Selasa, 08 Oktober 2013
Ada Kredit Bank Jabar untuk Luthfi
Agar proyek di Kementan yang dipimpin kader PKS didapat si pemberi uang.
NOV
Dibaca: 1056 Tanggapan: 0
Ada Kredit Bank Jabar untuk Luthfi
Direktur PT Cipta Inti Parmindo, Yudi Setiawan usai bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta. Foto: NOV

Tersangka Kejaksaan dihadirkan sebagai saksi untuk kasus pidana pencucian uang dengan terdakwa eks Ketua Partai Keadilan Sejahtera, Luthfi Hasan Ishaaq oleh Penuntut Umum KPK di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (7/10). Dia adalah Direktur PT Cipta Inti Parmindo, Yudi Setiawan.

Yudi, tersangka kasus korupsi penyalahgunaan kredit BPD Jabar Banten (BJB) itu mengaku pernah memberikan sejumlah uang kepada Luthfi sekira Rp20 miliar. Uang itu adalah kredit modal yang diterima Yudi dari PT Bank Jabar-Banten yang sebagian untuk ‘ijon’ sejumlah proyek di Kementerian Pertanian (Kementan). Dia tambahkan sebagian besar pemberian pada Luthfi melalui Fathanah.

Yudi menguraikan mulai mengenal Fathanah, sekira Maret 2012 yang kala itu mendatangai kantornya. "Saat itu kami sedang mengikuti proyek pengadaan jagung dan kopi tahun anggaran 2012 di Kementan. Saya sebagai Direktur PT Cipta Terang Abadi (CTA) dan Deni P Adiningrat karyawan di PT CTA," kata Yudi.

Ketika Fathanah datang, Deni meminta uang Rp250 juta untuk diberikan kepada Fathanah. Yudi dapat penjelasan dari Deni uang itu sebagai salam kenal dengan ustad Luthfi.

Beberapa hari kemudian terjadi pertemuan Yudi, Fathanah, Deni, dan Luthfi di Gramedia, Grand Indonesia. Yudi melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa uang Rp250 juta yang diberikan ke Fathanah diserahkan kembali kepada Luthfi. Pertemuan tersebut berlangsung sekitar awal Juni 2012. "Itu pertemuan awal saja. Kami sampaikan dapat dua paket jagung dan satu paket kopidan sudah membayar ke teman-teman Komisi IV. Nah, kami mohon petunjuk dari ustad Luthfi," ujarnya.

Setelah itu, Fathanah sering mendatangi kantor Yudi. Banyak yang dibicarakan, terutama proyek paket pengadaan benih kopi dan jagung di Kementan. Dalam tender sebelumnya, perusahaan Yudi tak mendapat jatah.

Karena itu dia ingin menang dalam tender kopi berikutnya. Selain memberikan Rp250 juta, Yudi menyerahkan langsung cek kontan senilai Rp500 juta kepada Luthfi di Rumah Makan Aliah Raja pada 19 Juni 2012. "Menurut keterangan Ahmad Fathanah, penyerahan yang kedua diperuntukan untuk Gubernur Jabar," tuturnya.

Selanjutnya, Yudi kembali menambah Rp500 juta kepada Luthfi di Lapangan Tembak Senayan pada 6 Juli 2012 . Penyerahan berikutnya sebesar Rp450 juta tidak langsung kepada Luthfi, tapi melalui Fathanah. Yudi mengungkapkan, uang itu diserahkan di kantornya pada 10 Juli 2012 atas sepersetujuan Luthfi.

Akhirnya, PT Cipta Terang Abadi menang dalam tender kopi, sedangkan PT Radina Bio Adicita milik Deni menang dalam tender jagung. Selain itu, Yudi beberapa kali memberikan uang secara transfer dan tunai. Bahkan, Yudi pernah membayarkan Rp165,75 juta untuk 20 setel jas Luthfi dan empat setel jas Fathanah.

Yudi juga pernah membayarkan Rp336 juta untuk uang muka pembelian mobil Toyota FJ Cruiser untuk Luthfi. "Terus, ada permintaan Pak Luthfi, Rp2 miliar kontan, diambil Fathanah di apartemen saya, 24 Agustus 2012. Uang itu untuk THR DPP PKS. Sebelumnya saya sudah berkoordinasi dulu dengan Pak Luthfi," jelasnya.

Uang Rp2 miliar itu bersumber dari Bank Jabar Banten (BJB). Pada awalnya adalah kredit dari BJB yang disalurkan ke beberapa perusahaan. Saat Fathanah datang ke kantornya, Yudi pernah meminta Fathanah menandatangani tanda terima. Kemudian, Yudi memberikan Rp1 miliar pada 25 September 2012 untuk membiayai tiket perjalanan rombongan PKS ke Istambul, Turki. Yudi kembali memberikan Rp200 juta kepada Fathanah dan Elda untuk diserahkan ke Direktur Serelia. Menurut Yudi, uang Rp200 juta itu dimintakan kepadanya atas perintah Luthfi.

Yudi memberikan lagi uang Rp20 juta melalui transfer ke rekening anak Luthfi bernama M D Rabbani. "Ada lagi, AS$30 ribu. Ini permintaan Fathanah. Saya serahkan ke Fathanah pada bulan September 2012. Katanya kasnya Anis Matta kosong. Saya tanya waktu itu, memang sudah persetujuan Pak Luthfi," terangnya.

Ia menambahkan, masih banyak uang yang diberikan ke Fathanah sebagai booking fee proyek-proyek di Kementan. Seperti, proyek bio dekomposer, benih jagung, pupuk NPK, dan pupuk bio hayati dengan nilai proyek sebesar Rp452,6 miliar. Yudi menyerahkan satu persen atau senilai Rp4,526 untuk ijon proyek.

Ada lagi proyek pengadaan kopi dan teh senilai Rp189 miliar. Yudi transfer Rp1,9 miliar dalam bentuk dolar Singapura ke rekening Fathanah. Selain itu, proyek pengadaan cabai, kentang, dan pisang, Yudi menransfer Rp900 juta. Untuk proyek land tractor dan laboratorium pertanian, Yudi menyerahkan Rp2 miliar ke Fathanah.

Tapi, Yudi belum mendapatkan proyek tersebut. Ia baru mendapat informasi mengenai proyek-proyek dari Fathanah. "Tapi semuanya disetujui Pak Luthfisebagai penentu kebijakankarena jabatannya Presiden PKS," katanya.

Deni yang bersaksi bersamaan dengan Yudi menyatakan, pernah bertemu dengan Yudi, Fathanah, dan Luthfi di Grand Indonesia. Namun, ia tidak melihat ada penyerahan uang Rp250 juta kepada Luthfi. "Mungkin waktu itu saya keluar sebentar, tapi seingat saya tidak ada penyerahan uang," ujarnya.

Menanggapi keterangan Yudi, Luthfi menyatakan, pertama, tak memiliki jas sebanyak 20 setel. Kedua, dari 15 anaknya tak ada yang bernama M D Rabbani. Ketiga, biaya ke Istambul berasal dari PKS. Dia membantah menerima Rp250 juta di Grand Indonesia. Kelima, Luthfi membenarkan pernah menerima cek kontan dari Yudi sebagai sumbangan untuk Pilkada PKS di Jakarta.

Mengenai mobil FJ Cruiser, Luthfi membantah meminta Yudi membayarkan uang muka. Memang dia berniat membeli dengan uangnya sendiri untuk safari dakwah di Sumatera. Entah mengapa, Fathanah tidak mau menerima uang dari Luthfi. karena itu Luthfi mengembalikan mobil FJ Cruiser dan membeli mobil lain dengan uangnya sendiri.

Mengenai uang-uang lain yang diberikan Yudi melalui Fathanah, Luthfi mengaku tidak menerima sepeser pun. "Saya juga membantah THR Rp2 miliarkarena PKS tidak pernah ada THR begitu. Itu sudah di-handle bendahara partai. THR diberikan kepada karyawan tetap yang ada di kantor," tandasnya.

Belum ada tanggapan
NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.