Mengembangkan chemistry antar rekan sekantor merupakan salah satu kunci penting untuk beradaptasi dalam lingkungan hukum yang terus berkembang. Demikian prinsip yang dipegang Jennifer Thejaya. Ia yakin, kehadiran perempuan memiliki peran strategis di lingkungan kerja, khususnya untuk menciptakan suasana kerja yang efektif dengan empati.
Selepas menamatkan studi hukumnya dan meraih gelar Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan pada tahun 2022, Jennifer langsung mengawali karier profesionalnya sebagai associate lawyer di bagian corporate di Firma Hukum LHBM Counsel.
Menjalani profesi hukum, Jennifer memahami untuk menempa karier yang sukses sebagai lawyer tidak hanya diperlukan keterampilan hukum dan keterampilan teknis semata, tapi juga soft skill. Hal ini sangat diperlukan bukan hanya dalam menangani berbagai pekerjaan, tapi juga untuk menangani kliendan rekan-rekan sejawatnya.
Setidaknya selama hampir 3 tahun berkarier, Jennifer seringkali diberi kepercayaan memimpin rekan-rekan sejawatnya dalam melakukan pekerjaan menangani beragam transaksi. Ketika memimpin inilah, Jennifer menyadari arti pentingnya kolaborasi antar anggota tim yang memiliki beragam latar belakang dan gaya kerja berbeda dapat memunculkan potensi terjadinya perbedaan pendapat dan konflik.
Jennifer menemukan peran penting empati yang secara alamiah dimiliki oleh seorang wanita untuk kemudian menjembatani berbagai perbedaan. Baginya perbedaan tersebut dapat diubah menjadi kekuatan dan kualitas yang dapat meningkatkan hasil pekerjaan tim tersebut.
“Empati membantu membangun kepercayaan dengan cara memahami perspektif serta perangai satu sama lain,” jelas Jennifer.
Menurutnya, dengan mengedepankan empati dalam lingkungan kerja, komunikasi dua arah yang baik dan lingkungan kerja yang kolaboratif dapat tercipta. Bagi Jennifer, pekerjaan yang seharusnya terasa menjemukan bakal terasa lebih ringan jika dilakukan dalam keadaan harmonis. Di mana seluruh anggota tim memiliki tingkat pemahaman yang sama untuk bersedia memahami beragam perspektif, dengan merelakan ego dan argumen masing-masing.
















