Kamis, 22 Agustus 2013
Ini Alasan MA Lepaskan Sudjiono Timan
Karena majelis mempertimbangkan putusan MK yang membatalkan perbuatan melawan hukum dalam arti materil.
ASH

MA mengabulkan permohonan peninjauan kembali (PK) yang diajukan mantan Direktur Utama PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) Sudjiono Timan. Putusan ini sekaligus menganulir vonis terpidana korupsi sebesar Rp396 miliar itu di tingkat kasasi yang divonis 15 tahun dan denda Rp50 juta.  

”Mengabulkan permohonan PK pemohon,” demikian bunyi petikan putusan yang dimuat di website kepaniteraan MA, Kamis (22/8).

Perkara ini diputus oleh majelis PK yang diketuai Hakim Agung Suhadi dengan anggota Sophian Marthabaya, Andi Samsan Nganro, Sri Murwahyuni, Abdul Latief. Putusan perkara ini diketok pada 13 Juli 2013.

Saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (22/8), Suhadi membenarkan majelis PK telah mengabulkan permohonan PK kuasa hukum pemohon Sudjiono Timan. Dalam pertimbangan putusan PK ini, majelis hakim menilai terdapat kekeliruan yang nyata dalam putusan kasasi itu.

”Perbuatan melawan hukum (PMH) materil itu menurut putusan MK kan tidak boleh. Yang namanya PMH materil itu kan bisa melanggar ketidakpatutan, ketidakhati-hatian. Nah, oleh MK itu tidak boleh digunakan karena bertentangan dengan UUD 1945. Itu menjadi salah satu pertimbangan majelis,” kata Suhadi.

Jadi, kata Suhadi, putusan PK Sujiono Timan kembali ke putusan di tingkat pertama divonis ontslag (lepas). Meski, perbuatan pidananya terbukti namun sifatnya perdata. Suhadi mengatakan Sudjiono adalah pimpinan perusahaan yang menggunakan uang sesuai kewenangannya.

”Uang itu dipinjamkan kepada PBUI pada tahun 1993, 1994, 1995, dan 1997, perusahaan itu untung terus. Tetapi pada 1998, dia (BPUI) itu terkena krisis dan akhirnya merugi,” jelasnya.

Dengan terjadinya krisis itu, lanjut Suhadi, BPUI rugi besar sehingga uang yang tadi sudah dipinjamkan itu sulit ditarik kembali. ”Pihak bank sulit menagih kembali.  Jadi memang terbukti ada kerugian (uang negara), tetapi itu perdata, bukan pidana,” kata Suhadi.

Putusan ini membatalkan putusan kasasi yang dimohonkan pihak jaksa. Pada Desember 2004, majelis Kasasi yang diketuai Bagir Manan beranggotakan Artidjo Alkostar, Parman Suparman, Arbijoto, dan Iskandar Kamil, menggantikan Abdul Rahman Saleh, telah menjatuhkan vonis 15 tahun dan denda Rp50 juta serta membayar uang pengganti Rp369 miliar kepada Sudjiono. Sebelumnya, PN Jakarta Selatan melepaskan Sudjiono.

Sudjiono Timan telah diputuskan bersalah karena telah menyalahgunakan kewenangannya sebagai direktur utama BPUI dengan cara memberikan pinjaman kepada Festival Company Inc. sebesar 67 juta dolar AS, Penta Investment Ltd sebesar 19 juta dolar AS, KAFL sebesar 34 juta dolar AS dan dana pinjaman Pemerintah (RDI) Rp98,7 miliar sehingga negara mengalami kerugian keuangan sekitar Rp120 miliar dan USD 98,7 juta.

Pada akhir 2004, Sudjiono Timan dinyatakan sebagai buronan dan masuk dalam daftar pencarian orang. Pihak kejaksaan menindaklanjuti status buronnya Sudjiono dengan mempublikasikan potonya ke berbagai media. 

Wakil Tuhan
 - AKHYAR
22.08.13 19:41
7 thn lalu Hukum Online pernah memuat tulisan Andi Samsan Nganro ini. Intinya..andi Samsan Nganro beda2 tipis dgn tuhan, dan tidak ada satupun hakim di indonesia ini yg lebih baik dari si nganro ini. Tp skrg kenyataannya..? podo wae
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.