Sabtu, 19 November 2011
Dibaca: 17039
Pertanyaan :
Pencabutan Laporan Tentang Pencabulan
Bagaimana kalau istri melaporkan suaminya ke polisi bahwa suaminya melakukan perbuatan cabul ke anak titipan (anak dari adik istri) dan setelah divisum ada bukti, dan suaminya mengaku, tapi laporannya dicabut oleh istrinya bagaimana prosesnya di kepolisian sampai suaminya keluar/bebas?  
Jawaban :

 

Jika usia si korban belum mencapai 18 tahun, maka si pelaku dapat dijerat dengan Pasal 82 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (“UU 23/2002”) yang berbunyi:

 

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).

 

Dari rumusan Pasal 82 UU 23/2002 di atas, terlihat bahwa tidak ada keharusan bagi delik ini untuk dilaporkan oleh korbannya. Dengan demikian, delik pencabulan terhadap anak merupakan delik biasa, bukan delik aduan. Delik biasa dapat diproses tanpa adanya persetujuan dari yang dirugikan (korban). Oleh karena pencabulan tersebut merupakan delik biasa, bukan delik aduan, maka proses perkara pencabulan tersebut tetap akan diproses, walaupun sudah ada pencabutan laporan dari Anda, korban maupun keluarga korban. Lebih jauh baca Pencabulan Terhadap Anak.

 

Tindak pidana pencabulan terhadap anak ini patut menjadi perhatian bagi kita semua, terutama orang tua. Dalam lembar informasi di www.lbh-apik.or.id, yang berjudul Penyalahgunaan Seksual Terhadap Anak-anak antara lain dijelaskan cara-cara pelaku dalam melakukan tindak pidananya, antara lain:

1.         Pelaku akan memilih anak-anak yang mempunyai hubungan dekat dengannya sehingga pelaku mengetahui kondisi anak-anak serta memiliki akses terhadap anak-anak. Tetapi tidak tertutup kemungkinan pelaku juga orang yang tidak dikenal korban

2.         Membujuk anak-anak dengan sesuatu yang sangat disukai anak-anak, seperti permen, uang atau es krim.

3.         Berlangsung di kediaman anak-anak tersebut atau di tempat tinggal pelaku dan umumnya pelaku tidak menggunakan kekerasan fisik.

4.         Pelaku akan melakukannya secara terus menerus dalam waktu yang cukup lama.

5.         Pelaku mengancam agar anak-anak tidak menceritakan kejadian itu kepada siapapun. Ini adalah faktor utama penyebab anak-anak tetap membisu.

 

Jadi, seharusnya jika korban pencabulan adalah anak yang usianya belum mencapai 18 tahun maka seharusnya polisi tetap memproses si tersangka meski si pelapor telah mencabut laporannya.

 

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 

Dasar hukum:

Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

 

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

 

 

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
MITRA : Bung Pokrol
Saat ini sudah tidak bekerja di Hukumonline. Namun dulu pernah bergabung di Divisi Klinik.