Senin, 04 Januari 2010
Dibaca: 55565
Pertanyaan :
Perceraian Agama Katolik
Saya sudah menikah selama 12 tahun dg 1 putri melalui perkawinan secara agama Katolik. Saya & suami sdh pisah rumah sekitar 3 tahun lebih dengan anak ikut suami. Apakah bisa dilaksanakan perceraian tanpa perlu persetujuan dari agama ? Bagaimana cara mengurusnya? Apakah bisa perceraian diajukan oleh istri? Apakah suami harus dihadirkan? Bagaimana tentang hak asuh anak?
Jawaban :

Sejauh yang kami tahu, tidak ada perceraian dalam agama katolik. Artinya, gereja tidak mengakui perceraian suami-istri katolik di pengadilan sesuai ketentuan pasal 39 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Perceraian di pengadilan dianggap tidak sah oleh hukum katolik. Secara gerejani, keduanya masih dianggap suami-istri meski masing-masing telah menikah dengan orang lain.

 

Mengenai hal ini kita bisa menyimak uraian dari Dr. Al Purwa Hardiwardoyo dalam buku “Perkawinan Menurut Islam dan Katolik: Implikasinya dalam Kawin Campur” berikut: “Dalam praktik, kekuasaan untuk menceraikan perkawinan diberikan oleh hukum gereja kepada Paus di Roma. Terutama bila perkawinan itu menyangkut perkawinan yang telah disahkan secara katolik, entah antara dua orang kristen, entah antara seorang kristen dan seorang bukan kristen. Uskup hanya diberi kekuasaan untuk mengizinkan perceraian dari perkawinan non-gerejawi antara dua orang bukan kristen, berdasarkan ‘privilegi Paulus’”.

 

Dalam buku yang sama Hardiwardoyo juga menjelaskan bahwa secara teori istri katolik dapat memohon agar Paus di Roma berkenan menceraikannya dari suaminya. Tetapi dalam praktik permohonan itu jarang sekali dikabulkan. Sebab secara prinsip gereja katolik menentang setiap perceraian.

 

Meski demikian, dalam hukum katolik dikenal prosedur pembatalan perkawinan (anulasi). Akibat hukum dari pembatalan perkawinan menurut hukum gereja adalah kedua pihak yang telah dibatalkan perkawinannya dapat menikah lagi. Berikut adalah prosedur pengurusan pembatalan perkawinan yang kami sarikan dari situs gerejastanna.org:

 

1.      Untuk mengurus pembatalan perkawinan gerejani, Anda musti datang ke pastor paroki Anda. Kemudian Anda akan dibantu untuk membuat dokumentasi yang perlu sebelum kasus anda dibawa ke pengadilan gerejani.

2.      Pastor paroki Anda akan melihat apakah ada alasan cukup untuk membawa kasus anda ke pengadilan gerejani.

3.      Untuk menikah lagi secara Katolik, sahnya perkawinan yang pertama musti dibatalkan dulu di pengadilan gereja.

4.      Kalau tidak cukup ditemukan alasan, Anda tidak bisa melangsungkan perkawinan lagi secara katolik. Artinya, meskipun sudah cerai secara sipil, secara gerejani Anda tetap masih terikat dengan istri Anda meskipun ia sudah menikah lagi.

 
Demikian sejauh yang kami ketahui. Semoga bermanfaat.

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
PENJAWAB : Dinna Sabriani
Saat ini sudah tidak bekerja di Hukumonline. Namun dulu pernah bergabung di Divisi Klinik.