Jumat, 01 Juli 2011
M Kadri, Advokat Ingin Taklukkan Dunia Musik
Prinsip hidupnya work hard, play harder, but still profitable.
ALI
M Kadri, advokat yang juga vokalis band. Foto: Sgp

Jika ada advokat punya ambisi menguasai kancah “peradvokatan” mungkin terdengar biasa alias lumrah. Lain halnya, jika ada advokat punya ambisi menguasai dunia lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan sektor jasa hukum. Mohamad Kadri adalah salah satu contoh tipe advokat yang kedua.

Dalam suatu percakapan dengan hukumonline di sela-sela perhelatan ulang tahun AKSET Law, kantor hukum yang didirikan bersama tiga koleganya, Kadri mengaku punya ambisi ingin menaklukkan dunia musik. Ambisi ini mungkin dilontarkan Kadri karena dia merasa sudah meraih banyak hal sebagai advokat.

Memfokuskan diri pada bidang non litigasi, Kadri memang sudah malang melintang di kantor-kantor hukum ternama. Awalnya, Kadri berkiprah di Hadinoto Hadiputranto and Partners (HHP). Dia mengabdi di HHP selama 10 tahun. “Terakhir gue menjadi Senior Associate di sana,” tutur Kadri yang mengaku mengidolakan seniornya di HHP, almarhumah Tuti Dewi Hadinoto.

Setelah itu, ia berkiprah di Soewito Suhardiman Eddymurthy Kardono (SSEK). Setelah enam tahun di SSEK, Kadri pun mendirikan kantor hukum sendiri, AKSET kependekan dari Arfidea Kadri Sahetapy-Engel Tisnadisastra. Di sini, Kadri tercatat sebagai partner sekaligus founder.

Di luar advokat, bagi Kadri, musik adalah bagian yang tidak dapat terpisahkan dari hidupnya. Pria kelahiran 21 Februari ini menggeluti dunia musik sudah cukup lama. Bahkan, lebih lama ketimbang profesi advokat yang kini digelutinya.

Bayangkan, saat umur sembilan tahun, Kadri sudah mengasah talentanya dengan mengikuti sekolah vokal di Pranajaya. Untuk diketahui, (alm) Pranajaya adalah musisi seriosa yang telah melegenda di negeri ini. Dengan bekal keterampilan yang diperoleh dari sekolah vokal Pranajaya itulah Kadri berkesempatan tampil di televisi nasional, TVRI.

Beranjak remaja, Kadri terus menggeluti dunia musik. Ketika berseragam abu-abu, Kadri mengaktualisasikan bakat musiknya dengan membentuk beberapa band. Lalu, memasuki masa kuliah sekitar tahun 1982, aktivitas bermusik Kadri tidak surut. Mengaku terinspirasi band seniornya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) yakni Solid 80 yang dipimpin oleh Tony Wenas, Kadri pun bergabung dengan Makara Band yang komposisi anggotanya juga mahasiswa FHUI.   

“Kami mainkan musik-musik hardrock, musik rock yang sebenarnya bikin agak mikir. Terus, sampai dikenal kami sebagai second generation-nya musik hardrock di Indonesia. Yang pertama kan God Bless dan AKA. Kami (Makara Band,-red), Cockpit Band dan Solid 80,” kenang Kadri.

Makara Band sempat mencicipi dapur rekaman, tapi tidak berhasil. Pasalnya, aliran Makara Band yang keras tak bisa bersaing dengan musik-musik mainstream yang tren saat itu. “Waktu itu saya sudah menjadi partner di SSEK Lawfirm (Soewito Suhardiman Eddymurthy Kardono,-red),” ujarnya.

Bentuk KJP
Gagal di Makara Band, Kadri akhirnya membentuk band sendiri yang diberi nama Kadri Jimmo The Prinze of Rhythm atau populer disingkat KJP, sekitar tahun 2007. Dua tahun berselang, KJP menelurkan album perdana bertitel “Indonesia Memang Hebat”.

Meskipun menggunakan jalur indie label –tidak melalui label perusahaan rekaman ternama-, bukan berarti album ini tak digarap dengan serius. Sebagai bukti, simak saja video klip lagu “Indonesia Memang Hebat” yang beredar di laman Youtube. Di klip itu, KJP melibatkan artis papan atas Dian Sastrowardoyo sebagai model.

“Itu memang proyek put lot of effort. Hair stylist-nya kita pakai Citra Subiakto. Itu number one. Kemudian, modelnya Dian Sastro. Yang membuat videonya, Ray Bachtiar, kakaknya Armand Maulana,” papar Kadri.

Dari angka penjualan di pasaran pun, kata Kadri, album perdana KJP cukup lumayan. “Walau laku cuma empat ribu copy. Itu sudah lumayan. Efek Rumah Kaca (band lain, red.) saja di album pertamanya sekitar enam ribuan kopi. Jadi, not bad lah,” ujar Kadri seraya membandingkan.

Di luar KJP, Kadri beberapa kali berkolaborasi dengan musisi lain. ketika kasus Cicak vs Buaya ramai, misalnya, Kadri berkolaborasi dengan mantan vokalis Dewa Once dan vokalis Efek Rumah Kaca Cholil Mahmud. Sebagai bentuk dukungan terhadap KPK, mereka bertiga menyanyikan lagu “KPK di Dadaku”.

Kolaborasi Kadri dengan Once yang kebetulan juga lulusan FHUI, rencananya berlanjut. Dibantu komposer beken Addie MS, Kadri dan Once tengah menggarap single berjudul “Srikandi”. Lagu ini khusus didedikasikan untuk mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani. “Gue mengidolai dia (Sri Mulyani, red.). Liriknya dibuat setelah gue dan dia email-emailan,” tuturnya.

Tetap Profesional
Malang melintang di dua dunia yang berbeda, advokat dan musik, tentunya memberikan pengalaman menarik bagi Kadri. Salah satunya terkait manajemen waktu. Soal ini, Kadri menegaskan profesionalismenya. “Sabtu dan Minggu itu untuk musik,” tutur pria yang mengaku memiliki prinsip hidup Work Hard, Play Harder, But Still Profitable.  

Meski bertekad profesional, Kadri mengaku pernah juga mengalami bentrokan waktu antara kegiatan advokat dan musik. “Nggak enak juga nih gue ngomong sama Mbak Ira (Partner SSEK,-red). Gue mau meeting sama bank antar daerah. Begitu dia pulang makan, dia lihat gue di Kiss FM. Dia ketawa aja. Dia bilang gue kira elo meeting sama klien,” ungkapnya.

Selain pengalaman, menggeluti dunia berbeda juga memberikan pelajaran berharga bagi Kadri. Khusus untuk dunia musik, Kadri mengaku mendapat pelajaran bahwa tidak semua lagu atau musik yang diciptakan otomatis akan laku di pasaran. Banyak faktor yang mempengaruhi. Salah satunya, faktor wajah.

Tetapi, menyebut satu band asal Pulau Sumatera yang musiknya digandrungi masyarakat Indonesia walaupun wajah personilnya ala kadarnya, Kadri berpendapat wajah ganteng atau cantik ternyata bukan jaminan.

“Banyak hal dalam praktik, elo ngarang lagu, musiknya seperti apa belum tentu laku. Kadang-kadang elo mesti mengandalkan cakep. Apa harus cakep? Nggak juga. Ini yang gue pelajari untuk menaklukkan dunia (musik) ini,” katanya menyiratkan optimisme.

Lalu, dari pelajaran itu, apakah Kadri sudah menemukan strategi untuk menaklukkan dunia musik? Well, kita nantikan saja kiprah Kadri dan KJP di belantika musik nasional.

Sekapur sirih seorang rekan
 - Rivai Kusumanegara
04.12.12 22:52
Maju terus Bung Kadri ! Musik dan hukum sama-sama seni yang inspiratif ...
music is my life
 - igun
06.07.11 15:06
sama kaya saya mas.. saya dulu ngeband dari jaman kuliah. Saya kuliah di Tarumanagara fak.hukum. angkatan 2000. band saya berdiri awal 2001. Sampai akhir 2010 saya menarik diri dari band. Nama band saya SANDRA. SANDRA pernah menang dalam kompetisi LA INDIEFEST 2009. Sekarang saya aktif di dalam bidang hukum.
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.