Jumat, 08 Pebruari 2019

Metode “Itakura-Saito”, Silang Pendapat Dua Ahli Forensik di Sidang Tipikor

Mempersoalkan relevansi metode Itakura-Saito dalam pembuktian similaritas suara.
Aji Prasetyo
Terdakwa Lucas dan penasihat hukumnya. Foto: RES

Pernahkah Anda mendengar metode Itakura-Saito, yang lazim disebut sebagai Itakura-Saito distance atau Itakura-Saito divergence? Sebutan ini pada dasarnya merujuk pada nama nama Fumitada Itakura dan Shuzo Saito, dua warga keturunan Jepang yang menghasilkan penelitian tentang mengukur perbedaan antara spectrum asli dengan perkiraan (approximation) spectrum itu. Meskipun bukan pengukuran yang mutlak, metode ini sejak 1960-an sering digunakan untuk mengukur similaritas suara.

Metode Itakura-Saito itulah antara lain yang muncul dalam persidangan dugaan tindak pidana menghalang-halangi penyidikan atas nama terdakwa Lucas, seorang advokat. Dalam dua kali persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, majelis hakim telah mendengarkan keterangan dua orang ahli yang menjelaskan pendapat dan pandangan mereka mengenai suara mirip suara terdakwa Lucas, dan suara mirip suara saksi Eddy Sindoro.

Masalah keaslian suara yang diperdengarkan penuntut umum di persidangan memang sempat ditepis terdakwa. Suara hasil sadapan Komunikasi diperdengarkan jaksa. Sebaliknya, terdakwa juga menunjukkan suara mirip Obama yang belum tentu Obama.

(Baca juga: Rekaman Mirip Suara Barack Obama di Pengadilan Tipikor).

Pada sidang Kamis (7/2) penasihat hukum terdakwa menghadirkan Ruby Z. Alamsyah. Ahli digital forensik ini mengaku sudah beberapa kali diminta memberikan keterangan dalam perkara lain seperti kasus pembunuhan yang melibatkan Antasari Azhar, pembunuhan Munir, dan asusila Ariel.

Ruby Alamsyah memperkenalkan diri dan menjelaskan latar belakangnya di bidang forensik. "Saya mempunyai 14 sertifikasi IT Internasional termasuk beberapa di antaranya terkait digital forensik. Jadi saya memiliki sertifikasi IT Internasional di bidang sistem, network, security, forensik," kata Ruby di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (7/2).

Ruby juga mengaku sebagai anggota International High Technology Crime Investigation Association (HTCIA), bahkan menyatakan sebagai anggota pertama dari Indonesia dalam asosiasi forensik terbesar dunia yang berpusat di Amerika Serikat tersebut.

Berdasarkan pengamatan hukumonline dalam persidangan, keterangan Ruby berusaha mementahkan setidaknya ada dua poin penjelasan Dhany Arifianto, ahli forensik yang dihadirkan KPK pada sidang sebelumnya. Pertama, mengenai kapasitas Dhany sebagai ahli forensik akustik, dan kedua metode yang digunakan untuk menentukan originalitas pemilik suara.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua