Tajuk

Hukumonline

Dalam tradisi wayang kulit Jawa, jika dalang sudah melakukan suluk (nyanyian awal dalang): bumi bergetar dan langit bercahaya karena kilat menyambar-nyambar, dan kemudian wayang gunungan berkelebat melintasi layar, merefleksikan bayangan kehidupan. Artinya suatu babak baru kehidupan dimulai, yang juga bisa berarti berakhirnya suatu kehidupan yang lain. `

Oleh:
Bacaan 2 Menit
Hukumonline
Hukumonline

Dalam konteks kehidupan dunia maya, karena perkembangan teknologi internet sekarang, bisa jadi ini perlambang mulainya kehidupan baru, the new economy, dan mulai punahnya kehidupan lama, the old economy. Rasanya tidak tepat demikian, karena dalam dunia pewayangan semua aspek kehidupan sudah diatur oleh Ki dalang dengan pakem-pakem yang berabad-abad sudah baku, sedangkan peradaban setelah munculnya teknologi internet ditentukan oleh pasar. Koreksi pasar atas the new economy sejak tahun lalu kiranya membenarkan hal ini.

Tapi revolusi teknologi informasi tetap berlangsung mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Dunia hukum di Indonesia, termasuk peradilan, selama ini membentuk sendiri bayangannya akan kehidupan yang kaku, ortodoks, tertutup, baku, dan hanya melayani kepentingan yang berkuasa dan yang berpunya. Dalam banyak hal, fakta dan kesan ini tetap berlangsung.

Reformasi hukum, institusi hukum, dan budaya hukum yang baru mulai bergerak, dalam gerakan yang amat lamban, sangat jauh dari harapan masyarakat. Ini menimbulkan gerakan masyarakat madani yang menekan penguasa untuk melakukan percepatan reformasi. Tetapi tetap saja perjalanan reformasi masih panjang dan berliku serta penuh dengan nuansa-nuansa politis, dan karenanya masih bergerak dengan amat lamban.

Namun demikian, harus diakui suatu perubahan besar telah terjadi. Belum pernah terjadi dalam sejarah (hukum) Indonesia, terjadi transparansi yang begitu luas atas kasus-kasus hukum, utamanya yang menyangkut urusan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Ini bukan saja terjadi untuk kasus-kasus penguasa sebelumnya, tetapi bahkan untuk mereka yang sedang duduk di tampuk kekuasaan.

Media massa mengalami zaman kebebasan hampir tanpa batas di dalam melakukan pengungkapan-pengungkapan penyelewengan, meskipun seringkali sulit dibedakan antara proses transparansi, penggunaan kebebasan pers, pembunuhan karakter (character assasination) untuk tujuan politis, atau bahkan sampai dengan gejala fitnah. Belajar berdemokrasi memang mahal, dan inilah yang sedang kita lalui bersama.

Hukum dan dunia peradilan tadi, mempunyai prinsip utama yang selama ini hanya kandas di tingkat ide yaitu hukum dan proses peradilan harus murah, cepat, adil dan transparan. Teknologi internet yang membanjiri segala macam informasi kepada masyarakat bisa menjadi suatu jalan pintas untuk tujuan ideal tadi.

Informasi mengenai semua peraturan perundang-undangan, kebijakan pemerintah, proses pembentukan peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah, kinerja eksekutif dan legislatif, keputusan pengadilan dengan semua latar belakang pertimbangan rational hukumnya serta penerapan ide-ide keadilannya, dan banyak informasi lainnya dapat diakses dengan mudah dan tanpa biaya atau hampir tanpa biaya, dari situs-situs hukum.

Ini menjadikan informasi tentang hukum dan proses peradilan terbuka, murah, dan cepat secepat klik mouse komputer. Kesan hukum, pengadilan, polisi, jaksa, hakim dan pengacara yang kaku, tertutup, mahal dan tak terjangkau menjadi luntur. Inilah yang ingin dicapai oleh Hukumonline dengan situs hukumnya. Hukum harus menjadi semacam fasilitas publik yang ramah dengan masyarakat yang hidup bersamanya. Institusi hukum harus melepas topeng seramnya dan bekerja hanya untuk kepentingan masyarakat yang diabdinya.

Ki dalang belum menancapkan kembali wayang gunungan. Kehidupan lama dan baru berjalan seiring, dalam era yang baru, dan hanya dengan paradigma yang baru.

Tags: