Lebih lanjut, Jerry menjelaskan animo Summer Law Program untuk anak-anak SMA ini cukup baik. Bila tahun lalu hanya ada sekitar 20an perserta, tahun ini ada 40an peserta. Para peserta yang hadir memiliki latar belakang berbeda, ada yang memang sudah diterima masuk FH UPH, ada juga yang hanya sekedar ‘menimba’ ilmu hukum di program singkat ini.
“Kurang lebih ada empat atau lima orang yang sudah diterima di UPH. Jadi, ini persiapan bagi mereka karena mau masuk fakultas hukum. Namun, beberapa di antara mereka bahkan ada yang masih kelas 1 dan 2 SMA,” ujarnya.
Meski masih ada yang kelas 1 dan 2 SMA, Jerry menjelaskan, itu sesuai dengan tujuan awal program ini yang ingin menampilkan pendidikan hukum yang berkesinambungan. Ia mengatakan tujuan program ini adalah bagaimana mengenalkan logika hukum sejak dini.
“Selama ini yang dikenal, hukum itu adalah hafalan. Sebenarnya kan hukum itu, hari ini ada peraturan, dan besoknya bisa berubah. Yang kami mau tekankan di UPH Law School ini adalah mereka menggunakan logic,” ujarnya.
Jadi, lanjut Jerry, walaupun hukum itu berubah, mereka bisa mengerti mengapa sih hukumnya berubah, bedanya apa dan implikasinya apa. “Kami nggak mau student kami hapal saja, karena itu tidak mendidik. Makanya, dikenal sejak awal bahwa hukum itu seperti apa,” tuturnya.
“Kita juga ada program High School Moot Court Competition (kompetisi peradilan semu untuk SMA). Jadi, kami mengundang anak-anak SMA se Jawa untuk bisa ikut kompetisi moot court. Hadiahnya, bisa masuk FH UPH. Kompetisi ini sudah berlangsung tujuh kali (setiap tahun),” ujarnya.
Ingin Jadi Lawyer
Hukumonline sempat menemui dan mewawancarai peserta summer law program ini. Dua di antaranya adalah kakak beradik, Felicia Putri Parienne Hutapea dan Fritz Paris Junior Hutapea. Felicia akan masuk ke sekolah hukum di Inggris tahun ini, sedangkan Fritz baru akan lulus SMA tahun depan.
















