Udara dingin dari pendingin ruangan menyergap lantai 8 Gedung Kantor PLN Pusat, ketika Nurlely Aman menemui Hukumonline. Pagi itu, perempuan berhijab yang akrab disapa Lely itu datang dengan wajah segar, seolah sisa-sisa olahraga masih melekat pada raut wajahnya.
Kemeja hijau bercorak abstrak yang dikenakannya berpadu dengan wajah yang berseri. Tak ada kesan tergesa-gesa. Lely duduk, mengambil jeda sejenak, lalu bersiap mengisahkan perjalanan kariernya selama lebih dari dua dekade sebagai insan legal di PT PLN (Persero).
Ketika ditanya apa yang paling penting dijaga setelah lebih dari 20 tahun menekuni dunia hukum, Lely tak buru-buru menjawab. Ia kembali mengambil jeda, seraya menghela nafas. Pertanyaan itu seperti membawanya sejenak menengok perjalanan panjang yang telah dilalui.
“20 tahun berkarier di PLN, yang paling utama yang harus dijaga adalah untuk senantiasa belajar,” ujarnya saat berbincang dengan Hukumonline di ruang kerjanya, Jumat (18/9/2026).
Kata ‘belajar’ menjadi pintu masuk untuk memahami cara Lely memandang profesi yang ditekuninya. Baginya, dunia legal tak pernah benar-benar berhenti. Hukum bergerak mengikuti bisnis yang dikawalnya. Karena itu, seorang insan legal tak cukup hanya menghafal pasal atau memahami substansi hukum.
Baca juga:
- Tony Wenas, Terdepan Menjaga Etika Bisnis dalam Perusahaan
- M Syah Indra Aman: In House Counsel, Kebijaksanaan dan 'Rambu Lalu Lintas' di Perusahaan

Lely saat menceritakan jejak panjang selama dua dekade di PLN. Fotografer/ Resa Esnir
Di balik setiap persoalan hukum, ada bisnis yang mesti dipahami. Kemudian aspek komersial yang perlu dicermati, persoalan teknis yang harus diketahui, hingga cara kerja operasional yang perlu dipelajari. Semua itu menjadi bagian dari pekerjaan legal.
Lely menguraikannya dengan tenang. Sesekali tangannya bergerak mengikuti alur penjelasan, terutama ketika menerangkan satu hal yang menurutnya mendasar. Yakni sebelum menyusun konstruksi hukum, seorang legal harus lebih dulu memahami bagaimana bisnis yang bakal dijalankan.
Pada akhirnya, semua pengetahuan itu bermuara pada satu kebutuhan. Yakni bagaimana kemampuan seorang legal menerjemahkan denyut bisnis yang bakala dijalankan ke dalam konstruksi hukum dan dokumen transaksi yang tepat.
Lebih dari dua dekade berkarier di PT PLN (Persero) membawa Lely ke salah satu posisi penting di perusahaan tersebut. Pada Juni 2026, melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025, ia ditunjuk sebagai Direktur Legal dan Manajemen Human Capital PLN.
Dua fungsi yang kini berada dalam satu ruang tanggung jawab itu sebenarnya bukan sesuatu yang asing baginya. Legal dan manusia menjadi dua sisi yang terus bersinggungan dalam perjalanan profesionalnya. Ketika ditanya soal modal seorang insan legal, Lely tidak memilih antara kompetensi, integritas, atau keberanian, baginya ketiganya sama pentingnya.
“Buat saya nggak bisa dilihat mana yang prioritas mana yang lebih utama, ketiganya itu hal yang penting, kompetensi, integritas, dan keberanian,” tegasnya.

Lely saat menerangkan tiga prinsip yang selalu dipegang selama berkarier. Fotografer/ Resa Esnir
Pertama, kompetensi. Baginya kompetensi adalah pondasi karena seorang legal harus memiliki pengetahuan dasar untuk menjalankan pekerjannya. Namun, pengetahuan saja tidak cukup. Kedua, integritas yang harus tetap dijaga ketika menyusun dokumen, memberikan pendapat hukum, maupun menawarkan solusi terhadap persoalan bisnis.
Ketiga, keberanian. Lely melihat keberanian tidak semata soal mengambil risiko tanpa perhitungan. Keberanian diperlukan ketika regulasi yang ada belum memberikan ruang yang cukup bagi suatu gagasan. Dalam situasi ini, Lely mengatakan insan legal tidak seharusnya berhenti pada kalimat ‘secara legal tidak bisa’.
AI datang, manusia tetap berpikir
Solusi tersebut dapat berupa kebijakan baru di internal perusahaan maupun kebutuhan membawa suatu persoalan ke tingkat regulasi eksternal seperti undang-undang. Di sinilah menurut Lely inovasi menjadi penting. Dunia legal tentu membutuhkan inovasi untuk mengikuti bisnis yang tumbuh dengan cepat.
Perubahan zaman kemudian membawa percakapan lain kepada yang sering dibahas akhir-akhir ini, yaitu kecerdasan buatan. Di tengah kemudahan mencari informasi dan jawaban dengan AI, Lely justru mengingatkan bahwa teknologi tetaplah alat.
“AI itu adalah tools saja, sarana buat kita membantu kita mencari suatu informasi, mencari suatu ide sebagai trigger, tapi bukanlah AI yang utama,” ujarnya.

Bagi Lely AI sebagai alat bantu mencari informasi dan ide. Fotografer/ Resa Esnir
Menurutnya, ada kemampuan yang tetap berada pada manusia, terutama critical thinking dan strategic thinking. AI dapat membantu memberikan informasi, namun menurutnya manusia tetap harus menentukan bagaimana informasi tersebut digunakan. Hasil yang diberikan AI pun bergantung pada input dan data yang dimasukkan.
Karena itu, Lely tidak melihat perkembangan teknologi sebagai alasan insan legal untuk berhenti mengembangkan dirinya. Sebaliknya, perubahan justru menuntut kemampuan beradaptasi yang lebih besar.
Dari pemadam kebakaran jadi penjaga
Cara Lely memandang fungsi legal juga bisa dilihat dari bagaimana tim hukum ditempatkan dalam proses bisnis PT. PLN (Persero). Dia tak ingin legal baru muncul ketika sebuah transaksi sudah hampir selesai. Menurutnya, tim legal sudah dilibatkan sejak tahap planning alias perencaan, bahkan ketika sebuah gagasan masih berupa ide.
“Bukan seperti dahulu kala yang memang di belakang, seperti pemadam kebakaran. Hari ini sebagai guardian-nya, sedari awal,” kata dia.
Keterlibatan sejak awal membuat tim legal dapat memahami filosofi transaksi dan tujuan bisnis yang hendak dicapai. Dari situ, persoalan hukum, kebutuhan kebijakan, ataupun kemungkinan perlunya regulasi baru dapat dibicarakan sejak awal.

Bagi Lely ada tiga kompetensi yang harus terus dikembangkan di PLN. Fotografer/ Resa Esnir
Perubahan tentu tidak berhenti pada fungsi legal. Sebagai direktur yang mengepalai sumber daya manusia, Lely juga bicara soal PLN dalam menyiapkan SDM menghadapi transformasi perusahaan. Dengan jumlah pegawai PLN yang saat ini mencapai sekitar 50 ribu orang, ditambah tenaga ahli yang dayanya hampir 180 ribu orang.
Pengelolaan SDM secara konvensional dinilai tidak lagi memadai. Digitalisasi kemudian menjadi kebutuhan. Melalui platform digital, PLN dapat memetakan pelatihan yang pernah diikuti pegawai, kompetensi yang masih perlu dikembangkan, hingga kebutuhan perpindahan talenta.
“Jadi, semua kita masukkan dalam suatu aplikasi ataupun platform digital yang bisa membantu kita untuk mendesain masing-masing pegawai,” imbuhnya.
Di sisi lain, Lely menyebut tiga kompetensi yang menurutnya kian penting dikembangkan di PLN. Yakni digital, transisi energi, dan pengembangan bisnis. Transformasi energi misalnya, tidak hanya mengubah jenis pembangkit yang digunakan PLN.
Perubahan dari energi fosil menuju surya, PLTA, geothermal, dan energi baru terbarukan juga menuntut perubahan mindset, cara pandang, dan cara kerja. Sementara, pengembangan bisnis diarahkan agar insan PLN mampu melihat tantangan sebagai peluang yang dapat dikembangkan bersama mitra.
Talenta muda dan kepemimpinan
Lely kemudian menyoal tentang talenta muda. Di bagian ini, pembicaraan terasa lebih dekat dengan manusia yang berada di balik angka-angka dan sistem yang sebelumnya ia ceritakan.
Talenta muda, menurutnya perlu diberi ruang untuk tumbuh. Senior leader, memiliki kewajiban membuka ruang dialog dengan tim, membahas kasus bersama, berdebat untuk mencari solusi, serta memberikan feedback.

Lely menilai perlunya memberi ruang dan kesempatan bagi talenta muda. Fotografer/ Resa Esnir
Begitupun mentoring dan coaching juga menjadi bagian dari proses tersebut. Pegawai juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan, dalam momentum penting mereka bahkan didorong hadir dan memberikan ide setelah mendapatkan perspektif dan pembekalan dari atasannya.
Mungkin di situlah cara Lely memaknai kepemimpinan. Ketika ditanya mengenai modal seorang pemimpin setelah melewati perjalanan panjang di PLN, ia tersenyum bangga dan menyebut tentang purpose.
Bekerja, menurutnya bukan semata tentang posisi. Ada kepentingan masyarakat yang menjadi tujuan. Dalam perjalannnya, kepentingan bangsa dan negara menjadi energi yang semakin kuat dalam menjalankan tugas.
Pemimpin juga perlu peduli, mendengar, dan memberikan ruang bagi tim untuk menyampaikan apa yang mereka butuhkan. Sebab bagi Lely, kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling hebat di dalam ruangan.

Dalam menjalankan pekerjaannya, ada kepentingan masyarakat yang menjadi tujuannya. Fotografer/ Resa Esnir
Lely lalu sampai pada satu kalimat yang mungkin paling sederhana dari seluruh percakapan siang itu.
“Nggak ada pemimpin yang hebat, tapi yang ada adalah super tim. Pemimpin dan tim adalah satu kesatuan yang nggak bisa terpisahkan,” pungkas Lely.
















