Jumat, 20 Maret 2020

Beda Pandang Jaksa dan Kuasa Hukum Novel tentang Dakwaan Penyiram Air Keras

Pelaku didakwa Pasal 355 KUHP. Terdakwa dan penasihat hukum tidak ajukan eksepsi.
Aji Prasetyo
Salah seorang terdakwa kasus penyerangan Novel Baswedan akan duduk di kursi PN Jakarta Utara. Foto: RES

Penuntut umum menganggap dua terdakwa penyiram air keras Novel Baswedan yaitu Rahmat Kadir Mahulette (penuntutan terpisah) dan Ronny Bugis melakukan tindak pidana penganiayaan yang menyebabkan luka berat sesuai surat dakwaan Primer Pasal 355 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 atau subsider 351 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Ancaman hukuman Pasal 355 KUHP maksimal 12 tahun.

Sidang perdana perkara penganiayaan penyidik KPK, Novel Baswedan, berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (19/3). Sidang dipimpin ketua majelis hakim, Djuyamto.

Surat dakwaan ini dianggap janggal oleh Tim Kuasa Hukum Novel. Dalam keterangan tertulis, tim pengacara Novel berpendapat para terdakwa seharusnya dikenakan tuduhan menghalangi penyelidikan, penyidikan dan penuntutan dalam Pasal 21 UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001. Alasannya, apa yang dilakukan para terdakwa menghalangi kinerja Novel yang berprofesi sebagai penyidik kasus korupsi serta dari hasil temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) penyiraman ini memang berkaitan dengan kasus besar yang disidik Novel.

“Padahal dakwaan JPU, yang mengamini motif sakit hati (membenci Novel Baswedan karena dianggap telah mengkhianati dan melawan institusi Kepolisian),  yang disampaikan Terdakwa sangat terkait dengan kerja Novel di KPK. Tidak mungkin sakit hati karena urusan pribadi, pasti karena Novel menyidik kasus korupsi termasuk di kepolisian. Terlebih lagi selama ini, Novel tidak mengenal ataupun berhubungan pribadi dengan Terdakwa maupun dalam menyidik tindak pidana korupsi.,” jelas Tim Kuasa Hukum Novel dalam keterangan tertulis.

Tim yang terdiri dari Arif Maulana perwakilan LBH Jakarta, Saor Siagian, M. Isnur, Kurnia Ramadhana dan penggiat anti korupsi lain juga beranggapan para pelaku juga seharusnya dikenakan Pasal Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana yang ancaman hukumannya seumur hidup atau 20 tahun. Novel disebut hampir saja kehilangan nyawa akibat cairan air keras yang disiramkan masuk ke paru-paru.

Tim juga menyayangkan dalam dakwaan Jaksa tidak ada fakta atau informasi siapa yang menyuruh melakukan tindak pidana penyiraman air keras terhadap novel baswedan. Hal ini pun bertentangan dengan temuan dari Tim Pencari Fakta bentukan Polri yang menyebutkan bahwa ada aktor intektual di balik kasus Novel Baswedan.

Para kuasa hukum Rahmat dan Ronny juga tidak mengajukan eksepsi atas surat dakwaan. Hal ini menurut tim menimbulkan kejanggalan mengapa kuasa hukum yang seharusnya membela klien tetapi tidak menjalankan tugasnya dengan menerima begitu saja surat dakwaan penuntut umum. “Hal ini sangat janggal bagi pengacara ketika tidak menggunakan hak mengajukan eksepsi terhadap dakwaan yang ditujukan kepada Terdakwa,” pungkasnya.

Terkait dengan merebaknya virus Corona Covid-19 juga disinggung oleh tim. Mereka heran mengapa Pengadilan Negeri Jakarta Utara menunjukkan Mahkamah Agung tidak sensitif terhadap ancaman virus corona yang mengancam kesehatan publik. Hal ini dianggap tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah dan sangat beresiko memperluas ancaman penularan virus corona. “Berdasarkan fakta tersebut Tim Advokasi menilai bahwa sidang penyiram air keras terhadap Novel Baswedan tidak lain hanyalah formalitas belaka. Sidang dilangsungkan cepat, tidak ada eksepsi, tidak berorientasi mengungkap aktor intelektual, dan kemungkinan besar berujung hukuman yang ringan”.

Tim kuasa hukum meminta majelis hakim mengadili kasus ini dengan independen dan progresif untuk mengungkap kebenaran materiil dalam kasus Novel Baswedan sehingga persidangan kasus ini dapat memberikan keadilan bagi korban dan masyarakat. Mereka juga meminta Komisi Yudisial, Badan Pengawas Mahkamah Agung, Komisi Kejaksaan, Komnasham, Ombudsman, dan organisasi advokat, Komnas HAM, dan masyarakat untuk aktif memantau seluruh proses persidangan kasus ini.

Didakwa Pasal 355 KUHP

Diketahui Pengadilan Negeri Jakarta Utara menggelar sidang perdana kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan dengan agenda pembacaan surat dakwaan. Penuntut umum dalam dalwaannya menganggap Terdakwa Ronny Bugis melakukan tindak pidana penganiayaan sesuai dengan Pasal 355 KUHP. Ayat (1) Pasal ini menyebutkan Penganiayaan berat yang dilakukan dengan direncanakan terlebih dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun”.

Kronologi peristiwa tersebut bermula pada sekira bulan April 2017, dua anggota kepolisian dari Korps Brimob Rahmat Kadir Mahulette mencari alamat rumah Novel Baswedan dengan maksud untuk diserang dan menimbulkan luka berat sehingga tidak dapat menjalankan pekerjaannya. Dengan alasan karena Rahmat Kadir tidak suka atau membenci Novel karena dianggap telah mengkhianati dan melawan institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

Setelah menemukan alamat Novel, pada 8 April 2017 Ronny meminjamkan sepeda motor Yamaha Mio GT miliknya guna dipergunakan oleh Rahmat untuk mengamati komplek perumahan tempat tinggal Novel. Ia mempelajari rute masuk dan keluar kompleks termasuk rute untuk melarikan diri setelah melakukan penyerangan nanti.

“Pada hari Senin tanggal 10 April 2019 Rahmat Kadir setelah melaksanakan Apel Pagi di Satuan Gegana Korps Brimob Kelapa Dua Depok mengembalikan motor pinjamannya kepada Terdakwa dan sekitar pukul 14.00 WIB Rahmat Kadir Mahulette  pergi ke Pool Angkutan Mobil Gegana POLRI mencari cairan asam sulfat (H2SO4),” ujar penuntut.

Setelah mendapatkan cairan tersebut ia membawa pulang dan dituangkan ke dalam gelas lalu dibungkus dengan plastik hitam. Dan pada Selasa tanggal 11 April 2017 sekitar pukul 03.00 WIB di asrama Gegana Brimob Kelapa Dua Depok, Ronny diminta oleh Rahmat Kadir untuk mengantarkannya ke rumah Novel di Kelapa Gading Jakarta dengan membawa cairan asam sulfat.

Ia pun sempat berkeliling komplek untuk mengamati wilayah tersebut termasuk masjid tempat biasa Novel melaksanakan solat subuh berjamaah. Bahwa sekitar pukul 05.10 WIB Ronny dan Rahmat melihat Novel berjalan keluar dari Masjid Al-Ikhsan menuju tempat tinggalnya. Rahmat pun berkata akan memberikan pelajaran kepada Novel dan meminta Ronny mengendarai pelan-pelan kendaraannya sambil menghampiri Novel.

“Terdakwa (Ronny Bugis) mengendarai sepeda motornya pelan-pelan, dan dan ketika posisi  Rahmat Kadir yang berada di atas motor dan sejajar dengan saksi Novel Baswedan, Rahmat Kadir langsung menyiramkan cairan asam sulfat (H2SO4) tersebut ke bagian kepala dan badan saksi korban Novel Baswedan. Selanjutnya Terdakwa atas arahan Rahmat Kadir langsung melarikan diri dengan mengendarai sepeda motornya dengan  cepat” ujar penuntut.

Atas surat dakwaan ini tim kuasa hukum menyatakan tidak mengajukan eksepsi dan melanjutkan proses persidangan dengan agenda pembuktian. Majelis sudah meminta agar Novel Baswedan dihadirkan di persidangan. Persidangan berikutnya akan digelar pada 2 April mendatang.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua