Senin, 16 Juni 2014

Dekan Leiden: Mahasiswa Indonesia Pekerja Keras dan Serius

Cukup senang dengan performa mereka.
ALI
Dekan Leiden Law School, Rick Lawson. Foto: RES


Dekan Leiden Law School, Belanda, Rick Lawson mengaku secara umum cukup senang dengan performa mahasiswa-mahasiswa Indonesia di kampusnya. Ia menilai bahwa mahasiswa-mahasiswa hukum asal Indonesia bertipe pekerja keras dan serius.


“Semuanya memang tergantung. Beberapa dari mereka ada yang luar biasa, ada yang sangat baik, ada juga yang masih mengalami kesulitan dengan Bahasa Inggris, tapi secara keseluruhan, kami cukup senang dengan kehadiran mahasiswa Indonesia,” ujarnya kepada hukumonline, Kamis (5/6).


Selain masalah bahasa, lanjut Rick, kesulitan yang dialami oleh mahasiswa Indonesia adalah cara mengajar di kampus hukum universitas Leiden itu. Di kampus ini, dosen bertanya cukup banyak kepada mahasiswa dan mencoba membangun suasana debat di dalam kelas, tetapi bagi mahasiswa Indonesia cara mengajar seperti ini masih dianggap baru.


“Beberapa di antara mereka butuh waktu untuk beradaptasi dan mengembangkan cara baru dalam belajar ini,” tuturnya.


Rick mengaku bukan ahli pendidikan Indonesia, tetapi dia mengaku menemukan beberapa perbedaan cara mengajar di Belanda dan Indonesia, khususnya di bidang hukum. “Salah satunya, tentu Bahasa Inggris. Kami menggunakan Bahasa Belanda untuk kelas mahasiswa asal Belanda, tetapi Bahasa Inggris untuk mahasiswa internasional,” jelasnya.


Lebih lanjut, Rick menjelaskan mahasiswa Indonesia harus menukar bahasanya ke Bahasa Inggris dan belajar bagaimana untuk menulis ujian atau tugas dalam bahasa Inggris. Selain itu, tantangan lainnya adalah di kampus hukum Belanda cukup banyak diajarkan bagaimana mengkaji putusan pengadilan.


“Kami banyak melihat kasus-kasus atau putusan pengadilan. Kami memang mengajarkan doktrin (pendapat ahli hukum), teori, buku-buku, tapi kami juga menililai hal-hal praktis (kasus atau putusan,-red) juga sangat penting,” sambungnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua