Senin, 10 November 2014

Jadi Pengacara Berhijab, Ribet Gak Sih?

Hijab bukan hambatan karier.
CR-18
Searah jarum jam: Febby M. Nelson, Fidila Yuni, Clara Chairunnisa Halimy, dan Amalia Nurul Rahma. Foto: Istimewa (Edit: RES)
Mengenakan jilbab atau hijab, bagi wanita adalah bagian dari upaya menjalankan syariat Islam. Namun, pada perkembangannya berhijab kini juga menjadi bagian dari gaya busana (fashion). Fenomena ini sering terlihat dalam lingkungan kerja, termasuk lingkungan kerja pengacara. Dengan mobilitas yang tinggi dan lingkup pergaulan internasional, mungkin banyak yang bertanya “ribet nggak sih menjadi pengacara berhijab?”
 
Fidila Yuni mengaku tidak menemui kesulitan meskipun dia berhijab. Junior Associate ini adalah satu-satunya pengacara berhijab di firma hukum tempat dia bekerja, Bagus Enrico & Partners. Selama kurang lebih setahun bekerja di Bagus Enrico & Partners, Fifi –panggilan akrabnya- mengaku tidak pernah mendapatkan klien yang keberatan terhadap hijab yang dikenakannya.
 
Sebaliknya, kata Fifi, dirinya justru pernah mengalami satu kejadian unik. Suatu ketika dia sedang rapat dengan klien, di saat waktu sholat menjelang berakhir, si klien mengusulkan rapat diskor untuk sholat. “Jadi, ketika sudah masuk sholat dan waktu sholat mau habis, mereka mengingatkan untuk break dan sholat dahulu.”
 
Berdasarkan pengalaman yang telah dilaluinya, Fifi meyakini bahwa hijab bukanlah hambatan karier. “Simpel, kalau seandainya aku dapat kerja tapi aku harus melepas hijab, berarti pekerjaan itu memang bukan buat aku,” ujarnya.
 
Amalia Nurul Rahma menuturkan kisah yang agak berbeda. Staf pengacara pada Lubis Ganie Surowidjojo (LGS) ini mengaku sempat was-was ketika melamar pekerjaan. Amalia khawatir LGS menerapkan kebijakan yang melarang karyawannya memakai jilbab. Untungnya, kekhawatiran Amalia tidak terjadi.
 
“Tetapi pas wawancara, ternyata santai aja dan nggak ada larangan untuk yang berhijab. Kantor sangat menghargai dan menghormati pilihan kita untuk berhijab kok,” kata Amalia kepada hukumonline.
 
Apa yang dialami Amalia serupa dengan Clara Chairun Halimy. Dia merasa bersyukur bekerja di Assegaf Hamzah & Partners (AHP). Clara merasa nyaman karena lingkungan kerja di AHP sangat mendukung kehidupan religius karyawannya.
 
“Berhijab atau tidak bukanlah masalah. Rekan kerja, rekan sejawat sesama lawyer, klien, dan kebanyakan rakyat Indonesia telah semakin pintar dan berpikir maju, dan mulai mengesampingkan SARA dan lebih menghormati kemampuan masing-masing orang,” paparnya.
 
Nyaman di lingkungan kerja ternyata berbeda ceritanya dalam kehidupan sosial. Clara mengaku pernah mendengar omongan negatif dari tetangga tentang dirinya yang berhijab tetapi seringkali pulang tengah malam, meskipun itu terkait pekerjaan. Omongan negatif itu tidak terlalu dipedulikan oleh Clara karena dia tahu apa yang dilakukannya bukan sesuatu yang ‘haram’.
 
Mengenakan hijab sejak kuliah, Febby Mutiara Nelson mengaku sempat khawatir ketika debutnya menjadi pengacara di Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum-Pilihan Penyelesaian Sengketa Fakultas Hukum Universitas Indonesia justru menangani kasus perceraian warga negara asing. Dia khawatir pengacara berhijab mendapat stigma buruk karena saat itu kasus Bom Bali belum lama berlalu. Kekhawatiran Febby ternyata tidak terbukti.
 
Menurut Febby, berhijab justru menguntungkan dalam hal berpakaian. Berhijab bagi Febby memudahkan dirinya untuk menyesuaikan penampilan. Ia tidak perlu repot lagi karena dengan bahan enak di badan dan warna yang cocok saja sudah cukup. Febby juga tidak perlu lagi ribet sering-sering merapikan rambut karena dengan berhijab, rambut tidak mudah berantakan.
 
“Kalau dengan pakaian berhijab itu malah lebih enak, karena dulu pas nggak berhijab mau pakai rok terlalu pendek, mikir nanti diliatin orang nggak, pakai rok panjang mikir ini gue kampungan nggak ya,” tuturnya.
Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua