner kepadanya.

 

“Tapi saya menolak karena saya ingin eksis sebagai lawyer Indonesia, mengelola kantor my way bukan their way,” ujarnya.

 

Tercatat, Kusnandar mempekerjakan tiga advokat asing yang berasal dari Amerika Serikat, Belgia dan Kanada. Ketiga advokat asing itu berstatus karyawan yang digaji seperti karyawan lain di Kusnandar & Co. Termasuk pula mendapatkan insentif bila mencapai target tertentu. “Kami transparan dan terbuka,” lanjut Winita.

 

Di era 80-an nama kantor hukum MKK menjadi barometer bagi firma hukum lain dalam mengelola kantor hukum secara modern. Barometer ini juga diterapkan Winita. Ia kerap mendapat informasi dari rekannya yang bekerja di MKK tengah membeli perangkat kerja. Winita pun ingin kantor hukumnya memiliki perangkat kerja yang sama. “Saya ikuti, dan panggil perusahaan supplier yang sama dan (beli) perangkat yang serupa,” ujarnya.

 

Kusnandar & Co terus berubah agar tetap menjadi kantor hukum yang mengikuti perkembangan zaman. Termasuk penggunaan komputer untuk menunjang kerja saat itu. “Saya ikut arus saja, dan para supplier sangat terbuka untuk itu. Bukankah mereka ingin menjual sebanyak mungkin? Kami juga memakai perangkat hardware dan software sesuai zamannya,” katanya.

 

Termasuk merekrut sumber daya manusia di Kusnandar & Co pun diperhatikan. Winita cenderung merekrut lulusan sarjana hukum yang baru selesai kuliah (fresh graduate). Alasannya, sarjana hukum baru lulus dapat dibentuk dengan budaya dan etos kerja yang berlaku di Kusnandar & Co, sehingga fresh graduate tersebut dapat dengan mudah dididik.

 

Perubahan nama

Sementara kantor hukum Tumbuan & Partners yang berdiri sejak 1981 juga memiliki warna tersendiri bagi sejarah kantor advokat era awal 1980-an. Berbeda dengan Winita, Frederik Bernard George Tumbuan. Ternyata, Fred begitu disapa, selaku pendiri Tumbuan & Partners tidak terlahir dari “rahim” ABNA. Bermula dari berdirinya Kantor Penasihat Hukum dengan nama Sugondo, Tumbuan & Co, pada 1981. Kantor hukum tersebut didirikan oleh Kitty Sudarawerti Sugondo-Kramadibrata dan Frederik Bernard George Tumbuan, yang juga dikenal sebagai seorang akademisi dan penulis.

 

Seiring berjalannya waktu, belakangan Abdul Rahman Saleh bergabung dengan Sugondo, Tumbuan & Co, 1984 silam, sehingga berubah nama menjadi Kantor Penasihat Hukum Sugondo, Tumbuan & Saleh. Lalu, nama kantor hukum kembali berubah pada 1986 menjadi Tumbuan & Asssociates seiring bergabungnya Frederik Alexander Tumbuan, Notaris Emeritus.

 

Kemudian nama kantor hukum berubah lagi menjadi Kantor Hukum Tumbuan Pane lantaran Frederik Alexander Tumbuan wafat dan masuknya Marjan Elize Pane sebagai partner. Namun lagi-lagi kantor tersebut mengalami perubahan nama pada 2011 dengan mundurnya Marjan Elize Pane dan masuknya Jennifer Berendina Tumbuan sebagai partner.

 

“Persekutuan ini dilanjutkan oleh Jennifer Berendina Tumbuan dengan memakai nama Tumbuan & Partners,” ujar Managing Partner Tumbuan & Partner, Jennifer Berendina Tumbuan, Kamis (9/11/2017).

 

Kini, Kantor Hukum Tumbuan & Partners berlokasi di Jl Gandaria Tengah III/8 Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Sebelumnya sempat berpindah-pindah seiring bergantinya nama kantor hukum beberapa kali. Tumbuan & Patners pernah berkantor di Wisma Dharmala Sakti, Jalan Jenderal Sudirman Jakarta saat kantor hukum bernama Tumbuan Pane pada 1994. Demikian pula sejak berganti nama menjadi Tumbuan & Partner visi dan misi pun berubah dengan menerapkan sistem partnership.

 

“Artinya, semua lawyer di Kantor Hukum Tumbuan & Partners diperlakukan sebagai rekan kerja,” ujar Jennifer, yang notabene adalah putri Frederik BG Tumbuan ini.   

 

Sejak awal berdiri, kantor hukum Tumbuan & Partners fokus pada aspek hukum bisnis dan layanan hukum di bidang korporasi. Bagi Jennifer, membangun jaringan dengan kantor hukum negara lain bukanlah hal baru. Sebab, Tumbuan & Partners pernah berafiliasi dengan konsultan hukum asing pada 2012. Yakni, dengan konsultan hukum O’Melveny & Myers. Hingga kini, Tumbuan & Partner masih menjalin kerja sama dengan beberapa konsultan hukum dan firma hukum asing untuk memberikan layanan hukum bisnis dan korporasi lintas batas.

 

“Tentu sasarannya, kelompok perusahaan di dalam negeri maupun di luar negeri, lembaga keuangan internasional, investor internasional, dan klien yang memiliki bisnis di Indonesia,” lanjutnya.

 

 

Pengelolaan kantor

Sebagai kantor hukum yang sudah malang melintang sejak awal 80-an, pengelolaan kantor dilakukan secara modern. Dalam arti, sistem pekerjaan sudah tertata menggunakan sistem penyimpanan data dalam server dan time sheet sebagai pola pencatatan jam kerja para lawyer di Tumbuan & Partners.

 

Bahkan, Tumbuan & Partners menerapkan integrated database guna memudahkan pekerjaan para lawyer di kantor hukumnya. Selain itu, sistem teknologi menjadi penunjang sarana prasarana bagi pengembangan kantor hukumnya. Jennifer menuturkan kantor hukumnya juga menerapkan sistem pengendalian mutu yang wajib dilaksanakan dalam setiap pemberian jasa hukum terhadap klien.

 

Seperti, pemeriksaan segi hukum, penyusunan pendapat hukum, dan atau pemberian  advise hukum ke para kliennya. Bagi Tumbuan & Partners, sistem pengendalian mutu menjadi pedoman bagi partner dan associate dalam menghasilkan kualitas jasa hukum yang diberikan.

 

Jennifer dalam artikelnya berjudul Firma Hukum T&P, Biar Kecil Tapi Gesit, mengatakan, meski kantor hukum kecil atau lazim disebut boutique law firm, kualitas jasa yang diberikan wajib tetap terjaga. Ia mengibaratkan kantor hukumnya seperti butik, yang di dalamnya terdapat sejumlah desainer ternama merancang dan menjahit pakaian sesuai kebutuhan klien, sehingga kilien merasa puas terlihat dari wajahnya.

 

Bagi Jennifer Tumbuan, kelihaian dan gesit mengelola kantor hukum merupakan sebuah keharusan. “Tak selamanya yang kecil tidak menjadi baik”. Filosofi itu yang menjadi pegangan Tumbuan & Partners hingga bertahan puluhan tahun untuk memberikan jasa hukumnya ke kliennya secara optimal.

 

Keunikan lain Kantor Hukum Tumbuan & Partners adalah nuansa kekeluargaan. Jennifer mengatakan mengelola kantor hukum dengan cara kekeluargaan dan tak besar memangkas alur birokrasi. Hasilnya, interaksi baik antar karyawan dan counsel tetap terjaga hingga saat ini. “Ukuran yang kecil membuat kita bisa memangkas prosedur dan birokrasi yang panjang. Istilahnya jadi lebih gesit. Sebenarnya inilah rahasia kita bisa bekerja efektif dan efisien, sehingga semua pekerjaan selesai dengan cepat dan baik.”

 

Sejak berdirinya Kantor Hukum Tumbuan & Partners tentu banyak advokat yang menjadi “alumni”. Jennifer menyebut sejumlah kantor konsultan hukum lahir dari “rahim” Tumbuan & Partners dengan mendirikan kantor hukum baru oleh para alumninya. Diantaranya, Aang Pardede dengan kantor konsultan hukum Aang Batara Associates; Agustus Sani Nugroho dan Iwan G Panjaitan dengan kantor konsultan hukum Nugroho, Panjaitan & Partners; Agus Setyo Purwoko dengan kantor hukum Agus S Purwoko & Associates.

 

Selain nama-nama tersebut, masih terdapat Dedy I Arruanpitu yang mendirikan kantor hukum Arruanpitu & Partners. “Sebagian lawyer ada yang bergabung dengan kantor konsultan hukum lain dan ada pula yang bergabung dengan perusahaan,” katanya.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.