Senin, 23 Mei 2016
Dibaca: 18642
Pertanyaan :
Pencabutan Laporan Tentang Pencabulan
Bagaimana kalau istri melaporkan suaminya ke polisi bahwa suaminya melakukan perbuatan cabul ke anak titipan (anak dari adik istri) dan setelah divisum ada bukti, dan suaminya mengaku, tapi laporannya dicabut oleh istrinya bagaimana prosesnya di kepolisian sampai suaminya keluar/bebas?  
Jawaban :
 

Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul yang samayang dibuat oleh Diana Kusumasari, S.H., M.H. dan pertama kali dipublikasikan pada Sabtu, 19 November 2011.

 

Intisari:

 
 

Tidak ada keharusan bagi delik pencabulan terhadap anak untuk diadukan oleh korbannya. Dengan demikian, delik pencabulan terhadap anak merupakan delik biasa, bukan delik aduan. Delik biasa dapat diproses tanpa adanya persetujuan dari yang dirugikan (korban). Oleh karena pencabulan merupakan delik biasa, bukan delik aduan, maka proses perkara pencabulan tersebut tetap akan diproses, walaupun sudah ada pencabutan laporan dari si istri (pelapor), korban maupun keluarga korban.

 

Penjelasan lebih lanjut, silakan baca ulasan di bawah ini.

 
 
 

Ulasan:

 

Tindak pidana pencabulan terhadap anak ini patut menjadi perhatian bagi kita semua, terutama orang tua. Dalam lembar informasi di www.lbh-apik.or.id, yang berjudul Penyalahgunaan Seksual Terhadap Anak-anak antara lain dijelaskan cara-cara pelaku dalam melakukan tindak pidananya, antara lain:

1.    Pelaku akan memilih anak-anak yang mempunyai hubungan dekat dengannya sehingga pelaku mengetahui kondisi anak-anak serta memiliki akses terhadap anak-anak. Tetapi tidak tertutup kemungkinan pelaku juga orang yang tidak dikenal korban.

2.    Membujuk anak-anak dengan sesuatu yang sangat disukai anak-anak, seperti permen, uang atau es krim.

3.    Berlangsung di kediaman anak-anak tersebut atau di tempat tinggal pelaku dan umumnya pelaku tidak menggunakan kekerasan fisik.

4.    Pelaku akan melakukannya secara terus menerus dalam waktu yang cukup lama.

5.    Pelaku mengancam agar anak-anak tidak menceritakan kejadian itu kepada siapapun. Ini adalah faktor utama penyebab anak-anak tetap membisu.

 

Terkait laporan si istri yang dicabut dan bagaimana kelanjutan proses perkaranya, harus dilihat terlebih dahulu apakah ketentuan pidana terkait pencabulan anak adalah delik biasa atau delik aduan.

 

Dalam delik biasa perkara dapat diproses tanpa adanya persetujuan dari yang dirugikan (korban). Jadi, walaupun korban telah mencabut laporannya kepada pihak yang berwenang, penyidik tetap berkewajiban untuk memproses perkara tersebut.

 

Berbeda dengan delik biasa, delik aduan artinya delik yang hanya bisa diproses apabila ada pengaduan atau laporan dari orang yang menjadi korban tindak pidana. Menurut Mr. Drs. E Utrecht dalam bukunya Hukum Pidana II, dalam delik aduan penuntutan terhadap delik tersebut digantungkan pada persetujuan dari yang dirugikan (korban). Pada delik aduan ini, korban tindak pidana dapat mencabut laporannya kepada pihak yang berwenang apabila di antara mereka telah terjadi suatu perdamaian.

 

Bagaimana dengan pencabulan anak tersebut? Jika usia si korban belum mencapai 18 tahun, maka si pelaku dapat dijerat dengan Pasal 76E jo. Pasal 82 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (“UU 35/2014”) yang berbunyi:

 

Pasal 76E UU 35/2014:

Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkandilakukan perbuatan cabul.

 

Pasal 82

(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

 

Dari rumusan di atas, terlihat bahwa tidak ada keharusan bagi delik ini untuk diadukan oleh korbannya. Dengan demikian, delik pencabulan terhadap anak merupakan delik biasa, bukan delik aduan. Delik biasa dapat diproses tanpa adanya persetujuan dari yang dirugikan (korban). Oleh karena pencabulan merupakan delik biasa, bukan delik aduan, maka proses perkara pencabulan tersebut tetap akan diproses, walaupun sudah ada pencabutan laporan dari si istri (pelapor), korban maupun keluarga korban. Lebih jauh terkait delik aduan dan delik laporan, dapat dibaca dalam artikel Adakah Delik Aduan yang Tetap Diproses Meski Pengaduannya Sudah Dicabut?

 

Jadi, seharusnya polisi tetap memproses si tersangka meski si pelapor telah mencabut laporannya.

 

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 
Dasar Hukum:

 

Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014.

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
MITRA : Bung Pokrol
Letezia Tobing mendapatkan gelar sarjana hukum dari Universitas Indonesia pada 2011 dengan mengambil Program Kekhususan IV (Hukum tentang Kegiatan Ekonomi), dan gelar Magister Kenotariatan dari Universitas Indonesia pada 2015.