Jumat, 17 Juni 2011
Dibaca: 283363
Pertanyaan :
Sahkah Perkawinan Jika Wali Nikah Bukan Orang Tua Mempelai Wanita?
Saya pacaran serius dengan seorang cowok. Orang tua cowok saya ingin segera melamar saya sementara saya masih kuliah. Saya sih tak masalah, tapi orang tua saya sudah menteror cowok saya agar tak pacaran dengan saya lagi. Apakah sah jika saya dan cowok saya ini menikah di KUA (kami berdua muslim), tapi saksi dan wali bukan orang tua saya?
Jawaban :

Dari cerita Anda, kami dapat simpulkan bahwa hubungan Anda dengan pacar Anda tidak disetujui orang tua Anda. Padahal, seperti Anda ceritakan, hubungan Anda berdua sudah menuju ke jenjang pernikahan.

 

Sebelum membahas pernikahan tanpa persetujan orang tua, ada baiknya kita mengetahui syarat-syarat perkawinan, yaitu:

1.      Harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai;

2.      Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua orang tua/salah satu, bila ternyata orangtua ada yang sudah meninggal atau wali bila ternyata kedua orang tua sudah tidak ada.

 

Kedua hal tersebut diatur dalam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) Undang-undang Perkawinan Tahun 1974 ("UU 1/1974").

 

Jadi, berdasarkan ketentuan di atas jika usia Anda sudah mencapai 21 tahun maka Anda tidak perlu persetujuan orang tua untuk menikah. Tapi, jika usia Anda kurang dari 21 tahun maka Anda harus mendapatkan persetujuan orang tua untuk menikah. Jika orang tua Anda tidak menyetujui perkawinan tersebut, maka Anda dapat meminta izin dari Pengadilan dalam daerah tempat tinggal Anda. Pengadilan dapat memberikan izin menikah setelah mendengar pendapat dari orang tua Anda (lihat Pasal 6 ayat [2] UU 1/1974).

 

Kemudian, mengenai sahnya perkawinan, Pasal 2 UU 1/1974 menyatakan bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Menurut hukum Islam, seperti diatur dalam Pasal 14 Kompilasi Hukum Islam (“KHI”), untuk melaksanakan perkawinan harus ada;

a. Calon suami
b. Calon Istri
c. Wali Nikah
d. Dua orang saksi, dan
e. Ijab dan kabul
 

Jadi, menurut hukum Islam, kelima syarat tersebut di atas harus dipenuhi agar perkawinan sah.

 

Mengenai syarat wali nikah, wali nikah merupakan rukun yang harus dipenuhi bagi calon mempelai wanita yang bertindak untuk menikahkan (lihat Pasal 19 KHI). Yang bertindak sebagai wali nikah ialah seorang laki-laki yang memenuhi syarat hukum Islam yakni muslim, aqil dan baligh (lihat Pasal 20 ayat [1] KHI).

 

Jika karena satu atau lain alasan orang tua, dalam hal ini ayah Anda, tidak bisa atau tidak mau menjadi wali nikah Anda, maka Anda dimungkinkan untuk meminta kerabat Anda yang lain yang memenuhi syarat untuk menjadi wali nikah. Lebih jauh Anda dapat simak boks mengenai kelompok-kelompok wali nikah berikut:

 
Boks: Kelompok-kelompok Wali Nikah
 
Wali nikah terdiri dari:
1.      wali nasab (kerabat) dan
2.      wali hakim
(lihat Pasal 20 KHI).
 

Wali nasab terdiri dari empat kelompok dalam urutan kedudukan, kelompok yang satu didahulukan dari kelompok yang lain sesuai erat tidaknya susunan kekerabatan dengan calon mempelai wanita;

1.      Kelompok kerabat laki-laki garis lurus keatas yakni ayah, kakek dari pihak ayah dan seterusnya.

2.      Kelompok kerabat saudara laki-laki kandung, atau saudara laki-laki seayah, dan keturunan laki-laki mereka.

3.      Kelompok kerabat paman, yakni saudara laki-laki kandung ayah, saudara seayah dan keturunan laki-laki mereka.

4.      Kelompok saudara laki-laki kandung kakek , saudara laki-laki seayah kakek dan keturunan laki-laki mereka.

(lihat Pasal 21 KHI)
 

Sementara, wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah apabila wali nasab tidak ada atau tidak mungkin menghadirkannya atau tidak diketahui tempat tinggalnya atau gaib atau adlal atau enggan (lihat Pasal 23 ayat [2] KHI).

 
 

Mengenai saksi, yang dapat ditunjuk menjadi saksi dalam akad nikah ialah seorang laki-laki muslim, adil, akil baligh, tidak terganggu ingatan dan tidak tuna rungu atau tuli. Jadi, siapapun yang memenuhi syarat tersebut, maka dapat menjadi saksi nikah Anda.

 

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sepanjang Anda telah berusia 21 tahun, Anda dapat menikah tanpa persetujuan orang tua. Dalam hal ayah Anda tidak mau menjadi wali nikah, Anda dapat meminta kerabat Anda yang memenuhi syarat untuk menjadi wali nikah. Dan perkawinan tersebut sah sepanjang semua syaratnya dipenuhi. Tapi, di sisi lain, jika Anda belum mencapai 21 tahun maka Anda memerlukan persetujuan orang tua atau izin dari pengadilan untuk menikah.

 

Demikian jawaban kami. Semoga bermanfaat.

 

Dasar hukum:

1.      Undang-Undang Perkawinan Tahun 1974

2.      Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam

 

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
PENJAWAB : Amrie Hakim, S.H.
MITRA : Bung Pokrol
Amrie Hakim menyelesaikan program S1 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada 2000. Pada tahun itu juga dia bergabung dengan hukumonline.com sebagai peneliti, kemudian menjadi jurnalis sampai dengan 2005. Setelah beberapa tahun bekerja di tempat lain, pada 2008 Amrie kembali berkarya di hukumonline.com sebagai Pengelola dan Editor Klinik Hukum. Saat ini, Amrie menjabat sebagai News & Content Director.   Di saat senggang dia mengisi waktunya dengan membaca, menonton film, menulis, dan bersantai bersama keluarga. Amrie menggemari novel-novel hukum dan kriminal.   Follow Amrie di twitter: @amriehakim