Nyaris 10 Tahun Padam, Jabatan Honorary Chairman Menyala Lagi
Terbaru

Nyaris 10 Tahun Padam, Jabatan Honorary Chairman Menyala Lagi

Posisi honorary chairman kosong sejak 2015 ditinggal Bang Buyung. Pada 2024, ada sosok yang dinilai layak untuk menempati jabatan legendaris itu, yakni Tjoetjoe Sandjaja Hernanto.

Tim Publikasi Hukumonline
Bacaan 6 Menit

 

Tjoetjoe merasa dirinya belum pantas disejajarkan dengan Bang Buyung untuk mengampu jabatan honorary chairman. Padahal, mayoritas anggota KAI mengakui sepak terjang Tjoetjoe dalam membesarkan KAI sehingga layak mendapat penghormatan seperti Bang Buyung.

 

Segala upaya dilakukan untuk keberlanjutan organisasi, tangan dingin Tjoetjoe sukses mengelola potensi konflik yang ada melalui beragam terobosan. Hal itu diharapkan menjadi tradisi yang baik bagi organisasi. Misalnya, menggelar kegiatan prakongres untuk mencegah konflik dan perpecahan yang berpotensi muncul dalam perhelatan kongres. Sehingga ketika kongres berlangsung segala urusan yang berpotensi menimbulkan konflik sudah diselesaikan lebih dulu. Dengan begitu, kongres menjadi ajang anggota KAI untuk reuni, bersilaturahmi, dan bersukaria.

 

“Saya sedang membangun tradisi baru dalam berorganisasi di mana perbedaan diselesaikan di luar kongres (prakongres). Jangan berangkat kongres seperti mau perang, itu primitif sekali,” imbuhnya.

 

Tjoetjoe punya cara pandang yang visioner dalam mengelola konflik. Seni menangani konflik yang dilakukannya juga menyasar bentuk kepemimpinan organisasi dari sebelumnya presidensial menjadi presidium. Gagasan itu diterima organisasi melalui KNLB dan Kongres Ke-IV KAI. Hasilnya ada sembilan anggota Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Presidium yang terpilih untuk periode 2024-2029.

 

Melalui presidium, Tjoetjoe menjelaskan ini merupakan seni mengelola konflik. Potensi konflik yang ada di tingkat bawah dan cenderung luas, dialihkan secara struktural ke atas yang sifatnya terbatas yakni presidium. Penyelesaian itu dirasa efektif guna menangani benih konflik di organisasi agar tak mencuat ke permukaan. “Kongres kemarin (Kongres IV KAI,-red) itu adalah seni mengelola konflik, memindahkan potensi konflik yang besar menjadi terbatas lewat presidium,” ujarnya.

 

KNLB dan Kongres Nasional Ke-IV KAI yang berlangsung 7-8 Juni 2024 di Solo beberapa waktu lalu menjadi batu uji bagi organisasi untuk melangkah maju. Kesuksesan acara tersebut membuktikan keberhasilan Tjoetjoe dan jajaran pengurus membawa KAI menjadi organisasi yang semakin matang. Meninggalkan kebiasaan primitif dalam berorganisasi termasuk ketika kongres, menuju tradisi yang terhormat selaras profesi advokat yang mulia.

 

Kegigihan Tjoetjoe membangun organisasi diakui anggota KAI. Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) KAI Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Agus Talis Joni, mengakui perhelatan KNLB dan Kongres Nasional KAI Ke-IV berjalan lancar dan luar biasa. Keputusan kongres mengubah bentuk kepemimpinan organisasi dari presidensial menjadi presidium dinilai tepat. “Akan mengurangi risiko perpecahan, bahkan risiko itu menjadi sangat kecil terjadi,” urai pria yang juga hadir sebagai peserta dalam KNLB dan Kongres Ke-IV KAI itu.

Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info