Pojok MPR-RI

Hidayat Dorong Santri dan Pemuda Islam Berkontribusi untuk Kejayaan NKRI

Peran pemuda, santri, ulama, habaib, dan umat Islam sejak sebelum Indonesia merdeka dan saat diperjuangkan menjadi negara merdeka harus diteruskan oleh para santri dan pemuda Islam masa kini.
Oleh:
Tim Publikasi Hukumonline
Bacaan 3 Menit
Wakil Ketua MPR RI Dr. H. M Hidayat Nur Wahid, MA. Foto: Istimewa.
Wakil Ketua MPR RI Dr. H. M Hidayat Nur Wahid, MA. Foto: Istimewa.

JAKARTA - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Dr. H. M Hidayat Nur Wahid, MA mengingatkan, ada hikmah yang perlu diambil oleh para santri,  pemuda  dan pemuda Islam dengan hadirnya  tiga hari penting, secara berdekatan, yakni Maulid Nabi Muhammad SAW, Hari Santri dan Sumpah Pemuda. Hikmah tersebut adalah para santri dan pemuda Islam dapat melanjutkan peran historis para Bapak dan  Pahlawan Bangsa, dengan memahami kiprah mereka. Santri dan pemuda Islam dapat terus berkontribusi bagi kejayaan bangsa dan negara, meneruskan kiprah pemuda, santri, ulama dan habaib, pendiri bangsa.

“Maulid Nabi jatuh pada 19 Oktober, Hari Santri diperingati pada 22 Oktober, dan Sumpah Pemuda tanggal  28 Oktober. Ada korelasi  yang perlu diambil dari peringatan-peringatan tersebut, yakni, agar peran pemuda, santri, ulama, habaib, dan umat Islam sejak sebelum Indonesia merdeka dan saat diperjuangkan menjadi negara merdeka, dapat diteruskan oleh para santri dan pemuda Islam masa kini. Keteladanan mereka sebagai pahlawan bangsa tetap relevan, bahkan untuk santri dan pemuda di era disrupsi dan pascapandemi sekalipun,” ujar Hidayat pada Webinar Hari Santri yang diselanggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Minggu (24/10/2021).

Para ulama dan santri Indonesia yang ikut mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kata Hidayat  telah menunjukkan  keteladanan Rasulullah SAW dalam berjuang melawan kezaliman (para penjajah). Dan untuk itu mereka siap bekerjasama dengan para pejuang dari latar belakang apapun, sekaligus memberikan keteladanan, menghadirkan kenegarawanan dengan menjaga persatuan dan kesatuan umat dan bangsa. Para ulama, habaib dan santri dari berbagai ormas Islam dan partai Islam (seperti Syarikat Islam, PII, Masyumi), aktif dan produktif menjadi  anggota BPUPK, Panitia Sembilan hingga PPKI. Mereka bahu membahu berjuang bersama tokoh-tokoh bangsa dari berbagai latar organisasi, suku dan agama yang berbeda. Mereka bisa kompromi dan menyepakati dasar negara Pancasila, UUD 1945, bentuk negara NKRI, termasuk memperjuangkan dan menerima disahkannya Departemen Agama pada 3-1-1946.

“Beliau-beliau itu  memberikan keteladanan, dan sukses menghadirkan sejarah yang gemilang. Bukan menunjukkan egosime pribadi maupun kelompok, tetapi menunjukan kenegarawanan, agar bangsa dan negara ini tetap merdeka, bersatu dan berdaulat,” ujarnya.

Selain rapat-rapat pendirian NKRI, kata Hidayat, para ulama, santri dan pemuda juga berjuang secara fisik  memperjuangkan dan mempertahankan Indonesia merdeka. Itu nampak sangat jelas dalam peristiwa heroik “Resolusi Jihad” yang dikumandangkan KH.  Hasyim Asy’ari dan  disambut dengan sangat antusias oleh para kiyai, santri dan pemuda. Peristiwa 22 Oktober 1945 itu kemudian diperingati sebagai Hari Santri.

“Jadi, peringatan Hari Pahlawan  10 November itu sesungguhnya ada korelasinya dengan peristiwa sebelumnya, yakni Resolusi Jihad 22 Oktober. Sehingga pemuda Bung Tomo pada 10 November dengan heroik meneriakan Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, Merdeka, karena tersemangati oleh fatwa dan Resolusi Jihad KH Hasyim Asyari,” ujar Hidayat.

Begitu pula dengan peristiwa bersejarah sebelumnya yaitu Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Selain organisasi pemuda bercorak kedaerahan dan kesukuan, ada pula pemuda yang  menunjukan paham ke-agamaan, yakni Jong Islamieten Bond (Perhimpunan Pemuda Islam). “Para aktivis muda Islam itu bahu membahu dengan pemuda berlatar belakang beragam. Mereka aktif dan produktif ikut menyelenggarakan dan menyepakati materi Sumpah Pemuda, yang menjadi tonggak penting berdirinya Negara Indonesia,” tuturnya.

Menurut Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS),  peristiwa-peristiwa penting tersebut hanya sebagian dari banyak kejadian  bagaimana santri, pemuda, ulama, habaib dan umat Islam berkontribusi positif untuk bangsa dan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, kontribusi ini perlu diteruskan oleh para santri dan pemuda Islam.  Mereka mencintai bangsa dan negara dengan mengenal sejarah santri dan pemuda, agar selalu bersatu, bisa bekerja sama dengan  elemen-elemen bangsa lainnya untuk merealisasikan tujuan Indonesia merdeka, dan menyelamatkan bangsa dari berbagai bentuk neo kolonialisme.

“Sahabat Rasulullah SAW, bernama Ibnu Abbas RA, pernah menyampaikan mengapa dalam Al Quran banyak diungkap sejarah dan cerita-cerita sejarah. Sebabnya, karena kisah-kisah itu sesungguhnya adalah sarana untuk menjadi ibrah (pelajaran) dan menunjukan bahwa memperjuangkan kebenaran dan kemaslahatan itu juga sudah dilakukan generasi sebelumnya dengan berbagai nilai yang diwariskan untuk jadi pembelajaran. Kisah-kisah tersebut tetap relevan bisa menjadi pegangan, dan inspirasi bagi para santri dan pemuda di masa kini dan masa yang akan datang menuju peringatan 1 Abad Indonesia Merdeka,” ujar Hidayat.