Senin, 14 September 2015

Tiga Peradilan Perluas Akses Masyarakat via Radio

Ada yang telah menggunakan radio streaming, ada juga peradilan yang masih menggunakan radio gelombang frekuensi.
CR19
Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Peradilan 2015. Foto: http://inovasi.mahkamahagung.go.id/


Sejumlah pengadilan tingkat pertama di empat lingkungan peradilan mulai menunjukkan inovasi-inovasi dalam rangka ikut serta dalam Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Peradilan 2015 yang diselenggarakan oleh Mahkamah Agung (MA). Dari sekian inovasi, ada salah satu inovasi yang menarik. Inovasi ini dengan mencoba memanfaatkan jaringan internet. Namun, media internet yang digunakan kali ini bukanlah media yang pada umumnya dipakai, semisal social media.   


Berdasarkan penelusuran hukumonline, setidaknya ada tiga pengadilan tingkat pertama yang melakukan inovasi itu. Dua berasal dari peradilan negeri dan satu dari peradilan agama. Ketiga pengadilan itu, dalam inovasinya memanfaatkan radio sebagai media untuk memberikan sejumlah informasi. Dari tiga pengadilan ini, satu pengadilan masih memanfaatkan radio dengan frekuensi atau radio dengan gelombang frekuensi. Sedangkan dua pengadilan lainnya, sudah menggunakan radio dengan saluran internet, yang dikenal dengan radio tanpa gelombang atau radio streaming.


Dikutip dari situs inovasi.mahkamahagung.go.id, dua pengadilan tingkat pertama yang menggunakan media radio streaming, antara lain Pengadilan Agama Sanggau (PA Sanggau) dan Pengadilan Negeri Ngawi (PN Ngawi). Masing-masing memiliki latar belakang yang berbeda kenapa memilih menggunakan media ini. Namun, secara umum tujuan keduanya sama, yakni ingin memberikan akses yang luas bagi masyarakat terutama masyarakat pencari keadilan.


Di PA Sanggau misalnya, dengan menggunakan radio streaming, diharapkan masyarakat bisa mengakses informasi penting dari pengadilan mengenai perkara atau informasi terkait lainnya. Sebab, sebelum menggunakan radio streaming, ada kendala misalnya dalam hal melakukan pemanggilan sidang bagi para pihak, terutama yang tidak diketahui alamatnya. Sehingga PA Sanggau akhirnya melirik menggunakan radio streaming setelah sebelumnya menggunakan media radio lokal yang dinilai sifatnya terbatas.


“Tetapi dengan adanya radio streaming informasi tentang panggilan sidang lebih luas dan dapat diakses dimanapun dan bagi para pihak yang tidak dapat baca tulis dapat mengerti tentang mekanisme dan proses berperkara di pengadilan agama,” sebagaimana tertulis di laman kompetisi.


Tidak jauh berbeda, karena alasan terbatasnya jangkauan kalau menggunakan antena terutama karena faktor sinyal, membuat PN Ngawi berbenah diri. PN Ngawi sendiri melihat belakangan ini banyak radio-radio swasta yang mulai merambah kepada radio tanpa gelombang ini. Berangkat dari situ, akhirnya  PN Ngawi memutuskan mengembangkan inovasi untuk membuat pelayanan yang berbasis internet.


“Dengan ada nya radio streaming tidak ada lagi masalah jarak dan waktu untuk mendengarkan siaran radio yang ingin didengarkan. Dengan berkembangnya teknologi internet di segala bidang pada masyarakat Indonesia membuat permintaan informasi pelayanan publik menjadi sangat besar. Khususnya pelayanan berbasis internet yang cepat, mudah dan akurat,” tulis PN Ngawi dalam situs kompetisi.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua