Pilunya Menjadi Penasihat Hukum Terpidana Mati
Feature

Pilunya Menjadi Penasihat Hukum Terpidana Mati

Pasti tak mudah bagi seorang advokat saat dihadapkan pada klien yang terancam pidana mati. Selain mendapatkan stigma negatif dari publik, para kuasa hukum ini juga mengalami tekanan secara psikis, terutama saat menemani detik-detik terakhir terpidana mati. Tak sampai disitu, beberapa dari mereka juga mengalami kerugian secara materi dan juga fisik.

Fitri Novia Heriani
Bacaan 9 Menit

Dalam pertemuan itu, Petrus bersama pendeta menemui dua terpidana untuk mendengarkan permintaan terakhir, yang diawali dengan doa bersama, kebaktian, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Setelah itu, semua keluarga saling berpelukan dan menangis. Pemandangan ini, diakui Petrus menyayat hatinya.

Hukumonline.com

Advokat Petrus Bala Pattyona. Foto: RES

Jelang eksekusi, LP Warung Bambu mendapatkan penjagaan yang ketat sehingga untuk menemui dua terpidana mati, Petrus mengaku dirinya diperkenalkan sebagai asisten pendeta, sementara Arsul Sani tetap menunggu di luar. Setelah sesi pertemuan usai, Petrus pun keluar  dan tetap menunggu di luar LP. Tepat tengah malam, listrik mendadak padam saat eksekusi dilakukan. Tak lama suara sirine ambulans datang saling bersahutan membawa Lazarus dan Tang Tian Tjoen.

“Pilu ya. Tapi mereka tenang dan pasrah. Ketika memberikan kesaksian, mereka bilang ‘saya tidak melakukan pembunuhan itu’. Sedih itu, semua keluarga pamit, nangis,” kenang Petrus dengan mata yang berkaca-kaca.

Tekanan Publik

Menjadi public enemy, demikianlah kiranya risiko yang akan diterima para kuasa hukum yang mendampingi atau membela pelaku pembunuhan/narkotika yang diancam dengan vonis mati. Perbuatan para tersangka jelas memicu kemarahan publik. Tekanan yang dirasakan para pembela dengan kejahatan ‘keji’ ini tak hanya dirasakan secara psikis dan mental, tapi juga secara fisik dan materi.

Hal itu diakui oleh Petrus. Saat dirinya mendampingi tersangka pembunuhan yang merupakan mantan Danramil bernama Ismail sekitar tahun 1986-1987. Kala itu, dia bersama rekan-rekan satu tim yang menjadi kuasa hukum tersangka, mendapatkan tekanan yang luar biasa, yang hingga kini momentum tersebut tidak bisa dia lupakan.

Sejak tiba di Pengadilan Negeri Serang, massa sudah berkumpul di depan gedung PN Serang. Petrus bersama tim mendapatkan umpatan, cacian, hinaan dan segala macam perkataan yang tidak mengenakkan. Namun hal tersebut dimaklumi olehnya, lantaran kasus yang tengah ia tangani melibatkan personal TNI dan kematian korban cukup mengenaskan.

Tak hanya sekadar umpatan yang sedikit mempengaruhi psikis para pembela, Petrus menyebut mobil salah satu rekannya juga turut menjadi sasaran kemarahan massa. Bahkan rekannya sampai mengalami luka dan berdarah setelah mendapatkan lemparan dari massa. Tak lupa pula stigma negatif dari publik yang diterima oleh dirinya karena dianggap sebagai membela penjahat.

Halaman Selanjutnya:
Tags:

Berita Terkait