Rabu, 20 November 2019

Euthanasia, Garis Finish yang Dipilih Marieke Vervoort

Euthanasia adalah masalah moral dan legal yang sudah lama diperdebatkan. Kembali mencuat setelah kematian atlit paralimpik Belgia.
Muhammad Yasin
Ilustrasi suntik mati atau euthanasia. Ilustrator: UCUP

Keperkasaan Marieke Vervoort di lintasan Paralimpik –pesta olahraga sejagat untuk penyandang disabilitas-- London, tujuh tahun silam, tak tertandingi. Ia berhasil menyabet dua medali emas, dan memberikan kebanggaan untuk negara asalnya, Belgia. Di Paralimpik Rio de Janeiro beberapa tahun kemudian, Vervoort kembali mempersembahkan medali untuk negaranya setelah mencapai garis finis.

Tetapi pada Oktober lalu, perempuan 40 tahun itu sudah mencapai ‘garis finis’ untuk selamanya. Tidak ada lagi medali, tidak ada lagi penderitaan. Jika gajah meninggalkan gading, manusia meninggalkan nama. Nama Vervoort ditorehkan dengan manis, dan  akan dikenang sebagai salah seorang atlit paralimpik berprestasi. Keterbatasan tubuhnya tak menjadi penghalang untuk memberikan yang terbaik.

Setelah semua prestasi itu, Vervoort memilih garis finis lain. “Kematiannya sangat menyentuh kami,” begitu pernyataan resmi keluarga setelah dokter memastikan Vervoort menghembuskan nafas terakhir.

Vervoort memilih jalan kematian yang disebut di dunia medis sebagai ‘euthanasia’. Di negaranya, Belgia, euthanasia memang legal. Seseorang dapat memilih untuk mempercepat akhir hidupnya lewat bantuan dokter. Yang memilihnya bukan hanya Vervoort. Euthanasia adalah jalan mengakhiri hidup yang sudah berusia lama, pernah diminta oleh Cleopatra kepada dokter Olympus. Hippocrates, yang dikenal dengan Sumpah Hipokrates, termasuk penentang euthanasia. Sumpah Hipokrates mewajibkan dokter untuk terus berusaha menolong pasien, dan tak memberi obat untuk membantu kematiannya.

Dalam wawancara dengan Associated Press sewaktu Paralimpik Rio de Jenairo 2016, sebagaimana diberitakan Time, Vervoort mengisahkan penderitaan yang dialaminya dan sudah tak bisa disembuhkan. Setiap malam hanya bisa tidur selama 10 menit, penyakit demi penyakit terus mendera. Hanya dengan olahraga ia tetap menjaga asa dalam hidup. “Terlalu berat untuk tubuh saya,” ujarnya.

Meskipun sakit, Vervoort –menyebut dirinya sendiri sebagai crazy lady—berusaha ‘melawan’. Lewat latihan dan pertandingan olah raga, serta mencoba tantangan lain, membuatnya bertahan untuk sementara ditemani si Zenn, anjing labradornya. Namun ketika tubuhnya makin rapuh, dan rasa sakit kian tak tertahankan, Vervoort memilih untuk menjalankan euthanasia. “Kematian tak ubahnya operasi pada Anda, Anda pergi tidur dan tak pernah bangun lagi. Bagi saya, itu sesuatu yang damai,” ujarnya.

Maka, ketika surat pernyataan euthanasia disodorkan ke hadapannya Vervoort langsung meneken persetujuan. “Kalau saya tak punya kertas itu, mungkin saya sudah bunuh diri,” ujarnya seraya mengkampanyekan agar setiap negara punya aturan tentang euthanasia. Belgia, negara asal Vervoort, termasuk yang sudah memperbolehkan euthanasia.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua