Selasa, 11 September 2018
Peraih Honorable Mention Harvard MUN: Memupuk Ilmu Membangun Kerajaan
Bukan perkara mudah, lebih dari 50 kampus terbaik dunia berlomba-lomba mengirimkan delegasi terbaik mereka untuk bertanding. Bahkan butuh waktu 2 tahun bagi Andhika untuk berlatih.
Hamalatul Qurani
0
Peraih Honorable Mention Harvard MUN: Memupuk Ilmu Membangun Kerajaan
Andhika Putra Sudarman. Foto: FEB

Menyabet gelar Honorable Mention di ajang sekelas Harvard National Model United Nation (HN MUN) bukanlah perkara mudah, lebih dari 50 kampus terbaik dunia berlomba-lomba mengirimkan delegasi terbaik mereka untuk bertanding. Hebatnya, di Tahun 2015 gelar tersebut berhasil direbut oleh mahasiswa jebolan FHUI, Andhika Putra Sudarman. Tak hanya itu, Andhika bahkan meraih lebih dari 15 penghargaan di level nasional dan internasional saat masih berstatus mahasiswa.

 

Sekadar informasi, gelar Honorable Mention setara dengan juara ketiga setelah gelar the Most Outstanding Delegates (kedua)dan Best Delegates (pertama). Gelar Honorable Mention yang pernah diraihnya tersebut, disebut Andhika sebagai pencapaian pertama dan tertinggi UI bahkan hingga saat ini. Tak tanggung-tanggung, Andhika mengaku butuh waktu 2 tahun lebih mempersiapkan diri untuk ajang bergengsi ini.

 

“Persiapannya 2 tahun lebih untuk berlatih public speaking, writing dan negotiating skill,” kata Andhika kepada tim Hukumonline Love of Law, Kamis (23/08).

 

Saat ditanya soal kunci keberhasilannya di ajang tersebut, Andhika menyebut karena ketertarikannya pada isu (water management & security) yang ia bawakanlah yang membuat ia bisa tampil maksimal. Saat melakukan sesuatu yang disuka dan mampu, kata Andhika, akan berbeda hasilnya dengan saat melakukan sesuatu yang disuka tapi tak mampu atau mampu tapi tak suka atau bahkan tidak mampu dan tidak suka.

 

“Minimal cari yang kita suka banget atau kita bisa banget, karena sekalipun kita hardwork untuk suatu hal tapi inget, talenta juga ga bohong. You’ll never become number one kalau kamu cuma ngandelin hard work,” tukas Andhika.

 

Satu hal yang perlu di-point out, kata Andhika, jangan lupa untuk menikmati proses. Pasalnya, seseorang akan gugup karena sangat takut saat berhadapan dengan lawan. Lantaran sangat bersemangatnya seseorang maka darahnya akan terpompa lebih cepat, sehingga saat mereka beradu di tingkat internasional mereka tidak bisa memaksimalkan potensi yang mereka miliki.

 

Layaknya seorang atlet, contoh Andhika, terkadang mereka akan kalah bukan karena lelah secara fisik, melainkan kelelahan secara mental yang berujung pada hilangnya self-confidence yang mereka miliki. Awal mula hilangnya kepercayaan diri itu, disebut Andhika berawal saat kita menilai seseorang based on their appearance, lalu menimbulkan ketakutan untuk menghadapi sang lawan.

 

“Padahal bisa jadi lawan itu juga takut sama kita, jadi saling takut-takutan. Makanya orang yang akan menang adalah yang berhasil mempertahankan self confidence-nya hingga akhir,” ungkap Andhika.

 

Kerja keras Andhika dalam melatih kualitas serta meningkatkan kepercayaan dirinya, juga berhasil mengantarkan Andhika sebagai peraih anugerah Mahasiswa Berprestasi Utama Nasional (Mawapres Utama Nasional) yang dinobatkan oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada Tahun 2014.  Untuk mencapai gelar Mawapres Utama Nasional tersebut, Andhika harus bertanding melewati proses seleksi di empat level, yakni antar fakultas, universitas, regional hingga nasional.

 

Berikut cuplikan wawancara Tim Hukumonline Love of Law dengan Andhika yang berhasil meraih Honorable Mention di ajang sekelas Harvard National Model United Nation:

 

 

Bukan Karir Final

Setelah menamatkan kuliah S1-nya, Andhika memilih berkecimpung di dunia lawyering, tepatnya pada firma hukum Allen & Overy. Banyak yang mengeluhkan betapa penatnya bekerja di industri jasa dengan kompetisi superketat ini, lain halnya dengan Andhika yang menikmati proses belajarnya selama hampir tiga tahun di firma hukum, sekalipun belum sepenuh hati ingin menjadi advokat.

 

Alasannya sederhana, ungkap Andhika, karena ia ingin menghabiskan masa tiga tahunnya melakukan hal yang ia butuhkan sekalipun tak menyukainya agar nanti ia bisa melakukan apa yang ia sukai selamanya. Karena tak bisa dipungkiri, kata Andhika, apa yang dipelajari di kampus seringkali berbeda dengan apa yang terjadi di lapangan dan menjadi lawyer adalah cara paling efektif untuk menambal kekurangan pengetahuan soal praktik di lapangan.

 

“Saat kuliah aku mungkin punya teori hukum, tapi aku ga punya praktiknya, dan itu akan jadi semacam gap untuk ilmuku. Jadi aku mendingan langsung terjun lawyering daripada aku ketinggalan,” ucap Andhika.

 

Kerja keras Andhika menguras ilmu di bidang lawyering bahkan tak jarang ia lakukan hingga pukul 2 hingga 3 dini hari. Tak sedikit yang terheran mungkin, kata Andhika, menganggap bekerja sekeras itu dapat memperpendek umur atau bahkan menganggap tidak bahagia karena tidak memiliki cukup waktu untuk bersenang-senang.

 

“Tapi yang mereka tidak sadari adalah, di saat mereka bersenang-senang dengan banyak orang, aku sedang berjuang memupuk ilmu untuk membangun kerajaanku nanti. Bisa dikatakan proyek kebahagiaanku jangka panjang, bukan jangka pendek,” terang Andhika.

 

Sekalipun nantinya ia belum tentu lebih sukses ketimbang orang yang pulang kerja pukul 5 sore, kata Andhika, setidaknya ia tidak menyesal karena sudah melakukan yang terbaik. Di samping itu, kepada hukumonline Andhika mengaku bekal yang ia kumpulkan selama hampir tiga tahun sudah mencukupi untuk meninggalkan profesi lawyer. Ia bahkan mengaku telah lama menginginkan terjun ke sektor publik,yakni sebagai seorang official.

 

Baca: Fathia Izzati, Youtuber Peraih Top 8 International Commercial Arbitration

 

Memilih Firma Hukum

Saat memilih bekerja sebagai lawyer, Andhika menyarankan, pilihlah firma hukum yang tidak akan berlama-lama memberikan kita pekerjaan administratif/sekadar input data saja. Tapi, firma hukum yang memberikan jalan dalam meraih cita-cita sehingga bisa lebih cepat melakukan pekerjaan yang penting, bisa menghadirkan pengalaman yang bagus dan membangun secara keilmuan.

 

“Memang betul pekerjaan (administratif/sekadar input data) itu penting, tapi untuk sekadar tahu apa saja hal yang penting yang harus kita ketahui, tapi bukan untuk berlama-lama,” ucap Andhika.

 

Kemudian, sambung Andhika, penting juga memilih firma hukum yang memberikan kesempatan kepada para lawyer-nya untuk ‘tarik nafas’ dan mempelajari kembali hal-hal yang telah pernah ia kerjakan. Pasalnya, menurut Andhika ketika seseorang terfokus untuk mengerjakan suatu pekerjaan, seringkali mereka tidak akan fokus untuk menyerap itu. Akibatnya, mereka hanya fokus bekerja, bukan menyerap.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.