Ide konferensi online sebenarnya telah digagas pada awal 2020, sebelum pandemi Covid-19. Namun, karena orang-orang mengamankan diri di rumah masing-masing, tim Smart Change melihat peningkatan kebutuhan untuk komunikasi dan kolaborasi daring di tengah keadaan yang tidak menguntungkan. Orang-orang di Berlin atau belahan dunia lain yang biasanya tidak memiliki sarana untuk bepergian ke Jakarta, sekarang dapat dengan mudah mengakses diskusi dan informasi tersebut melalui sarana daring dari rumahnya masing-masing secara aman. Jarak tidak lagi menjadi penghalang bagi kedua kota untuk berkolaborasi serta berinteraksi.
Di luar kenyamanan konferensi virtual, tim Smart Change, melalui penelitian menemukan kemauan dan keterbukaan yang luar biasa dari warga Jakarta untuk bekerja demi kemajuan ibu kota. “Saya pikir, untuk peserta, apa yang bisa mereka dapatkan adalah kolaborasi erat yang kami miliki dengan lembaga publik. Kami melakukan wawancara dan menemukan bahwa ada permintaan tinggi untuk lebih banyak kontak dengan badan publik, jadi orang ingin lebih terlibat," tutur Helen.
"Mereka bersemangat untuk menyelesaikan masalah yang ada di Jakarta, ada banyak dorongan serta motivasi untuk bergerak. Jadi, konferensi ini harus menjadi kesempatan bagi audiens lokal untuk mendengarkan representatif mereka dan apa yang mereka pikirkan tentang masalah serta solusi saat ini," tambanhya.
Konferensi ini tidak hanya menguntungkan warga Jakarta, tapi juga audiens internasional yang dapat melihat sekilas kemungkinan aksi yang sangat luas di Jakarta dan betapa dinamis situasi tersebut. Menurut Helen, banyak orang di Eropa yang masih cenderung tidak melihat ASEAN sebagai kawasan yang dinamis. Jakarta adalah contoh sangat baik yang dapat mengubah serta memperluas sudut pandang mereka. Dikarenakan banyaknya kehadiran pemangku kepentingan dari Eropa, konferensi diadakan dalam bahasa Inggris.
“Ini akan sangat berharga bagi audiens internasional untuk melihat sekilas tentang sesuatu yang sangat mendasar dalam dialog perkotaan, karena masyarakat, perusahaan, serta sektor publik perlu mengetahui bagaimana orang berinteraksi dan kami ingin memfasilitasi itu,” ujar Helen.
Untuk saat ini, proyek Smart Change merupakan rencana jangka panjang yang akan dilanjutkan setidaknya hingga dua tahun mendatang. Rencana ke depan tim tersebut termasuk dialog lebih lanjut antara warga Jakarta sebagai organisasi dan pemangku kepentingan pada umumnya. Proyek ini juga sedang dalam proses membangun innovation hub untuk mendukung ekosistem kewirausahaan di Jakarta serta menjadi ruang pertemuan antara sektor publik, administrasi publik, dan sektor swasta.
Pusat inovasi ini akan menjadi ruang pertemuan yang baik untuk semua jenis wirausahawan yang ingin memiliki perspektif serta dukungan teknologi di model bisnis mereka, sekaligus mendukung kemungkinan investasi internasional maupun lokal. Melalui kemitraan kota kembar Jakarta dengan Berlin, anggota hub juga dapat memperluas jaringan mereka serta terhubung ke ekosistem Eropa melalui layanan yang tersedia.
Chief Operating Officer Hukum Online, Jan Ramos Pandia menyambut positif penyelenggaraan konferensi online antarbenua tersebut. Menurutnya, melalui konferensi tersebut dapat memberikan masukan bagi pemerintah dan pembuat kebijakan lain dalam mendukung konsep kota pintar Jakarta. Selain itu, dia juga berharap proyek Smart Change dapat menumbukan bisnis di Jakarta. “Konferensi ini dapat memberi feedback dan bekerja sama dalam Jakarta Smart City,” jelas Ramos.
Ramos juga menyampaikan peran Hukumonline sebagai media digital hukum yang menyediakan berbagai hasil analisis kebijakan untuk memberi pemahaman kepada pelaku usaha maupun masyarakat. Dia juga menyampaikan masyarakat juga dapat mengakses Hukumonline dengan mudah.
Sementara itu, Director Ruang Waktu-Knowledge Hub for Sustainable (Urban) Development, Wicaksono Sarosa mengatakan konferensi online ini juga dapat memberikan rekomendasi kebijakan pada regulator. Dia juga menyampaikan program Smart Change tersebut melibatkan berbagai pihak dari instansi pemerintahan hingga swasta. “Saya berpikir partisipasi para pemangku kepentingan sangat penting di sini (Smart Change),” jelas Wicaksono.
















