Minggu, 17 June 2018

Perkawinan Retak, Hak Asuh Anak Diperebutkan

Kata kuncinya adalah ‘kepentingan terbaik si anak’.
Fitri N Heriani
Ilustrasi: HGW

Sebagai advokat, Kamarusdiana masih ingat betul perkara perceraian seorang artis terkenal yang menggugat cerai suaminya di Pengadilan Agama Jakarta Selatan tahun 2007 silam. Dalam proses perceraian itu, istri meminta kepada majelis hakim untuk memberikan hak asuh anak kepadanya. Sebagai ibu dari anak semata wayang, sang artis merasa lebih berhak mengasuh buah hatinya ketimbang sang suami.

 

Kamarusdiana mengingat majelis hakim akhirnya memberikan hak asuh kepada suami/ayah. Putusan ini menimbulkan perdebatan karena umumnya hak asuh anak diberikan kepada istri atau ibu. Peraih gelar doktor ilmu hukum ini mengatakan majelis hakim mempertimbangkan jaminan keselamatan jasmani dan rohani si anak. Pihak suami berhasil meyakinkan hakim bahwa ibu tak akan bisa memberikan jaminan karena kesibukan dan gaya hidupnya. Hakim melihat kemungkinan pemegang hadhanah tak bisa memberikan jaminan itu pada tahap perkembangan si anak.

 

Apa yang diputuskan hakim dalam kasus itu tak lepas dari rumusan Pasal 156 huruf c Kompilasi Hukum Islam. “Apabila pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, meskipun biaya nafkah dan hadhanah telah dicukupi, maka atas permintaan kerabat yang bersangkutan Pengadilan Agama dapat memindahkan hak hadhanah kepada kerabat lain yang mempunyai hak hadhanah pula”.

 

Jika ada dalil medis yang disampaikan dalam argumentasi di Pengadilan Agama, misalnya masalah bipolar seorang artis, masalah ini bisa saja dapat diperdebatkan (debatable). Artinya, istri tetap bisa memperjuangkan hak asuk atas anaknya. “Pertimbangan majelis hakim mengenai bipolar itu masih bisa diperdebatkan,” kata Kamarusdiana kepada hukumonline.

 

Baca juga:

 

Akademisi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Mesraini menjelaskan bahwa berdasarkan Kompilasi Hukum Islam, seorang anak boleh memilih untuk tinggal dengan ayah atau ibunya jika sudah berumur 12 tahun ke atas. Tetapi jika belum berumur 12 tahun, maka hak asuh anak jatuh ke tangan ibu. Namun aturan ini bukan tanpa pengecualian. Jika pengasuhan ibu dikhawatirkan akan merugikan si anak, maka hadhanah boleh dialihkan kepada kerabat. Misalnya, kepada nenek dari pihak ibu.

 

Fakta di lapangan menunjukkan  tak selamanya hak asuh anak langsung diberikan kepada kerabat dari ibu jika si ibu tak sanggup menjamin tumbuh kembang anak. Ada banyak kasus dan putusan pengadilan yang menunjukkan hak asuh anak diberikan hakim kepada ayah dari si anak. Menurut Mesraini, seharusnya jika ibu tidak memegang amanah hadhanah, tahap berikutnya adalah kerabat ibu lurus ke atas.

Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua