Dalam kehidupan, perempuan kerap menghadapi ekspektasi berlapis dari lingkungan keluarga, masyarakat hingga dunia profesional. Tidak hanya dilekatkan pada stereotip sifat dan karakter tertentu, perempuan juga dituntut dituntut tampil optimal dalam berbagai peran. Di saat yang sama, perempuan diharapkan tetap menjaga sisi humanis dan kepekaan terhadap isu serta orang di sekitarnya.
Bagi Arianne Astrinia, atau akrab disapa Anne, profesionalisme dan empati bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya justru menjadi fondasi dalam kiprahnya sebagai konsultan hukum (lawyer) sekaligus membentuk kekuatan perempuan di dunia hukum. Ia berpandangan hukum tidak semata soal aturan dan kepatuhan, tetapi juga pemahaman terhadap manusia, kebutuhan bisnis, serta dampak jangka panjang dari setiap keputusan.
Perjalanan Anne menuju dunia hukum dimulai sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP) saat ia menetapkan cita-cita menjadi lawyer. Sejak itu, ia menjaga dan meningkatkan prestasi akademiknya hingga berhasil masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SMBP).
Sejak awal kuliah, Anne menyadari bahwa menjadi lawyer yang dapat diandalkan tidak cukup hanya dengan pengetahuan hukum di kelas kampus semata. Lebih dari itu, diperlukan membangun relasi dan mengasah soft skill. Seperti kepemimpinan (leadership), manajemen waktu (time management), rasa kepemilikan dan tanggung jawab (sense of belonging and responsibility), kemampuan bekerja dalam tim (teamwork), hingga ketangguhan menghadapi tekanan untuk menunjang karier profesionalnya.
Berangkat dari pemahaman tersebut, selama kuliah Anne memaksimalkan berbagai kesempatan di kampus. Ia aktif dalam kepanitiaan, organisasi, dan kompetisi, hingga menjadi karyawan magang dan menjadi volunteer di 2 lembaga keilmuan dan riset kampus.
Selepas menamatkan pendidikan hukumnya di FHUI di tahun 2014, Anne langsung memulai karier di firma hukum sesuai cita-citanya. Sampai kini di Atama Law, Anne tetap konsisten menekuni profesi lawyer di lingkungan yang menuntut kecepatan berpikir, ketelitian tinggi, dan kesiapan menghadapi tekanan dalam berbagai situasi.
Salah satu keuntungan yang membentuk perjalanan profesional Anne adalah kesempatan untuk bekerja langsung di bawah supervisi partner sejak awal ia memulai karier. Kesempatan tersebut memberinya ruang untuk belajar secara intensif dari lawyer yang telah mempunyai pengalaman yang luas dan perjalanan karier yang matang. Eksposur ini memberi Anne pembelajaran tidak hanya dalam riset dan penafsiran hukum, tetapi dalam membangun pola pikir strategis yang mempertimbangkan kebutuhan bisnis dan kepentingan klien.
















