Jumat, 22 Januari 2016

Sisi Puitis Seorang Todung Mulya Lubis

Tak melulu puisi berbau politik dan hukum, Todung juga menuliskan puisi yang berkisah tentang cinta dan kesepian.
RIA
Siapa yang tak kenal pengacara kondang Todung Mulya Lubis. Namanya sering kali menjadi headline dalam berita-berita nasional. Puluhan tahun berkarir, pria asal Medan ini dikenal pula sebagai pejuang Hak Asasi Manusia (HAM), sebagai akademisi, ia juga pernah dicalonkan sebagai Hakim Konstitusi.
 
Namun di samping itu semua, mungkin masih sedikit yang tahu bahwa Todung merupakan seorang seniman. Dua kali Todung menerbitkan antologi puisi karangannya. Dua buku kumpulan puisi tersebut berjudul in a hallway yang diterbitkan pada tahun 1968, dan restless hours diterbitkan pada tahun 1999.
 
Usut punya usut, menulis puisi ternyata memang sudah menjadi hobi Todung sejak ia duduk di bangku SMA. Dan jangan pikir melulu soal hukum atau politik  yang menjadi materi puisinya, ia pun menuliskan kisah tentang cinta dan kesepian.
 
“Saya itu suka berpuisi sejak saya SMA. Awalnya ya karena saya memang suka membaca buku-buku sastra, prosa, maupun puisi ya, kemudian saya juga berteman dengan teman-teman seniman di Medan. Nah itu yang membuat saya ikut menulis puisi,” cerita Todung ditemui di sela-sela Malam Penganugerahan Yap Thiam Hien Award, Rabu (20/1).
 
Berangkat dari ikut-ikutan, Todung pun kecanduan. Ia mulai menyukai dan menikmati saat-saat ia menulis puisi. Karena dengan berpuisi, ia dapat menyampaikan sesuatu yang menurutnya tidak selalu dapat disampaikan melalui lisan.
 
“Saya pelan-pelan melatih kemampuan poetic (menulis puisi, red) saya dan ya akhirnya itu berhasil dimuat di media Medan, di Majalah Horison, di majalah-majalah sastra, dan sebagainya,” kata Todung.
 
Atas pencapaian tersebut, Todung mengaku senang. Ia bahkan sempat ingin menekuni profesi penyair. Pendiri Lubis Santosa Maramis Law Firm ini yakin bahwa dirinya mampu. Apalagi kalau dilihat-lihat, banyak penyair terkenal dari angkatannya seperti Sutardji Calzoum Bahri dan Abdul Hadi WM, sebut Todung.
 
Namun sayang, keinginannya yang satu itu harus kandas. “Saya on and off nulis puisinya ya. Kadang-kadang kalau sedang ada mood saya sih nulis, tapi akhirnya saya menyimpulkan saya ini memang seorang penyair yang gagal,” sebut Todung.
 
Pria kelahiran Tapanuli Selatan, 4 Juli 1949 ini melabeli dirinya dengan label tersebut karena menurutnya penyair yang berhasil adalah penyair yang bisa menerbitkan banyak buku kumpulan puisi. Hal itu yang tak bisa Todung lakukan. Di tambah lagi dengan kesibukannya sekarang.
 
“Saya ngga menulis lagi karena memang ngga ada waktu untuk menulis. Menulis itu ternyata juga butuh ketekunan, keterlibatan, intensitas. Nah itu yang saya ngga miliki. Sehingga saya pikir ah hidup saya sendiri udah puisi kok. Jadi yaudahlah saya nikmatin aja,” tutur peraih gelar Profesor dari University of Melbourne ini.
 
Meskipun begitu, kecintaan Todung kepada puisi, prosa, dan sastra belum sepenuhnya hilang. DSetiap hari Minggu ia pasti masih mencari kolom puisi di sebuah koran nasional. Sebab menurutnya seni memberikan inspirasi, memberi jawaban spiritual dan humanis, serta dapat melepas ketegangan.
 
Keinginan untuk menulis lagi pun belum padam. “Setiap membaca puisi Minggu di Kompas, saya mikir kapan saya bisa nulis lagi?” pungkas Todung.
Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua