Perdata
Apa Itu Mediator dan Tugas-tugasnya
Bacaan 7 Menit

PERTANYAAN
Tolong jelaskan apa yang dimaksud dengan mediator? Lalu, apa tugas mediator? Terima kasih


Bacaan 7 Menit

Tolong jelaskan apa yang dimaksud dengan mediator? Lalu, apa tugas mediator? Terima kasih
Terima kasih atas pertanyaan Anda.
Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran kedua dari artikel dengan judul sama yang dibuat oleh Valerie Agustine Budianto, S.H., dan pertama kali dipublikasikan pada 9 Mei 2022, kemudian dimutakhirkan pertama kali oleh Nafiatul Munawaroh, S.H., M.H, pada 16 Agustus 2023.
Seluruh informasi hukum yang ada di Klinik hukumonline.com disiapkan semata – mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum (lihat Pernyataan Penyangkalan selengkapnya). Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Konsultan Mitra Justika.
Dalam proses mediasi, seorang mediator memiliki peran yang sangat penting. Apa itu mediasi? Menurut KBBI, mediasi adalah proses pengikutsertaan pihak ketiga dalam penyelesaian suatu perselisihan sebagai penasihat.
Lebih lanjut, menurut Christopher W. Moore sebagaimana dikutip oleh Desriza Ratman dalam bukunya berjudul Mediasi Non-Litigasi Terhadap Sengketa Medik dengan Konsep Win-Win Solution, mediasi adalah suatu masalah yang dapat dibantu oleh pihak ketiga yang dapat diterima oleh kedua belah pihak, adil dan tidak memihak serta tidak mempunyai wewenang untuk membuat keputusan, tetapi mempercepat para pihak yang bersengketa agar dapat mencapai suatu keputusan bersama dari masalah yang disengketakan (hal. 133).
Kemudian secara yuridis, berdasarkan Pasal 1 angka 1 Perma 1/2016, mediasi adalah cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan para pihak dengan dibantu oleh mediator. Singkatnya, tugas mediator adalah membantu para pihak mencapai kesepakatan selama proses mediasi berlangsung.
Adapun kelebihan penyelesaian sengketa melalui mediasi adalah dilakukan oleh seorang yang benar-benar dipercaya kemampuannya untuk mempertemukan kepentingan pihak-pihak yang bersengketa. Namun, dalam mediasi tidak terdapat kewajiban dari masing-masing pihak untuk menaati apa yang disarankan oleh mediator. Mediator dalam mediasi tidak mempunyai kekuasaan memaksakan suatu penyelesaian pada pihak-pihak. Mediator membimbing para pihak untuk melakukan negosiasi sampai terdapat kesepakatan yang mengikat para pihak, yang selanjutnya dituangkan dalam suatu perjanjian atau nota kesepakatan.[1]
Lalu, apa yang dimaksud dengan mediator?
Salah satu unsur terpenting dalam mediasi adalah kehadiran mediator. Secara singkat, mediator adalah penengah para pihak yang berselisih atau bersengketa, dimana para pihak sepakat untuk menghadirkan pihak ketiga (mediator) yang independen guna bertindak sebagai penengah dalam perkara.[2]
Kemudian, berdasarkan Pasal 1 angka 2 Perma 1/2016, mediator adalah hakim atau pihak lain yang memiliki sertifikat mediator sebagai pihak netral yang membantu para pihak dalam proses perundingan guna mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa tanpa menggunakan cara memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian.
Dalam Perma 1/2016 ini, artinya, mediator adalah orang yang menjalankan tugasnya di lingkungan pengadilan (hakim) atau dari pihak luar pengadilan. Adapun yang dimaksud dengan hakim mediator adalah hakim yang melaksanakan tugas mediasi berdasarkan penunjukan ketua majelis dan menerima surat keputusan (“SK”) dari ketua pengadilan.[3]
Lebih lanjut, setiap mediator diwajibkan memiliki sertifikat mediator yang diperoleh setelah mengikuti dan dinyatakan lulus dalam pelatihan sertifikasi mediator yang diselenggarakan oleh Mahkamah Agung atau lembaga yang telah terakreditasi dari Mahkamah Agung.[4]
Sertifikat mediator adalah dokumen yang diterbitkan oleh Mahkamah Agung atau lembaga terakreditasi dari Mahkamah Agung yang menyatakan bahwa seseorang telah mengikuti dan lulus pelatihan sertifikasi mediasi.[5]
Namun, dalam situasi tertentu, hakim tidak bersertifikat juga dapat menjalankan fungsi mediator dalam hal tidak ada atau terdapat keterbatasan jumlah mediator bersertifikat dengan syarat adanya surat keputusan ketua pengadilan.[6]
Sebagai informasi, pengangkatan mediator bergantung pada konteks mediasi. Dalam mediasi formal, seperti di pengadilan atau lembaga jasa mediasi, pengangkatan mediator mengikuti aturan perundang-undangan. Namun, untuk mediasi oleh masyarakat, pengangkatannya tidak terikat aturan formal. Pada intinya, mediator harus memenuhi persyaratan kemampuan personal dan pemahaman sengketa. Tanpa itu, mediator akan kesulitan menjalankan tugasnya karena posisi yang lemah dan kurangnya keterampilan yang dibutuhkan.[7]
Menjawab pertanyaan Anda mengenai apa tugas mediator, sesuai dengan Pasal 14 Perma 1/2016, tugas mediator adalah sebagai berikut:
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa tugas mediator adalah membantu merumuskan kesepakatan damai antara para pihak yang bersengketa dengan posisi netral dan tidak dengan cara memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian.
Baca juga: Sanksi bagi Mediator yang Tidak Memberikan Anjuran Tertulis
Setelah mediasi berhasil mencapai kesepakatan, dikeluarkan kesepakatan perdamaian, lalu mediator mengajukannya kepada hakim pemeriksa perkara untuk dikuatkan dalam Akta Perdamaian.[8]
Baca juga: 3 Perbedaan Mediasi dan Arbitrase
Perkaya riset hukum Anda dengan analisis hukum terbaru dwibahasa, serta koleksi terjemahan peraturan yang terintegrasi dalam Hukumonline Pro, pelajari lebih lanjut di sini.
Demikian jawaban dari kami terkait pengertian dan tugas mediator sebagaimana ditanyakan, semoga bermanfaat.
Dasar Hukum:
Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.
Referensi:
[1] Nia Kurniati. Mediasi-Arbitrase untuk Penyelesaian Sengketa Tanah. Jurnal Sosiohumaniora, Vol. 18, No. 3, November, 2016, hal. 213
[2] Dian Maris Rahmah. Optimalisasi Penyelesaian Sengketa Melalui Mediasi di Pengadilan. Jurnal Bina Mulia Hukum, Universitas Padjadjaran, Vol. 4, No. 1, September, 2019, hal. 2
[3] Karmuji. Peran dan Fungsi Mediator dalam Penyelesaian Perkara Perdata, Jurnal Ummul Qura, Vol. VII, No. 1, Maret, 2016, hal. 43
[4] Pasal 13 ayat (1) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan (“Perma 1/2016”)
[5] Pasal 1 angka 3 Perma 1/2016
[6] Pasal 13 ayat (2) Perma 1/2016
[7]Karmuji. Peran dan Fungsi Mediator dalam Penyelesaian Perkara Perdata, Jurnal Ummul Qura, Vol. VII, No. 1, Maret, 2016, hal. 44
[8] Pasal 27 ayat (1) dan (4) Perma 1/2016