Senin, 04 February 2008

Perhatian Orang Hukum Terhadap Forensik Masih Minim

Forensik menjadi jembatan bagi orang hukum untuk memahami ilmu pengetahuan alam.
CRT













 


Memahami forensik, kata Prof. Agus, akan mengasah logika kalangan hukum. Ketimbang menjauhkan diri, sebaiknya kalangan hukum membangun jembatan yang menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu lain. Jembatan dimaksud adalah ilmu forensik, yang pada dasarnya merupakan criminal sciences investigation. Logika hukum akan lebih terasah jika teman-teman sarjana hukum ikut berkelana dan mau masuk ke wilayah natural sciences, ujarnya kepada hukumonline.


 


Kurangnya perhatian kalangan hukum terhadap forensik, khususnya psikologi forensik, juga diamini Adrianus Meliala. Kriminolog Universitas Indonesia ini melihat pada praktek di pengadilan. Meskipun ada kecenderungan naik, faktanya ‘menunjukkan masih terbatasnya aplikasi psikologi forensik terkait dunia peradilan'. Tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga antara lain bisa diukur dari dampak psikologis (UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan kekerasan Dalam Rumah Tangga).


 


Bangun kerja sama


Pada prakteknya, forensik memang telah mengalami perkembangan cukup pesat. Forensik berkembang seiring dengan dimensi kejahatan. Istilah forensik tak lagi sebatas konteks pembunuhan sebagaimana dipahami awam. Kini, sudah dikenal forensik asuransi, forensik akuntansi, forensik computer, toksikologi forensik dalam kasus kejahatan lingkungan, dan forensik balistik. Meski berbeda sebutan, tujuannya tetap sama. Forensik itu mengungkap kejahatan, tandas Prof. Agus Purwadianta.


 


Kalangan penegak hukum adalah profesi yang dekat dengan upaya penanggulangan kejahatan. Karena itu, seyogianya penegak hukum membangun kerja sama sekaligus menyamakan persepsi tentang kontribusi forensik bagi dunia hukum.


 


Terkait upaya menyamakan persepsi dan kerja sama itu, Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FKUI mencoba membentuk Forum Komunikasi Ilmu-Ilmu Forensik. Pertengahan Januari lalu, Forum Komunikasi ini mengundang para pemangku kepentingan untuk duduk satu meja dalam workshop membahas ‘Forensic Sciences and Investigation Methods'.


 


Ini untuk membangun kerja sama antar semua ahli forensik untuk berperan optimal dan professional membantu pengungkapan fakta baik untuk peradilan maupun non-peradilan, kata Prof. O. Diran, Ketua Forum Komunikasi Ilmu-Ilmu Forensik.


 


Hukumonline juga akan menurunkan sejumlah tulisan berkaitan dengan perkembangan ilmu-ilmu forensik. 


 

Perhatian kalangan hukum terhadap ilmu forensik dinilai masih kurang. Bahkan ada yang menafsirkan forensik sebatas ilmu membedah mayat. Padahal bagi kalangan hukum, baik mahasiswa dan akademisi maupun profesi hukum, pengetahuan tentang forensik sangat penting artinya. Kontribusi psikologi forensik di dunia peradilan pun dipandang masih minim.

 

Pandangan itu disampaikan Prof. Agus Purwadianta dan Prof. Adrianus Meliala menyinggung perkembangan ilmu-ilmu forensik dewasa ini. Di beberapa fakultas hukum, ilmu forensik hanya sebatas pilihan sukarela, bahkan ada yang tak mempelajari sama sekali.

 

Kondisi sebaliknya ditemukan Prof Agus saat berkunjung ke Seattle, Amerika Serikat beberapa tahun lalu. Di sana, mahasiswa hukum dibekali ilmu forensik, malah basis kedokteran dan epidemiologi. Sebab, dalam praktek, ilmu-ilmu tersebut dibutuhkan ketika bersinggungan dengan bioetika. Misalnya, soal etika penanganan seorang pasien. Bioetika, jelas Agus, sudah memasuki ranah hukum.

 

Sayang, menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu perhatian orang hukum masih minim. Padahal, forensik merupakan jembatan untuk semua ilmu pengetahuan. Dalam praktek, fenomena ilmu pengetahuan alam dan medis sering harus diterjemahkan ke dalam bahasa hukum. Tes asal usul biologis seorang anak misalnya. Hal ini akan berkaitan dengan status anak di depan hukum, termasuk hak-hak warisnya kelak.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua